Ketika sayyidina Ali ditanya oleh para sahabat, "Wahai Ali, saya melihat banyak sekali yang dekat denganmu. Aku penasaran, sebenarnya berapa banyak kah sahabatmu yaa Ali?". Lalu sayyidina Ali menjawab dengan bijaksana, "Kalau engkau ingin tau berapa banyak sahabatku, datanglah ketika aku dirundung musibah." Cerita singkat diatas mengajarkan kita betapa pentingnya arti solidaritas dan loyalitas. Sayangnya kita selalu terjebak pada ambisi dunia saja. Lebih memilih mengejar pamor, prestasi dan prestise dibanding persahabatan. Menghabiskan waktu menjaga reputasi diri di hadapan rekan kerja kita, tapi malah luput menjaga hubungan baik dengan orang sekitar kita. Padahal, ketika sakit dan dirundung masalah, kemana lagi kita mengadu kalau bukan ke orang terdekat kita. Siapa lagi yang pertama kali peduli kalau bukan orang disekeliling kita.

Bagiku, mereka ini sudah seperti keluarga. Teman berbagi suka dan cita. Tiga setengah taun sekontrakan tentu bukan waktu yang singkat. Mulai dari pertemuan dan saling mengenal, hingga tau gaya dan kebiasaan masing2. Bahkan, seluk beluk terkecil pun saling tau. Mulai dari cara becanda, skill masing2, makanan favorit, selera musik, dan lainnya. Semua berbeda, tapi berabaur. Mungkin kesamaan kita cuma satu : makan rata2 dua kali. Haha.
Kalau dirumah, yang menguatkan ku adalah keluarga, maka kalau di tanah rantau sahabat ku inilah tempat berbagi rasa dan makna. Pun apa yang aku capai pun tak akan ada artinya tanpa support dari sahabat ku ini, supporting family.
Tak terasa, satu persatu mulai lulus, siap mengejar asa masing2. Terimakasih sudah berbagi suka duka tanpa pamrih bro. Semoga ga saling lupa, jangan sampai lah. Apalagi lupa ngirim undangan, hehe.
Dibalik wujud kita yang sekarang, selalu ada orang-orang yang berjasa di sekitar kita.
_
*diambil tanpa sengaja ketika lagi kumpul bareng. Minus dua pasukan lagi @asdhi_alfatih @atapurnama29 Thank you my bro @bamz_design @sabiq.abdul @rizki_nug @sholikhinikin
Depok, 17 Februari 2017

No comments:
Post a Comment