Pages

IJINKAN AKU MENGENALMU, PSIKOLOGI

Tiga tahun lalu, masih ingat betul dalam pikiran bahwa aku ingin menjadi psikolog. Sehingga tak heran bila aku mencantumkan pilihan pertama SNMPTN Undanganku saat itu dengan memilih jurusan “Psikologi UGM”. Ya, UGM adalah kampus impianku sejak masih duduk di bangku kelas 2 MA. Sedangkan psikologi, entahlah, tak jelas betul mengapa aku memilih jurusan ini. Namun satu hal yang ku kenang, aku ingin menjadi pendengar yang baik bagi kawan-kawanku.
                Namun kenyataan berkata lain, bunga takdir mengarahkanku menjadi mahasiswa jurusan perbankan syariah di sebuah kampus yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, STEI SEBI. Seiiring berjalannya waktu, aku menikmati posisiku sebagai mahasiswa yang konsen membahas ekonomi syariah di setiap perkualiannya. Dan impianku menjadi psikolog pun, terbenam.
                Sungguh pun begitu, dalam hati kecilku tetap saja panggilan untuk memahami perihal psikologi ini. Kalaupun tidak menjadi mahasiswa jurusan tersebut, setidaknya aku ingin tahu apa output dari pendalaman materi dibidang ini. Sederhana memang, aku mengartikan psikologi sebagai ilmu untuk memahami pikiran dan cara berpikir orang. Ya, itulah pemahaman umum bagi orang yang tak begitu mendalami apa psikologi itu sebenarnya. Tapi apakah itu definisi yang sebenarnya? Entahlah, hanya seorang psikolog yang tahu jawabannya.

                Hingga pada akhirnya aku mengenal teori Sigmund Freud, seorang yang bisa dianggap sebagai syaikh dalam ilmu psikologi. Dalam teori psikoalaitiknya, Freud membagi kepribadian menjadi 3 bagian yakni id, ego dan superego. Istilah ini aku kenal dari dari sahabat yang memang menekuni bidang psikologi. Tapi apakah psikologi yang aku pahami dan dia dalami sama? Entahlah.
                Syaikh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdadi berkata, “Kalau kau berada di rumah hikmah, maka carilah seorang dokter yang dapat menyembuhkan hatimu”. Pemaknaan bagi syaikh Abdul Qadir adalah mencari dokter penyembuh hati. Makna lainnya adalah, kita mesti mencari orang yang dapat member kita nasihat hikmah kepada orang yang paham gejala hati. Siapa yang tahu gejala hati? Yakni orang yang dekat dirinya dengan penciptanya.
            Pemahaman itu diperkuat dengan firman Allah dalam surat Ar-Ra’du ayat 28, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Allah menjelaskan bahwa ketentraman ‘hanya’ muncul ketika kita berdzikir (ingat) kepada-Nya. Itulah rumus untuk menenangkan hati.
                Mengingat Allah dapat dilakukan dengan mensyukuri nikmat-Nya, berdzikir dan berdo’a, maupun dengan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Quran. Allah kembali berfirman dalam surat Yunus ayat 57, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Kalau psikologi diartikan dengan ketentraman hati, maka itulah beberapa rumus dan solusinya. Namun, sangat mungkin pemaknaan psikologi yang ku pahami ini berbeda dengannya dan para psikolog mapan lainnya. Pada akhirnya aku ingin bahasan ini dengan kalimat, “Dik, ijinkan aku memahami psikologi dengan caraku sendiri.” Wallahua’lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment