Pages

DULU YANG KURINDU

 Juli 2007, rasanya air mata bahagia ini ingin tumpah saja kalau mengenang masa itu. Pagi itu panas terik yang menimpa kulit sawo matangku, sudah setengah tujuh dan sejam lagi aku akan upacara perdana di lapangan baruku. Dengan mantap aku memakai seragam putih biru dongker lengkap dengan topi yang bergambar mushaf Al Qur’an danlengkap dengan tulisan ‘Ikhlas Beramal”. Aku pun naik angkot warna putih.
“Pai kama diak?”
“Oh da, awak nak pai ka MTsN Koto Nan Ampek da.”
“Onde, jadi adiak sakolah disitu tu?”
“Iyo da, baru masuak da.”
“Oh yo lah, kalau baitu uda pacapek an laju oto ko.”
“Makasih da, kebetulan ampek puluah limo minik lai wak ka masuak lai.”
“Yo diak, tanang se lah disitu.”
          Setengah jam berlalu, sepanjang perjalanan riuhan angin sengaja melambai-lambai kepadaku. Panas terik yang tadi aku rasakan langsung dinetralisir oleh jutaan butiran angin yang tak terlihat. Rambut hitamku yang tadinya tertidur, sekarang sudah tegak berdiri berkat terjangan angin pagi yang menimpa kepalaku. Angkot putih memutar dan akhirnya aku sampai di depan Masjid Muhammadiyah Ansharullah. Dua menit kemudian angkot biru bertuliskan “Archimedes” menghampiriku. Setelah menunggu penumpangnya penuh angkot pun berangkat. Hanya sepuluh menit dan kini aku berdiri digerbang MTsN Payakumbuh, sering juga orang menyebutnya MtsN Koto Nan Ampek karena letaknya yang memang di Nagari Koto Nan Ampek.
“Jadi kalian itu harus belajar dengan penuh semangat. Kalau kalian belajar, maka cintailah guru yang mengajarnya. Kalau kalian sudah suka gurunya, yakinlah kamu bahwa kamu akan berhasil dan sukses”

