Pages

2019, AKU INGIN BERCERITA


Tentang seberapa besar jasa orang terhadap kita, namun sudahkah kita berterima kasih pada mereka? Kenyataannya dalam realita hidup ini kita tidak akan pernah lepas dari jasa-jasa orang lain terhadap kita. Satu ketika saya pulang ke kampung kelahiran di nagari Pangkalan karena sebentar lagi akan lembaran Idul Fitri 1439 H. Saya pulang dan bertemu tetangga yang juga menjadi teman almarhumah nenek dan keluarga besarku. Nama tetanggaku itu ialah Iyun, kalau ibuku sering panggil namanya ialah “Kak Iyun”. Tentu saja panggilan yang cocok buatku adalah Mak atau Nek.

Ibuku langsung bilang, “Ini nih yang dulu diurus sama kak Iyun pas saya baru lahiran.”
Beliau jawab, “Iya ya, sudah besar sekarang, sudah bujang. Tinggal nunggu undangannya saja kita.”

Jujur saja, saya cukup kaget. Memang beliau adalah tetangga samping rumah, rumah beliau lah yang paling dekat dengan rumah  nenek. Sekarang rumah itu sudah sering kosong, begitu juga rumah kami yang sudah mulai jarang ditinggali. Sebab beliau diboyong anaknya ke Riau, pun di keluarga besar kami mulai jarang yang menempati sejak nenek meninggal dua tahun lalu, kecuali ada momen seperti lebaran saja.

Saya kaget karena ternyata beliau lah yang mengasuh saya waku kecil, saat masih menjadi bayi yang belum bisa mengenang memori. Artinya, jika berbicara balas budi, tak akan pernah bisa terbalaskan, sebab apa dayanya bayi yang belum lahir jika tak dilindungi oleh orang di sekitarnya. Itulah salah satu contoh peran orang lain yang sama sekali luput dari ingatan jika tidak dijelaskan oleh peristiwa sore itu.


Momen perpisahan bersama rekan-rekan TOEFL Vanquisher, Pantai Prigi - Maret 2018

Juga, salah satu momen paling berharga ialah ketika bertemu dengan kawan-kawan satu misi di TEST English School Pare. Saya belajar bagaimana bertahan dibawah tekanan, jika bukan mereka yang menguatkan, tentu saya sudah mundur jauh-jauh hari. Jika mundur, tentu kita tak akan menikmati nikmatnya menuntut ilmu bahasa asing, yang walaupun awalnya berat, namun begitu besar manfaatnya setelah dipelajari.

Kebaikan budi bukan melulu tentang materi, namun dinasehatinya kita juga salah satu dari budi yang harus dibalas. Teman, adalah pembisik utama saat kita dirantau dan jauh dari keluarga. Maka wajar kata orang-orang tua, salah memilih teman, salah juga pergaulannya. Dari keluarga, sanak  famili, handai taulan, sahabat, kawan, teman, kita belajar tentang arti penting berjuang. Merekalah sebenarnya energi positif kita di dunia ini. Disadari atau tidak, hidupmu menjadi berarti karena ada mereka. Lantas sudahkah kita berterima kasih atau mendo’akan mereka? Dan sudahkah kita memberi arti dalam hidup mereka?

Terima kasih Allah yang masih memberi kesempatan merangkai kata ini. 2019, insyaAllah saya ingin bercerita. Bercerita tentang sesiapa yang berjasa dalam hidupku, tentang cerita kenangan masa lalu, penggalangan kisah hikmah nan unik, juga pesan-pesan kalam Illahi yang ingin diceritakan versi penulis. Saya berharap betul, tulisan di blog inilah yang menjadi peninggalan kekayaan hidupku. Kekakayaan yang bisa orang akses kapanpun selama masih ada yang membaca kisah-kisah ini. Jika mungkin, penggalan inilah ingin dibukukan sebagai memoir hidupku dalam sebuah autobiografi. Agar ada jejaknya hidup ini, jejak kebaikan yang diinginkan semua manusia yang pernah hidup, semoga bermanfaat.

2 comments:

  1. Baguss bnget bang kata"nya, jadi terhanyut kedalam ceritanya😁.

    ReplyDelete
  2. Di tunggu tulisannya lagi bang👍

    ReplyDelete