Beruntunglah
kita bisa menjadi seorang ulama. Dari awal mereka menyadari arti penting hidup.
Saat yang lain masih berpikir tentang kenikmatan dunia, seorang ulama sudah
jauh-jauh meninggalkan itu. Kau tau, seberapa terbelakangnya generasi kita
dibanding generasi para ulama. Dimana ilmu kita anggap sebagai alat. Ilmu itu
hanya aksesoris menuju harta. Membuat bimbel untuk uang. Membuat lembaga les
untuk harta. Tidak salah memang, namun terkadang kita sering lupa dengan tujuan
dan prinsip ilmu.
Berbeda dengan ulama, mereka
menyadai betul keberadaan ilmu dan umur. Bahwa kita hanya diberi jatah yang
terbatas. Sehingga pengisi usia adalah ilmu. Mereka sadar dengan ilmunya mereka
bisa mengubah sebuah kaum. Kalaulah mereka serakah, bisa saja ilmu itu menjadi
cara mereka meraih dunia. Namun yang terjadi sebaliknya. Berapa banyak riwayat
yang kita dengar, kehidupan ulama itu jauh dari kenyamanan fisik. Banyak yang
mengorbankan hartanya demi kitab, demi berguru dan demi kepuasan ilmu.
Hingga sampailah kita pada
kesimpulan, bahwa hasil dari menuntut ilmu yang baik akan menghasilkan dampak
yang baik. Kita tahu, warisan ulama adalah ilmu yang diwariskan dalam bentuk
buku. Ulama tahu, setiap ucapannya dihisab, tulisannya dihisab dan
gerak-geriknya pun dihisab. Sehingga karya yang sampai pada kita adalah
semangat menebar kebaikan, dan semuanya baik.
Marilah kita mulai meneladani
semangat ulama ini. Dimana setiap nafasnya adalah ruhiyah, setiap ucapannya
adalah dakwah, setiap langkahnya adalah uswah, setiap pemikirannya adalah
ilmiah, dan setiap dekapannya adalah ukhuwah. Semoga! Wallahu a’lam
bish-showab.
Depok, 16 Desember 2014
Zilal Afwa Ajidin


No comments:
Post a Comment