“Ayo ayo, anak kelas
tujuah anam ngumpua dulu sadonyo.”
(Ayo ayo, anak kelas
tujuh enam ngumpul dulu semuanya.”)
“Ado a Fik?”
(“Ada apa Fik?”)
“Iko sabanta lai wak
ka Class Meeting lai. Jadi wak atur dulu sia nan ka ikuik.”
(“Ini sebentar lagi kita
mau Class Meeting. Jadi kita atur dulu siapa yang ikut.”)
“Oh, yo lah. A se
lombanyo?”
(Oh, iya deh. Apa aja
lombanya?”)
“Oh, lombanyo yo. Ado
Lomba cerdas cermat, futsal, voli putra, voli putri, tarik tambang, pengolahan
barang bekas, bola takraw, lomba nyanyi, jo mambaco puisi.”
“Oh gitu yo.”
“Yo, makonyo kini wak
kumpua sadonyo dulu.”
(Ya, makanya sekarang
kita ngumpul dulu semuanya.”)
Juni 2008, mungkin inilah saat-saat terakhirku bersama teman-teman kelas
VII 6 untuk menikmati saat bersama menjelang kami naik ke kelas delapan.
Getaran kerinduan itu memuncak tatkala kami dihadapkan pada satu acara
bergengsi yaitu Class Meeting(pertemuan antar kelas satu dan kelas
dua yang mempertandingkan seluruh kelas baik dalam bidang olahraga ataupun
seni). Tak kusangka, Zilal yang dulunya pendiam sekarang berubah menjadi
anak yang pemberani. Dia yang dulu lugu, kini berbaur menjadi satu, menjadi
satu cerita dengan kumpulan siswa MTsN Payakumbuh lainnya, selama tiga tahun
dia mengukir cerita indahnya di kelurahan Sungai Pinago, Kecamatan Payakumbuh
Barat, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat itu. Dan satu diantara cerita indah itu
adalah Class Meeting 2008, ajang perpisahannnya dengan semua
rekannya di kelas yang kini juga menjadi nama nomor pesantrennya. Kelas VII
6 (dan sekarang dia sekolah di Pesantren PERSIS 76). Beginilah kisahnya.
“Oke Zilal, kamu saya
tempatkan pada lomba cerdas cermat dan futsal. Berjuang OK!”
“Apa cerdas cermat? Gak salah
fik? Ya OK lah Fikri kalau memang itu pilihanmu. Kalau kamu lomba apa?”
“Saya lomba takraw dan
futsal.”
Dan perlombaan itu pun dimulai. Awalnya aku setengah hati mengikuti lomba
cerdas cermat itu, betapa tidak, walaupun semester satu kemaren aku juara dua
di kelas tujuh enam. Tapi aku paling tidak suka mengikuti lomba seperti ini.
Aku ingin sesegera mungkin lomba futsal. Tapi beginilah takdirku.
“Ayolah Zilal. Sebentar
lagi kita bertanding. Kamu gak tega melihat tim kita kalah
sebelum bertanding?”
“Ya tapi san, saya gak
niat ikut lomba ini dari awal.”
“Ah kamu, ayo. Lihat tuh
peluang kita menang itu besar. Lihat saja! Lawan kita Alhamdulillah Cuma kelas
VII 2 dan kelas VII 3. Bukan kelas unggulan.”
“Ya kalau kalian memaksa
oke deh.”
Lima belas menit
kemudian…
“Baik, soal pertama.
Siapakah atlit bulu tangkis Indonesia yang meraih emas di Olimpiade Athena
2004?”
“Teeeet.”
“Ya grup dua dari kelas
VII 6.”
“Taufik Hidayat”, ucapku
mantap.
“Ya, jawaban kalian benar
sekali. Seratus untuk grup dua.”
Dan hari itu kami berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu tim yang masuk
ke babak selanjutnya. Apa yang terjadi? Kini setitik harapan terbuka
dikeningku. Cahaya mataku yang tadi memerah, saat ini memancarkan kebeningan
yang membius siapa saja yang melihatku. Keringat dingin dari kepalaku
menyembul hangat saat kemenangan itu menghampiri kelasku. Aku yakin kali ini
kami pasti bisa membuat Bu Neng, wali kelasku bangga. Kami ingin
mengobati kekecewaannya beberapa waktu lalu. Saat nilai ulangan kesenian kami
sekelas lebih kecil dibanding kelas lain. Padahal kami adalah salah satu kelas
unggulan di kelas tujuh tsanawiyah.
