Tentang seberapa besar jasa orang
terhadap kita, namun sudahkah kita berterima kasih pada mereka? Kenyataannya
dalam realita hidup ini kita tidak akan pernah lepas dari jasa-jasa orang lain
terhadap kita. Satu ketika saya pulang ke kampung kelahiran di nagari Pangkalan
karena sebentar lagi akan lembaran Idul Fitri 1439 H. Saya pulang dan bertemu
tetangga yang juga menjadi teman almarhumah nenek dan keluarga besarku. Nama
tetanggaku itu ialah Iyun, kalau ibuku sering panggil namanya ialah “Kak Iyun”.
Tentu saja panggilan yang cocok buatku adalah Mak atau Nek.
Ibuku langsung bilang, “Ini nih
yang dulu diurus sama kak Iyun pas saya baru lahiran.”
Beliau jawab, “Iya ya, sudah besar
sekarang, sudah bujang. Tinggal nunggu undangannya saja kita.”
Jujur saja, saya cukup kaget.
Memang beliau adalah tetangga samping rumah, rumah beliau lah yang paling dekat
dengan rumah nenek. Sekarang rumah itu
sudah sering kosong, begitu juga rumah kami yang sudah mulai jarang ditinggali.
Sebab beliau diboyong anaknya ke Riau, pun di keluarga besar kami mulai jarang
yang menempati sejak nenek meninggal dua tahun lalu, kecuali ada momen seperti
lebaran saja.
Saya kaget karena ternyata beliau
lah yang mengasuh saya waku kecil, saat masih menjadi bayi yang belum bisa
mengenang memori. Artinya, jika berbicara balas budi, tak akan pernah bisa
terbalaskan, sebab apa dayanya bayi yang belum lahir jika tak dilindungi oleh
orang di sekitarnya. Itulah salah satu contoh peran orang lain yang sama sekali
luput dari ingatan jika tidak dijelaskan oleh peristiwa sore itu.
Momen perpisahan bersama rekan-rekan TOEFL Vanquisher, Pantai Prigi - Maret 2018
Juga, salah satu momen paling
berharga ialah ketika bertemu dengan kawan-kawan satu misi di TEST English
School Pare. Saya belajar bagaimana bertahan dibawah tekanan, jika bukan mereka
yang menguatkan, tentu saya sudah mundur jauh-jauh hari. Jika mundur, tentu
kita tak akan menikmati nikmatnya menuntut ilmu bahasa asing, yang walaupun
awalnya berat, namun begitu besar manfaatnya setelah dipelajari.
Kebaikan budi bukan melulu tentang
materi, namun dinasehatinya kita juga salah satu dari budi yang harus dibalas.
Teman, adalah pembisik utama saat kita dirantau dan jauh dari keluarga. Maka
wajar kata orang-orang tua, salah memilih teman, salah juga pergaulannya. Dari
keluarga, sanak famili, handai taulan,
sahabat, kawan, teman, kita belajar tentang arti penting berjuang. Merekalah
sebenarnya energi positif kita di dunia ini. Disadari atau tidak, hidupmu
menjadi berarti karena ada mereka. Lantas sudahkah kita berterima kasih atau
mendo’akan mereka? Dan sudahkah kita memberi arti dalam hidup mereka?
Terima kasih Allah yang masih
memberi kesempatan merangkai kata ini. 2019, insyaAllah saya ingin bercerita.
Bercerita tentang sesiapa yang berjasa dalam hidupku, tentang cerita kenangan
masa lalu, penggalangan kisah hikmah nan unik, juga pesan-pesan kalam Illahi
yang ingin diceritakan versi penulis. Saya berharap betul, tulisan di blog
inilah yang menjadi peninggalan kekayaan hidupku. Kekakayaan yang bisa orang
akses kapanpun selama masih ada yang membaca kisah-kisah ini. Jika mungkin,
penggalan inilah ingin dibukukan sebagai memoir hidupku dalam sebuah
autobiografi. Agar ada jejaknya hidup ini, jejak kebaikan yang diinginkan semua
manusia yang pernah hidup, semoga bermanfaat.


Baguss bnget bang kata"nya, jadi terhanyut kedalam ceritanya😁.
ReplyDeleteDi tunggu tulisannya lagi bang👍
ReplyDelete