          Kepala sekolahku menutup pidatonya pagi itu, pidato pembukaan yang menjadi pelecut semangatku dikemudian hari. Bapak Alimin Jalil pun memberikan microvonnya ke protokol upacara.  Diakhir upacara, Kesiswaan sekolahku mengumumkan pembagian kelas baru. Aku ditempatkan dikelas VII 6.
          Hari pertama aku membersihkan kelas bersama teman-teman baruku. Jam sembilan pagi Bu Neng masuk.
“Ananda, perkenalkan nama Ibu Rulninda Harnengsih, bisa kalian panggil Bu Neng. Baiklah anak-anak….”
          Subhanallah, aku makin cinta dengan sekolahku ini, kami baru tau kalau wali kelas kami ini adalah salahsatu guru senior di MTsN Payakumbuh. Beliau adalah guru kesenian di sekolahku ini, dikemudian hari kami baru tau bahwa wali kelas kami yang satu ini sangat peduli dengan kami. Beliau cuek, tapi dibelakang kami beliau selalu mendukung aktivitas kami. Oh iya, karena ini hari pertama maka dilaksanakanlah pemilihan ketua kelas.
“Anandaku sekalian, sekarang kita lakukan pemilihan ketua kelas. Di papan tulis sana ada nama-nama yang akan kalian pilih nantinya. Masing-masing kalian punya hak memilih dua putra dan dua putri. Suara putra terbanyak akan menjadi ketua kelas dan suara putri terbanyak akan menjadi sekretaris kelas. Ibu harapkan kalian memilih pemimpin yang terbaik.”
Dan hasilnya adalah…
Ketua Kelas                    : M. Ariful Fikri
Wakil Ketua                    : Zilal Afwa Ajidin
Sekretaris                      : Uci Sriwahyuni
Bendahara Tabungan    : Widya Tussakinah
Bendahara Kas              : Widya Novita Sari
          Hari itu tetap takkan terlupakan. Aku ingat sekali ketika aku diangkat jadi wakil ketua kelas, aku bangga. Sedikit tertawa, mungkin bagi sebagian orang menjadi ketua kelas atau bahkan cuma wakil ketua kelas itu adalah kedudukan rendah yang dipandang sebelah mata. Tapi aku ingin membuktikan bahwa kami ada dan punya makna. Dan itulah yang kurasakan. Tapi bukan bangga karena sombong yang ku maksud, tapi bangga karena telah mendapat amanah dari 47 orang penghuni kelas VII 6.
          Hari-hariku di MTsN Payakumbuh.
          Mulai dari hari pertama menjadi siswa di MTsN Payakumbuh, tak satupun bagiku hari-hari yang tak berharga disana. Adalah suatu kewajiban bagi siswa kelas tujuh tsanawiyah untuk mengikuti ekskul Pramuka. Ekskul yang memang melejitkan nama MTsN Payakumbuh di tingkat kota, provinsi bahkan nasional. Beberepa buktinya adalah menjadi Juara I sekolah tergiat Pramuka tingkat SMP dan SMA se kota Payakumbuh, Juara I PBB tingkat provinsi Sumatera Barat, dan pernah mengirimkan satu siswanya ke Jambore Asia Tenggara yaitu Muhammad Hadi, teman sekelasku di kelas IX 5. Ekskul ini diadakan setiap hari jum’at ba’da shalat jum’at. Dan sore itu terbentuklah satu regu pramuka yang bernama Scorpio. Regu bentukanku dan sembilan teman lainnya. Tugas pertama bagi kami adalah persiapan untuk pra penjelajahan ke salah satu objek wisata di Payakumbuh, Ngalau Indah. Tapi uniknya kalau para wisatawan menuju lokasinya lewat jalan aspal, maka kami malah lewat tebing yang sukup curam, apalagi bagi Medi. (Haha, kalau di Mu’alliminnya mah sebanding lah kayak Zhafran). Dan yang paling kusuka sebelum pra penjelajahan adalah cek peralatan pramuka.
“Kalian regu scorpio?”
“Siap, iya kak.”
“Baiklah, nah kamu, siapa namamu?”
“Siap, Hasyim Kak.”
“Kaos kaki hitam kamu mana?”
“Siap, basah kak.”
"Hasyim, kamu push up sepuluh kali."
"Siap, baik kak."
“Baik, untuk peralatan lainnya kalian sudah saya nyatakan lengkap. Kacu, cincin kacu, baju pramuka, baret, sepatu seragam shanghai, tongkat pramuka, pisau pramuka, tali pramuka dan peralatan lainnya kalian sudah lengkapi. Cuma kelemahan kalian adalah salah satu anggota kalian tak punya kaos kaki hitam, kaos kaki resmi pramuka. Jangan pernah kalian ulangi lagi kesalahan kalian ini! Dan sekarang siapkan barisan kalian dan sebelum bubsar nyanyikan yel-yel!”
“Siap, baik kak!”
“Penggalang kota biru, menggalang kekuatan.
Disiplin dan berilmu, kreatif setiap saat.
Kami semuanya, regu paling oke.
Regu paling hebat ‘kan menjadi sang juara.
Regu Scorpiooooo…. Keren, lutuna, gaulna.”
          Dan kakak Pembinaku yang galakpun terpingkal-pingkal, walau Cuma disimpan dalam hatinya. Ya, dalam pramuka memang kakak Pembina adalah orang yang sangat ditakuti dan disegani. Ada tiga pasal “lucu” (walau sebenarnya menakutkan bagi junior bawahannya) yang sangat ngetren dikalangan anak-anak pramuka.
Pasal satu   : Senior selalu benar.
Pasal dua    : Junior selalu salah.
Pasal tiga    : Apabila senior salah, kembali ke pasal satu.
          Logikanya junior punya hak:
Satu            : Jadi bulan-bulanan senior.
Dua             : Sarana senior balas dendam atas perlakuan senior atasannya lagi.
Tiga             : Tempat senior mencurahkan segala penyesalannya dan kekesalannya selama menjadi junior tahun lalu.
          Haha, begitulah. Tapi dibalik itu semua kami sayang senior kami, aku suka gaya mereka yang sedikit slengek an itu, gaya sok senior mereka itu dan aku senang melihat kekompakan mereka saat latihan PBB (Pasukan Baris-Berbaris).
          Dan hari minggu pagi itu dilanda peristiwa yang mengesankan. Reguku berhasil memegang tongkat dengan bendera pramuka, itu pertanda kami adalah runner up sementara dalam penjelajahan kali ini. Dipenjelajahan itu kami disuguhi berbagai tantangan dan pemandangan. Tantangan pertama adalah membuat tandu dari tongkat dan tali pramuka. Kemudian membaca sandi angka. Tanpa kami tau arti dari sandi itu, kami tak kan pernah bisa melanjutkan tantangan selanjutnya, sebab isi dari sandi tersebut adalah perintah untuk tantangan selanjutnya. Dan di pos pertama, itulah tempat kami berhasil merebut tongkat dengan bendera merah putih. Regu kami sementara memimpin penjelajahan. Lalu kami disuguhi membaca sandi morse, sandi semaphore lainnya. Dan terakhir adalah menyelaraskan kaki kita dengan terjalnya bukit Ngalau Indah, kami harus mendaki objek wisata itu hanya dengan bantuan kaki dan tali tambang, juga tali pramuka tentunya. Dua jam menjelajah, akhirnya aku dan  regu scorpioku menobatkan diriku menjadi regu poertama yang berhasil mencapai lokasi. Senangnya, gembiranya, bangganya, dan bahagianya.
          Walau itu hanya segelintir kecil kisah hidupku di MTsN Payakumbuh, tapi masa-masa itu tetap takkan terlupakan, tak tergambarkan oleh tetesan air mata keharuanku. Aku cinta MTsN Payakumbuh. Dan minggu sore itu pun menjelma menjadi milik reguku scorpio, awannya menyibakkan senyumnya yang menyungging mesrah. Dan ku pikir burung pipit yang tadi menyiul-nyiul pasti bangga dengan peforma timku. Tak lupa lambang kalajengking (scorpio) yang menempel di baju reguku, makin angkuh saja. Hari itu aku merasa menjadi siswa yang sebenarnya.

Garut, 18 April 2012

No comments:

Post a Comment