“Bagus lal. Tuh khan
bener, kamu itu bisa. Buktinya hampir semua jawaban di kelompok kita kamu yang
jawab.”
“Ah dasar kau fik. Iya
benar, tapi itu tak lepas dari bantuan Uci dan Santri. Ya kebetulan memang saya
yang juru bicara makanya saya yang jawab. Ini semua murni kerja tim.”
“Iya deh iya. Saya
percaya kamu. O ya, besok harus menang lagi ya! Lawan kita cukup berat, kelas
delapan empat.”
“Oh iya siip, minta
do’anya aja deh!”
“Oke lah kawan, itu
pasti.”
“Gimana tuh futsal? Besok
kita tanding ya fik?”
“Iya lal. Do’a aja moga
kelas kita menang lagi.”
“Iya pasti. Tapi mainnya
siang ya? Ah, kalau nanti saya masuk final lomba cerdas cermat, saya gak bisa
main dong.”
“Iya, tapi berdo’a sajalah
yang terbaik lal.”
“Oke kawan, kamu dari
dulu memang ketua kelas sekaligus teman saya yang paling baik. Sukses kawan.”
“Iya lal.”
Hari kedua, jantungku berdegup kencang. Suara kemenangan yang sejak kemaren
menggaung semakin berkobar saja. Namun kali ini rengekan kekalahan juga
membahana diotak bawah sadarku. Ah, aku pusing, apa yang terjadi? Apakah aku
akan kalah? Akankah aku menang melawan kelas delapan? Tapi kemaren khan aku
sudah menang. Aku sudah punya modal kuat untuk menang sekarang. Dan bukaknkah
aku sekarang sudah mendapat kepercayaan penuh dari teman-temanku? Ah, sudah
lah. Lebih baik aku shalat dhuha dulu.
“Lal, dua menit lagi kita
tanding.”
“I… Iy.. Iya Ci.”
“Kamu kenapa?”
“Saya gugup ci.”
“Zilal, jangan
gugup dong, yang penting itu bukan menangnya, tapi perjuangan kita
demi teman-teman sekelas kita. Lihat itu, 44 siswa lainnya mengharapkan
perjuangan kita! Samangek yo lal!
“Iya Uci, makasih ya
dukungannya!”
Lomba cerdas cermat itu pun dimulai, kembali kelompokku menjadi grup B. Kursi
grup A di ambil alih oleh kelas VII 4, sedangkan kursi grup C dipegang oleh
kelas VIII 4. Yang unik adalah dalam babak rebutan kali ini tak lagi
menggunakan bel melainkan memakai batu yang dipukulkan ke meja. Yang memutuskan
siapa yang lebih dahulu memukul meja dan berhak menjawab pertanyaan adalah dua
orang saksi yang telah di persiapkan panitia. Keputusan unik ini malah membuat
lomba semakin seru. Aku berkali –kali berhasil menjawab dibabak rebutan.
“Ya, dan sekarang adalah
soal terakhir, skor sementara untuk grup satu yaitu 550, grup dua 900 dan grup
tiga 950. Jadi masih ada peluang untuk grup B dan grup C untuk melaju ke babak
final. Dan pertanyaan terakhir, apakah ibukota Negara Arab Saudi?”
“Took.”
Mimpi itu pun jadi
kenyataan, semangat yang tadi berkobar sekarang menciut begitu saja. Hari ini
mungkin seperti daun yang dimakan ulat, awalnya penuh dengan kesegaran hati,
tapi lima detik kemudian kesegaran itu musnah bersama dengan hilangnya seonggok
harapan yang memuncak.
“Ya, silahkan grup C”
Ah, kekecewaan mulai menimpaku, aku kurang cepat. Padahal pertanyaan barusan
sangat gampang sekali bagiku. Entahlah, hanya satu harapanku, grup C menjawab
salah dan kami lah yang menjadi sang juara.
“Riyadh”
“Iyah benar sekali,
seratus untuk grup C. Baiklah penonton semua, dengan demikian kita sudah tau
juaranya siapa, yaitu grup C dari kelas VIII 4, selamat untuk kelas delapan
empaaat.”
Dan kelas delapan empatlah yang menjadi juara, bukan tujuh enam.
.jpg)

No comments:
Post a Comment