Pages

BELAJAR DARI ULAMA

Beruntunglah kita bisa menjadi seorang ulama. Dari awal mereka menyadari arti penting hidup. Saat yang lain masih berpikir tentang kenikmatan dunia, seorang ulama sudah jauh-jauh meninggalkan itu. Kau tau, seberapa terbelakangnya generasi kita dibanding generasi para ulama. Dimana ilmu kita anggap sebagai alat. Ilmu itu hanya aksesoris menuju harta. Membuat bimbel untuk uang. Membuat lembaga les untuk harta. Tidak salah memang, namun terkadang kita sering lupa dengan tujuan dan prinsip ilmu.

            Berbeda dengan ulama, mereka menyadai betul keberadaan ilmu dan umur. Bahwa kita hanya diberi jatah yang terbatas. Sehingga pengisi usia adalah ilmu. Mereka sadar dengan ilmunya mereka bisa mengubah sebuah kaum. Kalaulah mereka serakah, bisa saja ilmu itu menjadi cara mereka meraih dunia. Namun yang terjadi sebaliknya. Berapa banyak riwayat yang kita dengar, kehidupan ulama itu jauh dari kenyamanan fisik. Banyak yang mengorbankan hartanya demi kitab, demi berguru dan demi kepuasan ilmu.
            Hingga sampailah kita pada kesimpulan, bahwa hasil dari menuntut ilmu yang baik akan menghasilkan dampak yang baik. Kita tahu, warisan ulama adalah ilmu yang diwariskan dalam bentuk buku. Ulama tahu, setiap ucapannya dihisab, tulisannya dihisab dan gerak-geriknya pun dihisab. Sehingga karya yang sampai pada kita adalah semangat menebar kebaikan, dan semuanya baik.
            Marilah kita mulai meneladani semangat ulama ini. Dimana setiap nafasnya adalah ruhiyah, setiap ucapannya adalah dakwah, setiap langkahnya adalah uswah, setiap pemikirannya adalah ilmiah, dan setiap dekapannya adalah ukhuwah. Semoga! Wallahu a’lam bish-showab.

Depok, 16 Desember 2014

Zilal Afwa Ajidin

No comments:

Post a Comment