Pages

KETIKA EKONOMI ISLAM BERJAYA

Tulisan saya kali ini bukan bermaksud untuk bernostalgia. Yaitu hanya menceritakan kegemilangan yang pernah diraih Islam pada masanya. Saya ingin mengungkapkan sebuah keoptimisan, sebab sejarah ini pernah terjadi dahulunya. Dan saya haqqul yaqin ini akan terulang lagi, dan menunggu waktu yang tepat saja.
Baiklah, pembaca yang budiman. Istilah Ekonomi Islam sendiri baru muncul pada awal 1970-an. Saat itu keresahan ulama memuncak dengan transaksi perbankan yang bertentangan dengan syariat Islam. Ya, sebab Islam melarang adanya praktir seperti riba (baca : bunga bank), gharar (ketidakjelasan), tadlis (penipuan), maisyir (judi), dan lainnya. Maka pada tahun 1975 lahirlah Bank Syariah Internasional yang bernama Islamic Development Bank (IDB). Bank Islam tersebut berpusat di Saudi Arabia.

Sejak saat itu, orang Islam yang mengerti syariat mulai beralih ke Bank Islam. Tapi bagi orang yang mencari profit, tentu mereka masih berfikir untuk beralih ke Bank Islam. Pun di Indonesia, muncullah Bank Syariah pertama tahun 1992, Bank Muamalat. Setelah krisis melanda, dan terbukti Bank Muamalat tahan krisis, barulah masyarakat mulai berpindah ke Bank Syariah. Pertimbangannya apa? Analisa penulis, masyarakat mulai sadar syariah. Atau alasan kedua mungkin lebih bisa diterima, masyarakat ingin dananya lebih aman.

Itu di sektor perbankan. Barangkali pembaca sudah mahfum dengan hal itu. Hemat penulis sendiri, Ekonomi Islam akan dianggap sukses jika berhasil menaikkan ekonomi rakyat. Indikatornya, berkurangnya kemiskinan, bertambahnya masyarakat kelas menengah dan atas, kenyamanan dalam beribadah, dan pembangunan daerah yang merata.
Maka, sektor perbankan hanya segelintir dibanding banyak instrumen dan dibawa Islam dalam bidang ekonomi. Instrumen lain yang sangat perlu dimasukkan adalah zakat, infak, wakaf, shadaqah, hadiah, investasi halal, jual beli halal, industri halal, dan lainnya. Intinya, kita jangan terpaku pada perbankan saja.
Baiklah, jika kita membaca sejarah, maka ekonom syariah pasti akan familiar dengan nama Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kenapa? sebab beliau berhasil merubah wajah perekonomian Islam dalam waktu singkat. Hanya kurang dari 29 bulan, beliau bisa membuat masyarakatnya sejahtera. Apa yang membuat ini terjadi? Sebab beliau menghidupkan ruh ekonomi Islam secara serentak dan menyeluruh.
Jika kita menganalisa, ada semacam anomali. Sebab pajak yang sebelumnya ditetapkan 2000 keping emas pertahun bagi non muslim berkurang jadi 200 keping emas. seharusnya ini tentu akan mengurangi pendapatan pemerintah di bidang pajak. Tapi inilah ajaib dan berkahnya.
Langkah pertama yang dilakukan Khalifah Umar II adalah meninggalkan kefoya-foyaan. Dia menarik kembali semua kemewahan dirinya dan keluarga kekayaan dan dimasukkan ke Baitul Maal. Ini langkah cerdas pertama, kas pun meningkat.
Kedua, membuat kondisi negara menjadi kondusif. Memang pajak non muslim berkurang sama 90%. Tapi hal itu kemudian tercover oleh warga itu sendiri. Sebab masyarakat non muslim banyak yang menjadi muallaf. Sehingga kewajiban bayar jizyah (pajak bagi non muslim) beralih menjadi kewajiban membayar zakat. Sekali lagi, kas baitul maal bertambah.
Ketiga, birokrasi dan risywah yang terus diperangi. Dengan langkah ini, memungkinkan khalifah untuk turun langsung ke raktyat. Maka khalifah bisa langsung memimpin motivasi ke rakyat untuk memajukan investasi dan jual beli yang halal. Kesadaran masyarakat untuk malu menjadi orang miskin pun meningkat.
Langkah jitu tersebut membuahkan hasil. Sejatah mencatat, pembantu khalifah kebingungan menjadi orang yang layak menerima zakat. Bahkan sampai para pembantu tersebut menjelajahi daratan Afrika, tak satupun orang yang mau menerima bantuan dan zakat dari negara. Rakyat sejahtera. Hal unik lainnya, akhirnya negara membayar hutang pribadi rakyat dan menanggung biaya pernikahan bagi pasangan yang tidak memiliki modal. Subhanallah. Allahu Akbar.
Akhirnya penulis menyimpulkan, "Ketika Ekonomi Islam berjaya, Rakyat pun Sejahtera".
Semoga sejarah itu kembali terulang. Aamiiiiin.
Wallahu a'lam bish-showab.

Depok, 12 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment