Dari
sejuknya Payakumbuh menuju dinginnya Garut, Juli 2010. Membayangkan Garut,
memori saya hanya diingatkan pada album foto masa kecil usia 1,5 tahun. Hanya
itu yang membuat saya tahu bahwa dulu pernah ke Garut, selebihnya tidak. Sebab
memori anak 1,5 tahun belumlah bisa merekam jejak masa kecilnya.
Belasan tahun kemudian, kembali ke tempat ini dengan misi berbeda, menjadi Santri. Sejak awal nyantri di Pesantren ini memang menjadi keinginan, tanpa paksaan. Hanya saja, untuk tempat murni pilihan Apa, yakni MA Persis Tarogong Garut. Kelak disinilah saya mengerti arti ilmu agama dan juga arti kehidupan.
Kafilah Ikhwan alumni MA Persis Tarogong angkatan 28 (lulusan 2013)
Delapan
tahun kemudian, lima tahun pasca lulus, kami berkumpul lagi, dalam wadah Reuni
Akbar 2, Pesantren Persis Tarogong. Cukup beralasan jika agenda kali ini
menjadi pelepas cerita lama yang telah lama tidak dirangkai. Sejak lulus dari
pondok, praktis komunikasi saya khususnya agak terhambat, tidak selancar dulu.
Apalagi
kalau bukan persoalan jarak dan waktu. Sebab mayoritas kawan-kawanku berkuliah
dan beraktifitas di Garut-Bandung, sedangkan saya di Depok yang lebih dekat
dengan Jakarta. Itupun, jika ada undangan buka bersama yang agendanya di akhir
Ramadhan, bisa dipastikan saya sudah di Payakumbuh, kampung halaman. Apapun
itu, yang jelas silaturrahim kali ini kembali membangkitkan memori lama, tempat
berjuang dalam mencari ilmu agama.
Apa yang
dicari dalam reuni kali ini? Yakni mencari jejak yang hilang, menyambung kisah
yang terputus, menelusuri penggalan kisah yang tertinggal kala masih menjadi
santri. Kiranya tak banyak yang berubah, masih dengan para Asatidz penuh
dedikasi yang mayoritas juga alumni pesantren yang sama. Satu alumni dengan
saya. Hanya terima kasih yang mampu diucapkan, semoga bisa kembali memberikan
kontribusi disini, entah dengan apa caranya nanti.
Garut, 23
Desember 2018


No comments:
Post a Comment