Jujur saja
saya adalah orang yang masih norak jika bertemu dengan orang yang punya
kapasitas ilmu yang tinggi, misalnya sekelas doktor dan professor, ataupun
ulama. Satu ketika saya diminta oleh Pak Akbar (Ketua KA FoSSEI) untuk
menjemput seorang professor asal Malaysia yang didaulat menjadi pembicara di
agenda kami. Kala itu, Korps Alumni FoSSEI akan mengadakan agenda Silaturrahmi
Akbar ke-2 di UGM. Terang saja, saya senang bercampur gugup ketika diamanahi
menjemput sang professor.
Tamu spesial
kami tesebut berasal dari Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor, yakni
Prof. Dr. Nor 'Adha Abd Hamid, Ph.D. Seminggu sebelumnya, saya juga sudah
berkirim e-mail kepada beliau untuk
menyampaikan surat secara resmi. Ya, saat ini saya diberi tugas oleh Pak Akbar
sebagai Sekretaris Eksekutif KA-FoSSEI, itu bahasa kerennya saja, bahasa lapangannya
adalah orang yang siap membantu beliau urusan persuratan organisasi dan teknis
lainnya. Pun sebenarnya itu adalah pengalaman pertama saya berkirim surat
kepada pembicara sekelas professor, norak memang. Alhamdulillah Pak Akbar
bersedia mengoreksi beberapa kali surat yang dibuat hingga akhirnya fix dikirim ke Prof. ‘Adha.
Hari
penjemputan tiba, saya masih linglung bercampur grogi. Untung saja ada temanku
yang ketika itu sedang free, dan mau diajak menemani, Rijal namanya. Aku yakin
membawa dia, sebab kawanku ini juga berkuliah di Universitas Antar Bangsa
Malaysia, juga tentunya punya pengalaman yang cukup dibandingkanku dalam
menjamu pembicara di tingkat universitas.
Sekitar
pukul lima sore, kami tiba di Bandara Adi Sucipto terminal B, waktu landing
diperkirakan pukul lima lebih sepuluh menit. Kendalanya adalah kami saling
tidak mengenal wajah, sebab komunikasi terakhir hanya melalui e-mail. Beberapa kali sengaja aku
mengecek poster digital yang mencatumkan wajah beliau, agar aku mengenalnya.
Juga saya membuat tulisan nama beliau di secarik kertas sebagai tanda pengenal
jika sudah keluar dari pintu kedatangan. Alhamdulillah setelah lima belas menit
menunggu, kami berjumpa beliau, beliau bertemu kami. Kami bertiga saling
melempar senyum tanda lega.
Memang,
momentum penjemputan pembicara seringkali justru lebih bermanfaat dari seminar
itu sendiri. Kita bisa menggali hal yang bersifat keilmuan, maupun pribadi pada
beliau. Prof. ‘Adha, ternyata orangnya ramah. Beliau sangat teliti, ulet dan
rajin. Sebagai seorang ibu, beliau sangat berhasil membagi peran baik sebagai
ibu rumah tanggga, peneliti maupun pengajar di Universitas.
Banyak ilmu
yang kami dapatkan dari beliau, berupa prinsip belajar yang tak kenal henti,
namun juga tak lupa memprioritaskan waktu terhadap keluarga. Dan beliau
melakukan itu semua berbekal satu sifat prinsip, yakni rajin. Tak ada yang tak
bisa dilakukan jika kita punya niat dan rajin menjalani prosesnya. Juga,
terlihat betul beliau sosok yang rendah hati dan ramah. Inilah yang menjadi
kekuatan bagi seorang muslim, karena pada dasarnya hidup ini hanyalah soal kebermanfaatan.
Terima kasih
Prof, semoga bisa berjumpa lagi dilain kesempatan.
Aamiiiin.
Yogyakarta,
16-18 November 2018


No comments:
Post a Comment