Kepada malam yang gelapnya ditemani gemintang. Ijinkanlah
aku menuliskan cerita tulus ini, agar sang rembulan bisa mengdengarkannya.
Kisah yang, membuat jari-jariku seakan kaku mendayu menekan setiap toots-toots
laptop milikku. Sekali lagi, biarkan lah cerita ini mengalir, tersaji hadir
disetiap sanubari pelihatnya.
Kepada malam, tahukah kau? awalnya
aku tak mampu mengawali setiap rangkaian kata-kata ini, kalau saja aku tak
sedikit memberanikan diri menuliskannya. Baiklah, simaklah cerita tulus ini.
Kepada kawan-kawan panitia yang
disetiap jengkal dahinya ada peluh. Tahukah kau? Ternyata Allah dengan
sekrenarionya mentakdirkan kita hadir dalam kebersamaan. Disadari atau tidak,
kurang lebih 50 hari yang lalu Allah memulai rencana-Nya. Suka tawa berganti
pedih ketir sudah kita lalui dengan satu ucap, kebersamaan.
Masihkah ingat? Senja itu kita
dikumpulkan dalam sebuah ruangan kubus bersahaja, Aula 3, tempat awal kita
memulai cerita. Sore itu, satu persatu langkah berganti, menapaki lantai
keramik yang putih itu. Memulai cerita, merangkai sejarah kehidupan. Dan hari
itulah, nama kita satu persatu disebut, menempati amanah yang dirancang Allah.
Kusebut itu sebuah sekrenario kehidupan.
Masihkah ingat? Dibalik hembusan
angin yang menyapa pagi. Pagi itu, kita berkumpul. Kusebut saja 06.30. Dan
masihkah ingat? Satu persatu wajah lusuhmu tersapu oleh ceria. Dan sebelum
06.30, bangunan ranum tak berdinding yang kau sebut gazebo, sudah hampir penuh
terisi. Kataku dalam hati, luar biasa temanku ini.
Masihkah ingat? Lagi, kita
dikumpulkan dalam satu kesempatan. Kau sebut sebagai Technical Meeting
(TM) 1. Hari dimana, sebagian besar diantara kita diangkat menjadi mentor. Hari
dimana, kita semua resmi menjadi pendamping adik-adik 2014. Mewujudkan impian,
menjadi generasi emas, Fatih.
Masihkah ingat? Dibalik lemah kita,
maka muncullah kata, “TO 50 Juta”. Sebuah kalimat penyemangat bagi seluruh
panitia, namun tentu saja cukup beban bagi tim funding. Entahlah, kata-kata itu
terasa begitu enteng terucap dari bibir kita. Padahal kenyataannya,…. Ssssst
jangan dibocorin dulu.
Masihkah ingat? Malam itu, seantero
WhatsApp berkicau. Bermunculanlah jargon-jargon baru dari otak kreatifmu.
“TO,
generasi emas pengukir sejarah”
“TO,
tebarkan semangat menginspirasi”
“TO,
Tutug Oncom”
“TO,
Tempe Oreg”
“TO
masakan nusantara, halal lezat Alhamdulillah”
Aneh memang, tapi entahlah, malam
itu aku tersenyum rindu. Terharu bangga melihat totalitas yang kau pancarkan.
Tapi tahukah kau? Delapan hari aku
tak berani bertemu kawan-kawan semua. Kecuali hanya sebagian kecil saja.
Muncullah isu bahwa TO direkomendasikan menjadi 2 hari. Jujur, tak rela aku
melihat semangat membahana itu dihancurkan oleh isu ini. Maka kuputuskanlah
untuk menelan habis pahitnya isu ini. Dan saat kupandang isu ini hanya sekedar
isu, maka barulah kuberanikan mengungkapkan hal ini pada kawan semua. Menguras
emosi memang, tapi itulah keputusan yang harus kuambil saat itu. Maafkan aku,
kalau kalau ini salah.
Masihkah ingat? Saat angka 06.30 tak
lagi ampuh menarik perhatian kawan-kawanku semua. Maka kutulislah angka 06.00.
Ada yang protes, tanda peduli. Ada yang setuju pertanda siap. Ada pula yang
diam, tak menanggapi. Biarlah, kupikir, pasti teman-teman letih kelelahan.
Masihkah ingat? Secangkir teh panas
bersanding kaku dengan gorengan. Menunggu masa untuk disantap. Sebuah pasangan yang tak ideal memang. Namun
itulah kemampuan kita, sebab hari itu, rupiah masih seakan enggap menghampiri
kita. Dan Alhamdulillah, senja yang kita sebut “buka bersama” itu berakhir
dengan canda tawa keakraban.
