Bila kita mengingat masa-masa SD, ada satu hal yang sangat menggelitik jika diingat, yaitu betapa makmurnya negeri ini. Ketika kita buka lagi buku IPS kelas empat SD, maka kita akan menemukan letak astronomis Indonesia di serta letak geografis Indonesia antara dua benua besar yaitu Asia dan Australia serta dua samudra luas yaitu samudra Hindia dan Pasifik. Begitu strategisnya letak Indonesia itu, begitu sangat mengagumkan.
Bukan hanya sampai disana, kita juga dibuat kagum oleh dua kerajaan besar Indonesia yang merajai lautan nusantara ini. Majapahit dan Sriwijaya adalah dua kerajaan itu, mereka berhasil menjelma menjadi negara maritim yang diakui, ditakuti dan disegani dunia. Kekuatannya pun tersebar sampai ke negeri India dan dataran Asia lainnya.
Begitu hebatnya Indonesia, begitu bangganya menjadi anak-anak nusantara ini. Cerita lama itu seakan membangkitkan kecintaan anak-anak SD ketika itu, potensi bahari negeri ini juga sering diungkap dalam buku-buku kumal sekolah dasar itu. Hingga gumpalan cinta kian merasuk ke jiwa raga murid-murid sekolah dasar itu.
Indonesia dikenal dunia sebagai negara martim, itu bukan semboyan belaka. Jauh sebelum negara ini berbentuk republik, hampir seluruh wilayah Indonesia mengandalkan hasil lautnya. Kerajaan Islam Ternate-Tidore pun demikian, kedua kerajaan itu melakukan transaksi penjualan rempah-rempahnya dengan memanfaatkan transportasi laut. Dengan mengandalkan tranportasi lautnya, kerajaan Ternate-Tidore bahkan sukses mengenalkan potensi rempah-rempah mereka ke dunia internasional.
Begitupun kerajaan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan, kerajaan yang dikenal lewat pelaut ulungnya ini berhasil menciptakan kapal tangguh yang diberi nama kapal pinisi. Kapal pinisi dibuat dengan memanfaatkan kayu asli Indonesia dan dibuat langsung oleh orang asli Indonesia. Kelebihan lainnya, kapal ini telah sukses mengelilingi dunia, dan tentu saja hal ini memperlihatkan kehebatan Indonesia sebagai negara maritim.
Pentingnya posisi laut di Indonesia juga terlihat saat kerajaan Majapahit mulai runtuh. Kerajaan itu runtuh karena tidak ada pengganti panglima laut Gajah Mada. Sepeninggal Gajah Mada, wilayah kerajaan Majapahit mulai direbut oleh kerajaan Demak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siapa yang bisa mengasai perairan Indonesia, maka dialah yang berhak atas kekuasaan.
Jauh sebelum negara kita ini merdeka, nenek moyang kita telah mengenal sistem barter yang menggunakan ikat laut, kerang laut maupun garam laut. Sistem transaksi yang sangat bergantung pada hasil laut itu begitu terkenal pada eranya. Selain itu ditemukan pula bukit kerang laut di Aceh Tamiang dan Bintan menunjukkan bahwa nenek moyang kita dari dahulu lebih memanfaatkan hasil laut dibanding hasil darat.
Sebagai negara maritim, Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan banyak menyimpan kekayaan alam. Luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan pedalaman dan kepulauan, 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), serta terdiri lebih dari 17.500 pulau, menyimpan kekayaan yang luar biasa. “Dengan luas lautan hampir 70% dari total keseluruhan luas negara Indonesia, Sebesar 14 persen dari terumbu karang dunia ada di Indonesia. Diprediksi lebih dari 2.500 jenis ikan dan 500 jenis karang hidup di dalam perairan Indonesia, tapi belum banyak dipahami betul nilainya bagi bangsa ini.” (cintailautindonesia.blogspot.com)
“Dengan laut yang maha luas itu, potensi ekonomi laut Indonesia diperkirakan mencapai 1,2 triliun dollar AS per tahun, atau dapat dikatakan setara dengan 10 kali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012. Oleh karena itu, apabila seluruh potensi kelautan ini dikelola dengan baik maka diperkirakan 85% perekonomian nasional bakal sangat bergantung pada sumber daya kelautan.”(www.setkab.go.id)
“Saat ini, Indonesia diketahui memiliki 13 spesies rumput laut, 461 spesies karang dengan 91 spesies Acropora (marga dari karang yangbiasanya berbentuk seperti meja atau bercabang). Indonesia memiliki jumlah Acropra terbanyak dari 114 spesies Acropora yang dimiliki dunia. Indonesia juga tercatat memiliki 88 spesies mangrove.Laut Indonesia juga memiliki enam spesies penyu dari tujuh spesies di dunia. Laut Indonesia juga menjadi sebagai pusat distribusi ular laut. Dari 50 spesies ular laut di dunia, 37 di antara ada di laut Indonesia. Selat di Indonesia juga menjadi koridor penting bagi migrasi ikan paus.” (www.republika.co.id)
Dari data itu kita dapat menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya laut. Spesies laut, ikan-ikan, koral, dan terumbu karang, adalah contoh kecil dari kekayaan laut Indonesia yang melimpah. Kalau saja itu dapat dikelola dengan baik, tentu citra Indonesia sebagai negara maritim akan semakin diakui oleh dunia Internasional.
