Pages

KETIKA 'HARGA TUHAN' BERLAKU

Dalam sebuah perkuliahan "Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam", saya terlibat diskusi menarik dengan dosen, presentator dan penanya. Kali ini yang kita bahas adalah "Pemikiran Abu Yusuf". Beliau adalah pengarang Kitab Al-Kharraj, atau lebih mudahnya membahas pajak tanah/pertanian. Namun ada juga pemikiran Abu Yusuf yang membahas ekonomi secara umum.
Dalam diskusi tersebut, ada seorang penanya yang bertanya,"Dalam sebuah Hadits Rasulullah tidak mau menentukan harga ketika inflasi sdg tinggi. Beliau berkata, biar Allah yang menentukan harga. Bagaimana mungkin Allah menentukan harga, sedangkan Allah tidak pernah mengatakan harga barang secara tekstual pada manusia?". Pertanyaan yang cukup menarik.
Iya, memang betul ada hadits Rasulullah tentang dilarangnya intervensi harga.
Wahai Rasulullah barang-barang di kota Madinah mengalamai kenaikan harga" keluh seorang sahabat Nabi suatu hari, "tentukanlah harga" ia melanjutkan. Mendengar hal ini Nabi Muhammad -shalallahu 'alaihi wa sallam- tidak lantas melakukan penentuan harga, namun memberikan sebuah wejangan bijak: "sesungguhnya Allah lah yang menjadikan harga naik atawa turun," setelah itu beliau kembali dipinta untuk menentukan harga, dan beliau memerintahkan sahabat untuk berdoa kepada Allah. (HR. Tirmidzi).

Lantas apa sebenarnya yang dimaksud dengan Harga Tuhan ini? Apakah harga tekstual yang ditentukan Allah? Jelas tidak, dan tidak mungkin juga.
Maka disinilah letak briliannya Abu Yusuf. Beliau berkata,"Disaat persediaan barang banyak, kadang-kadang harga tetap mahal. Dan ketika persediaan barang sedikit, kadang-kadang harga tetap murah".
Sebuah analisa yang cerdas.
Abu Yusuf tahu betul bahwa harga itu tidak semata-semata ditentukan oleh banyak sedikitnya persediaan barang. Tapi ada faktor lain, yaitu kekuatan permintaan dan penawaran dari konsumen. Dengan landasan ini, jelas sekali bahwa teori ekonomi konvensional terpatahkan.
Disisi lain, Ibnu Taimiyah pun berpendapat tentang harga pasar. "Tingginya harga barang ditentukan oleh sedikitnya persediaan barang, dan bencana alam. Tapi jika pemerintah sudah berperan dan harga tetap tinggi, maka serahkan saja ke Allah".
Dan secara tidak langsung, Adam Smith pun mempercayai adanya "Invisible Hand" dalam harga. Secara tidak langsung ia mengakui adanya kekuatan gaib yang mempengaruhi harga. Itulah yang disebutkan Rasulullah bahwa biarkan harga ditentukan Allah. Ada harga Tuhan berlaku disini.
Dan penguraian diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa ada penentu harga sebenarnya. Dialah Allah. Harga Tuhan berlaku dari jumlah persediaan dan kekuatan penawaran. Ada faktor alam dan manusia berlaku disini. Jika ada orang yang pandai menawar, bisa jadi harga bisa rendah meskipun persediaan barang banyak. Dan titik kesepakatan harga itulah yang kita sebut dengan titik equlibrium/titik kesepakatan. Atau bahasanya syariahnya titik saling ridho (An-Nisa:29). Selanjutnya berlakulah harga Tuhan.
Wallahu a'lam bish-shawaab.

Depok, 20 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment