Malam
ini aku ingin berbicara. Ini adalah tentang kita semua. Adalah penting bagiku
untuk mengungkapkan ini agar kita semua bisa memahami esensi hidup. Sebab aku
berpendapat, sudah jauh sekali kita menyimpang dari hakikat hidup ini. Aku ingin
bercerita, sekitar dua tahun lalu aku pernah bertanya pada murobbiku, “Ustadz,
untuk apa kita hidup?” Apa gunanya Allah meciptakan kita, kalau pada akhirnya
Allah hanya membebani kita dengan tugas-tugas hidup.
Murobbiku terlihat sedikit tersentak
dengan pertanyaanku itu. Dia lantas menjawab, “Tugas dan fungsi kita kita hidup
adalah untuk beribadah kepada Allah. Kamu bisa lihat dalam surat Adz-Dzariat
ayat 56”.
Iya, aku paham dengan jawaban
murobbiku ini. Lantas sudah menjadi jelas bahwa Allah berfirman,”Tidak akan
Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. Itulah
kata Allah. Namun aku masih belum puas dengan jawaban itu. Lantas aku bertanya
lagi, “Kalau tugas manusia adalah untuk beribadah. Mengapa kita harus belajar
dan bekerja? Bukankah lebih baik kita mengerjakan pekerjaan yang jelas-jelas
tergolong ibadah saja? Seperti sholat, puasa, zakat dan zikir tentunya”
Lantas ustadzku diam dan menjawab.
Namun malam itu aku tidak menemukan jawaban yang aku inginkan. Masih abstrak.
Dan semenjak hari itu aku menjalani hari-hari aneh tanpa belajar. Dan aku hanya
sibuk dengan beribadah, yang menurutku ibadahku pun belum sempurna.
Hingga ku mendengarkan ustadzah
pimpinan pesantrenku mengajar. Beliau menerangkan ayat tentang etos kerja. Ketika
kuperhatikan Al-Qur’an aku tercengang. Ternyata Allah telah berfirman, “Carilah
pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tapi
jangan lupakan bagianmu di dunia….” (QS Al-Qoshosh:77). Ternyata dengan
terang-terangan Allah menyuruh kita mengutamakan akhirat, dengan syarat kita
tak boleh melupakan nasib di dunia. Jawaban yang logis. Dan aku pun kembali ke
jalur yang menurutku benar. Terus beribadah tanpa melupakan porsi keduniaanku,
yaitu belajar.
Belakangan aku menjadi makin paham
dengan maksud Allah ini. Tentang hakikat hidup dan kehidupan. Saat aku membaca
tulisan Imam Muhammad (Abu Abdullah) yang kuambil dari buku Ikhwan Abidin
Basri, dia berkata, “Kemudian Allah menciptakan anak cucu Adam dengan suatu
ciptaan. Dimana tubuh (fisik) mereka tidak akan dapat hidup kecuali dengan
empat hal, yaitu makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal”. Perlu kita
akui, memang keempat hal ini adalah kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidup
manusia.
Namun yang lebih menarik lagi dari
penjabaran Imam Muhammad adalah, bahwa pemenuhan keempat hal tadi bukan hanya
sekedar pelampiasan nafsu. Atau hanya sekedar pemenuhan kebutuhan saja.
Mengutip dari kata Ikhwan Abidin Basri, misi yang lebih agung dan luhur dari
empat perkara tadi adalah mempertahankan fisik manusia agar tetap kuat dan
beribadah kepada Allah. Sebab ibadah itulah yang menjadi tugas pokok manusia
diciptakan.
Dengan penjabaran tadi, jelaslah
bahwa ada hubungan keterkaitan antara akhirat dan dunia. Antara tugas pokok
manusia untuk beribadah dengan kewajiban untuk tidak melupakan nasib di dunia.
Pada akhirnya Allah ingin kita berlomba-lomba mencari pahala negeri akhirat.
Namun Allah juga melarang manusia tak acuh terhadap urusan dunia. Sebab
kenyamanan dan kecukupan dunialah yang membuat kita nyaman dalam menjalankan
fungsi ibadah kepada Allah. Semoga kita semua dapat memahami hakikat hidup ini.
Wallahu a’lam bish-showab.
Depok,14-15 Desember 2014
Zilal Afwa Ajidin

No comments:
Post a Comment