Tak hanya sampai disana, laut Indonesia juga berperan dalam menyumbang udara segar bagi masyarakat dunia. “Laut Indonesia yang luasnya mencapai 5,8 juta km2 itu, ternyata mampu menyerap sekitar 44 persen dari seluruh jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Di laut, ada sebuah sistem rantai makanan, yang berfungsi sebagai carbon sinks. Awal dari sistem rantai makanan itu adalah fitoplankton (alga) yang membutuhkan karbon dari gas CO2 untuk fotosintesis. Karbon itu mereka serap dari atmosfer.”(www.deplujunior.org)
Namun sayang, sekali lagi kesadaran kita terhadap laut masih sangat minim sekali, sangat kontradiktif dengan kondisi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut. Bahkanmenurut data dari Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang di Indonesia atau Coral Reef Rehabilitation Management Program Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (COREMAP LIPI), hanya 6,83 persen dari 85.707 km2 terumbu karang yang ada di Indonesia berpredikat sangat baik (excellent). Terumbu karang yang sangat baik itu tersebar di 556 lokasi.
Lantas, kenapa negara maritim yang penuh potensi ini seakan dibiarkan begitu saja. Mengapa kita seakan cuek atas semua ini? Bahkan sama sekali tak pernah tergerak untuk membenahi semuanya. Kemana rasa cinta tanah air kita? Kemana rasa memiliki kita, relakah kita jika kekayaan negeri ini dicuri oleh negara lain?
Dan aneh, cinta tanah air baru akan muncul bila budaya negeri maritim ini direbut negara lain. Kita baru cinta tanah air tatkala Pulau Sipadan Ligitan direbut oleh negara Malaysia. Kita juga baru peduli ketika Perairan Ambalat di perbatasan Malaysia ingin direbut oleh Malaysia. Dan cinta itu makin memuncak saat pasir-pasir negara kita dibawa dirampas oleh Singapura untuk dijadikan daratan. Tapi saat negara kita tidak dalam ancaman, apakah kita masih cinta dengan negeri ini? Saya kira sangat jarang sekali yang masih peduli dengan tanah air ini.
Dan siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini? Ya, kita semualah yang harus bertanggungjawab. Namun ada hal yang menjadi perhatian khusus semua ini, yaitu pemerintah perlu memperbaiki sistem pendidikan Indonesia yang terkesan tak mengenalkan potensi bahari bangsa ini. Kita tak dikenalkan dengan objek wisata laut, potensi laut, dan kekayaan alam nusantara. Logikanya bagaimana kita bisa cinta jika kita belum mengenal pada sebuah objek tertentu. Dan tugas pemerintah minimal untuk mengenalkan itu semua ke pelajar Indonesia.
Selain itu yang perlu diperhatikan adalah pengenalan biota laut khas Indonesia, sebab hal ini dapat menumbuhkan rasa cinta pada negeri ini. Suatu ketika saya sempat bertanya ke beberapa siswa SMA di pesantren saya. Hasilnya banyak sekali yang tidak mengetahui ikan-ikan di perairan Indonesia. Lagi-lagi ini menjadi bahan renungan bagi kita tentang dangkalnya wawasan kita terhadap kekayaan bangsa ini. Dalam hal ini pemerintah harusnya membuat kurikulum khusus tentang materi kelautan. Kurikulum ini penting untuk meningkatkan kepedulian kita pada bangsa ini.
Tidak adanya kurikulum kelautan akhirnya berdampak pada pola pikir siswa itu sendiri. Data dari satu sekolah, dapat ditemukan bahwa jurusan perkuliahan yang mereka pilih tak satupun yang memilih program studi seperti teknik perkapalan, ataupun sumberdaya kelautan. Data ini menunjukkan betapa siswa sama sekali tak dikenalkan dengan potensi alam laut kita, sehingga program perkuliahan yang mereka pilih tak satupun yang berkaitan dengan kelautan. Hal itu disebabkan kurangnya pengetahuan mereka tentang potensi laut Indonesia, dan anggapan bahwa bekerja di laut itu tidak akan mndatangkan ksejahteraan hidup.
