Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hikmah
yang aku dapatkan. Tentang perjuangan para senior yang terlebih dahulu
mengawali dakwah ekonomi syariah ini. Juga aku menyadari bahwa yang merapat ke
perjuangan ini tidak sedikit orang. Banyak kalangan yang juga berikhtiar dalam
bagiannya masing-masing mengembangkan ekonomi syariah, mulai dari tokoh, ulama,
para dosen, praktisi, senior organisasi, maupun rekan-rekan dari ratusan kampus
lainnya. Aku pun mencoba mengambil peran salah satunya menulis opini di
beberapa media massa. Tidak besar memang dampaknya, tapi setidaknya menegaskan
bahwa aku berjuang di barisan yang mana.
Dalam
perjalanannya, aku bersyukur ditakdirkan di tiga barisan yang sama-sama konsen
mengkaji ekonomi syariah. Tiga hal tersebut adalah IsEF (Islamic Economics
Forum) STEI, BES (Beastudi Ekonomi Syariah) Dompet Dhuafa, dan FoSSEI
(Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam). Ketiganya memiliki keterkaitan dan
saling mendukung satu sama lainnya.
Bagiku
IsEF adalah gerbang awal perjuangan itu. Memutuskan kuliah di kampus ekonomi
syariah, maka dalam benakku aku pun harus memilih organisasi yang menunjang
pengkajian ekonomi syariah di kampusku. Sehingga aku berijtihad untuk masuk
dalam organisasi IsEF. Benar saja, IsEF mengajarkanku tentang arti penting
keikhlasan, pengkajian ekonomi syariah, upgrade informasi terkini, dan juga
menganalisa isu-isu terkini seputar ekonomi bangsa. Ciri khas IsEF yang paling
menonjol adalah kajian rutinnya. Hal itulah yang kemudian membuatku makin
tertarik dengan ekonomi syariah. IsEF memberikan kemantapan dalam diriku
tentang betapa pentingnya berdakwah di bidang ini.
Memasuki
semester kelima masa perkuliahan, kampusku mengadakan kerjasama dengan Dompet
Dhuafa menyediakan Beastudi Ekonomi Syariah. Tujuan awal dari pencanangan
beasiswa ini adalah untuk mencetak calon pakar ekonomi syariah di masa yang
akan datang. Maka setiap penerima manfaatnya dibekali dengan berbagai soft
skill pendukung. Setelah melewati berbagai tahap seleksi, Alhamdulillah aku
terpilih sebagai salah satu penerima manfaat beasiswa ini. Benar saja, banyak
hal yang kudapatkan selama mengikuti rangkaian dan tahapan yang disiapkan oleh
pihak Pembina beasiswa. Kami dibekali dengan materi karakter dasar, dilanjut
dengan skill menulis, skill berbahasa asing, dan materi tentang kepemimpinan.
Tidak
hanya itu saja, kami pun dituntut untuk memiliki adik binaan dalam bentuk
mentoring ekonomi syariah. Prinsipnya adalah membagikan ilmu yang didapat
kepada para anggota binaan. Karena filososinya, ilmu itu bagaikan air, yang dia
akan menjadi sehat dan bermanfaat ketika dialirkan. Begitu juga ilmu, semakin
kita membagikannya, maka kebermanfaatan ilmu itu semakin besar bagi pemberinya.
Di sisi lain, kami pun dituntut untuk memiliki project social yakni
Gerakan Cinta Baca. Sebuah gerakan yang mengajak para remaja dan kalangan umum
tentang arti penting membaca.
Seringkali
aku mendapat banyak kejutan tatkala mengikuti program pembinaan BES, salah satu
hal yang paling kuingat adalah saat bertemu dengan penulis favoritku Ahmad
Fuadi (penulis novel Negeri 5 Menara), juga tatkala bertemu dengan Pak Yoyok,
Bupati Batang yang menuai banyak prestasi di kabupatennya. Pembinaan demi
pembinaan ku lalui. Dan memang sangat bermanfaat sekali. Adakalanya kami harus
berjumpa dengan masyarakat perkampungan, belajar bersosialisasi. Disisi lain
ada pula program kunjungan tokoh ekonomi syariah, yang membuat cakrawala ilmu
dan pengalaman makin luas. Agar ilmu tidak hampa, kamipun dibina dengan
melaksanakan diskusi mingguan rutin dengan dosen ahli yang tergabung dalam
SIBER-C, sebuah lembaga penelitian yang terdiri dari para dosen pakar di
kampusku.
Selanjutnya,
aku pun banyak belajar dari amanah yang kujalani di FoSSEI. Organisasi yang
menaungi sekitar 127 Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) di Indonesia ini
memang memang kental dengan romansa perjuangan. Sejak berdiri 17 tahun silam,
telah banyak capaian yang digapai oleh seniorku. Dan memang perjuangan FoSSEI
betul-betul agar ekonomi syariah bisa membumi di tanah Indonesia. Dalam
pergerakannya, FoSSEI banyak melakukan audiensi dengan berbagai pihak dan
instansi keuangan negara. Juga ditingkat kampus, memiliki perjuangan dengan
cerita tersendiri. Ada yang berhasil memperjuangkan terbentuknya program studi
ekonomi syariah di kampusnya setelah lebih dari sepuluh tahun KSEI berdiri.
Bagi kampus yang sudah memiliki jurusan ekonomi syariah, mereka pun berjuang
agar spirit anti maisyir, gharar dan riba juga menyebar ke berbagai fakultas
lainnya. Serta banyak kajian dan seminar ekonomi syariah yang diadakan berkat
kegigihan di KSEI dan FoSSEI.
Hal
yang menjadi spirit FoSSEI adalah bahwa perjuangan tidak akan pernah sukses
jika tidak sama-sama merapatkan barisan. Perlu ada ukhuwah yang dahsyat, dakwah
yang hebat dan kajian ilmiah yang kuat. Itulah yang selalu ditularkan dari
generasi ke generasi di FoSSEI ini. Untuk mendukung itu semua, spirit
silaturrahim lah yang menjadi penghubung semuanya.
Pada
akhirnya aku berfikir, bahwa jalan ini bukan lah jalan yang kupilih pada
awalnya, namun jalan yang dipilihkan Allah untukku. Dalam perjalanannya pun aku
pernah menulis tentang kisah Mr. Sjafruddin Prawiranegara dari sisi sejarah
saja. Dulu aku baru mengkaji peran beliau dalam kontribusinya membela bangsa
dan mempertahankan negara. Dan sekarang aku makin tahu ternyara beliau juga
memiliki jasa yang besar terhadap kemajuan ekonomi Indonesia. Beliau adalah
gubernur BI teladan, mantan menteri keuangan yang cerdas, pemimpin bangsa yang
jujur dan berintegritas. Maka sekarang
aku berharap agar dapat meneruskan perjuangan beliau memakmurkan bangsa dalam
bidang ekonomi bangsa, khususnya ekonomi Islam.


No comments:
Post a Comment