Masihkan ingat? Pasukan villa mulai
bergerilya H-19. Waktu yang ideal untuk mencari target. Namun sekrenario Allah
kembali bermain. Sampai H-8 belum satupun villa yang kita dapat. Alasannya
beragam, “Villa kecil”, “Villa sudah dibooking”, “Villa tidak memadai”, “Villa
tak layak”, “Villa mahal”, bahkan yang lebih dahsyat adalah , “Villa tidak
disewakan”. Namun dengan kebaikan Allah, H-6 kita diberi Villa yang besar,
belum dibooking, memadai, layak, ideal, dan tak lupa bahwa villanya disewakan.
Senang bukan main, bahagia penuh syukur.
Masihkah ingat? Kalau kuhitung,
jumlah kita yang syuro selalu saja tek kurang dari 20, dan tak lebih dari 31.
Dengan berbagai kendala, silih bergantian hadir, namun penuh dengan kekhusuan.
Dalam hati aku berucap, “Aku paham, mungkin saudaraku lelah.” Dan aku berucap,
“Gerakkan hati-hati kami Ya Allah”.
Masihkah ingat? Malam itu temaram
malam mendampingi niat tulus kita. Dan kita laluilah malam itu dengan mabit.
Sebuah emosi kepedulian mulai terjalin. Tentang perihnya perjuangan ini, maka
harus dilewati dengan obat kesabaran. Dan mulailah rencana-rencana terancang
dari pertemuan singkat itu. Pos-pos sudah dibagi, tugas-tugas pun telah diberi.
Masihkah ingat? Di subuh, saat
tubuh-tubuh kita mulai tergerak menyapa mentari. Kita dikejutkan pada satu
kenyataan, yang lagi-lagi itu sekrenario Allah. Hari itu H-1, kita masih
ditakdirkan defisit 6 juta. Uang dari mana? Wallahu a’lam.
Masihkah ingat? Saat kita sudah
memulai acara, peserta tersenyum ketir berjalan jauh dengan ongkos terbatas,
dan tujuan yang tak pasti. Dibalik itu, panitia tersenyum ketir memikirkan
kekurangan dana yang luar biasa membebankan. Dahsyat, hari itu pertolongan
Allah seakan dekat. Semua hati bergerak dan tergerak. Tak ada lagi unsur
kepanitian, unsur BPH-PSDM, OS, MMM, atau Dosen. Yang ada adalah unsur
kebersamaan. Forum daerah bergerak, Forum angkatan tergerak, forum alumni
terpanggil, unsur OS pun Lembaga tersentuh. Dan sejarah mencatat, Alhamdulillah
kita surplus.
Masihkah ingat? Tatkala kawan
funding, Uci dan Zen belum bisa bergabung dengan kita di hari pertama. Dalam
sepi ku menyendiri, mengumpulkan energy untuk menanyai kabar-kabarmu.
“Kak
syifaaa, kapan tim funding mau kesini? Temen-temen panitia disini udah pada
nyantai. Makan bebas, ketawa lepas. Ga tega liat perjuangan kalian semua.”
“Iya,
insyaAllah secepatnya. Do’ain aja. Yang jelas, kalau kita kesana sambut ya.
Pake tari pasambahan. Hehe. Pokoknyo sambut kita.”
“Oke
lah, aman pokoknya. Tim konsumsi kita sediaan. Pokoknya kita mau ngasih service
terbaik untuk kawan semua”
Dan pagi itu, setetes air menetes
dari mataku. Terharu, tersipu haru. Menyedihkan sanubariku. Lagi, ku hapus
dengan senyum ketulusan.
Masihkah ingat? Saat kata-kata ajaib
menjadi booming semenjak terdengar di voice note WhatsApp.
“Afwan
temen-temen semua, dan khususnya temen-temen akontrans. Hari ini ane tidak bisa
bersama temen-temen semua, untuk menjalankan amanah yang telah dititipkan.
InsyaAllah besok, atau (jeda 2 detik) malamnya, ane bisa bergabung bersama
temen-temen semua…………”
Dan hari itu berkali-kali kita
tertawa mendengar pidato kenegaraan Zen. Dasar licik, tapi cukup menghapus
kerinduan kita. Haha.
Dan masihkah ingat? Masih banyak hal
yang harus kita ingat. Tapi cukuplah kawan-kawan semua yang menambahkan semua
ingatan ini. Agar kita bisa saling ingat-mengingatkan
Semoga segala ingatan ini menjadi
hikmah dan bekal hidup kita. Menjadi cerita tentang tulusnya pengharapan.
Tentang perjuangan impian. Dan tentang betapa lemahnya kita dihadapan-Nya.
Bravo sahabatku. Terbarkan semangat menginspirasi! J


Haru biru😊😂😂~
ReplyDelete