Maka, untuk menumbuhkan kecintaan siswa tehadap laut itu, pemerintah harus memasukkan kurikulum kelautan kedalam salah satu pelajaran di sekolah, lebih bagus lagi jika pelajaran khusus yang berisi tentang keanekaragaman dan kekayaan laut Indonesia yang diberi nama pelajaran Bahari. Untuk materi tingkat sekolah dasar cukup pengenalan dan manfaat laut itu, sedangkan untuk tingkat menengah dan atas siswa harus sudah dikenalkan pada cara perawatan dan penanganan laut. Hal ini dimaksudkan agar generasi penerus ini mampu merawat dan mengembangkan potensi bahari ini.
Di lain hal, ada fakta yang cuku menarik. Di Kabupaten Muko-muko, Bengkulu ada sebuah SMK Kelautan yang kurang diminati oleh lulusan SMP. Hal ini memperlihatkan kurang keberhasilannya pemerintah dalam mempromosikan keunggulan SMK Kelautan ini. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah tambahan bagi pemerintah. Lebih jauh lagi, pemerintah harus lebih gencar mempromosikan keunggulan SMK kelautan ini dibandingkan SMA biasa. Tentu sangat baik sekali jika jumlah SMK kelautan itu diperbanyak. Dan daya tariknya adalah, seluruh siswa di SMK itu digratiskan biaya pendidikannya. Dengan langkah seperti diatas, generasi penerus bangsa ini akan semakin tertarik dengan potensi bahari bangsa ini.
Selain itu pemerintah juga harus membuka lowongan kerja untuk guru mata pelajaran kelautan (bahari), agar lulusan SMA ataupun Perguruan Tinggi semakin melirik bahwa pekerjaan di bidang kelautan itu cukup menjajikan masa depan. Hal itu juga harus didukung dengan pelatihan-pelatihan terhadap guru dan siswa tentang pentingnya merawat laut. Dan untuk semakin mendukung program itu, pemerintah seharusnya memperbanyak kuota beasiswa bagi lulusan SMA untuk berkuliah di program studi kelautan, maupun perikanan.
Setelah itu, lulusan kelautan dan perikanan itu diharapkan bisa kembali bekerja sama dengan pemerintah untuk meneliti potensi laut Indonesia yang belum terjamah secara optimal. Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan lulusan pendidikan kelautan ini, maka negara kita akan lebih mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya laut yang melimpah. Hasilnya tentu akan dapat menyejahterakan masyarakat sekitar laut dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Pendidikan tidak hanya diberikan pada siswa dan pelajar Indonesia, pendidikan ini akan lebih bermanfaat lagi jika diterapkan langsung dikalangan nelayan. Sebagai profesi yang berkaitan langsung dengan laut, maka nelayan perlu mendapat perhatian khusus. Pemerintah harus memberikan pelatihan gratis kepada nelayan Indonesia dalam hal menjaga dan merawat potensi bahari ini Dan mereka juga harus diajarkan cara menangkap ikan yang benar, agar kekayaan laut Indonesia akan terjaga. Sebab jika tempat hidup ikan seperti karang rusak, maka yang akan dirugikan nelayan juga, karena akan mengurangi populasi ikan di wilayah mereka.
Jika semua langkah itu diterapkan, mimpi Indonesia untuk memakmurkan rakyatnya tentu bukan angan-angan belaka. Dengan potensi laut yang melimpah, kita bisa mengolahnya menjadi sebuah kekayaan yang tidak terbatas. Kedepannya kita berharap pemerintah lebih bisa menggiring generasi penerus bangsa ini lebih peduli dan lebih cinta. Sebab jika laut makmur, rakyat juga akan makmur. Jayalah matitim Indonesia!
*Penulis adalah Ketua Komunitas Sastra “Mata Pena”& Mahasiswa Perbankan Syariah STEI SEBI Depok
**Artikel tentang ekonomi kelautan. Tulisan ini berjasa mengantarkan saya ke Surabaya. Alhamdulillah tulisan ini pernah masuk 10 besar Esai Nasional "Marine Icon" ITS Mei 2013. Semoga bermanfaat.
***Alhamdulillah ini tulisan ke-10 ku yang di posting di depoknews.com


No comments:
Post a Comment