Pages

BERAWAL DARI HILANGNYA TAS (PART 2/4)

Sampailah aku di Depok, mengikuti rangkaian tes terakhir untuk mendapatkan beasiswa ekonomi syariah dari STEI SEBI. Aku mengecek seluruh berkas yang kubawa tadi. Semua ada di tasku, dan lengkap. Ternyata aku datang melaksanakan tes bersama calon mahasiswa dari daerah lain. Sambil menunggu jadwal wawancara, kami pun bercerita dan mengenalkan diri masing-masing. Begitulah perkenalan singkat kami. Sambil tak terasa giliran wawancaraku pun tiba. Aku menyimpan tasku diluar ruang wawancara. Wawancara lancar, namun hal yang tak kuduga adalah, tasku tiba-tiba saja tidak ku temukan.
Jujur ini memang  murni karena kecerobohanku. Kenalanku Bowo yang asal banten sudah berkali-kali mengingatkan agar aku membawa tas tempat tes. Tapi dengan alasan bahwa tasnya berat, akhirnya aku simpan saja tas itu di samping masjid, tempat yang menurutku cukup aman. Tapi benar yang diucapkan bowo, tak selang berapa lama setelah aku tes wawancara, tak itu sudah tak ada lagi di tempat semula.
            Waktu sudah menunjukkan 11.30, tak lama lagi kaum muslim laki-laki melaksanakan shalat jum’at. Aku bertanya-tanya pada orang yang ada disana, tapi tetap tak ada hasil. Ya sudahlah, barangkali setelah shalat jum’at tasku bisa ditemukan kembali. Semoga saja.
            Sejam berlalu, Rangkaian Shalat Jum’at pun telah selesai, tapi tak kunjung tasku ditemukan. Penjaga masjid yang sudah tau kejadian itu langsung menanyakan keberadaan tasku sebelumnya. Tak hanya sampai disana, beberapa mahasiswa dan dosen yang ada disana pun ikut turut tangan. Wah, sebuah pemandangan langka bagiku hari itu. Begitu kompaknya mereka turut bantu menemukan tasku, padahal kalau ku pikir-pikir, tak pantas rasanya orang sepertiku diperhatikan seperti itu.
“Dek, tadi kamu nyimpen tasnya dimana?”, ucap seorang penjaga masjid.
“ Disini pak, deket tiang masjid ini”, ujarku sambil menunjuk ke arah tiang masjid.”
“Lah kok bisa hilang dek”, kata seorang mahasiswa.
“Gak tau jga kak, tadi saya ikut tes wawancara, trus pas saya balik kesini tasnya udah gak ada.”
“Trus disana ada barang berharga gak dek?”
“Ada kak, disana ada……..”, sambil kusebutkan satu persatu.
“Oh, gitu”
“Syahid tolong Tanya lagi ke yang ada disekitar situ, coba bantuin nyari tasnya”, seorang dosen berkata pada seorang mahasiswa asal Karangpawitan Garut. “Nah, sekarang kamu sabar aja ya dek”, ucapnya lagi padaku.”
            Pencarian tasku berlangsung cukup lama. Tapi aku sangat menikmati pencarian ini, sebab aku merasa mendapat keluarga baru disini. Kepedulian kakak-kakak mahasiswa SEBI membuatku betah berlama-lama disini. Padahal aku siapa, padahal sebelumnya kami belum pernah kenalan, padahal mereka juga punya kesibukan, padahal padahal dan padahal. Tapi semua padahal itu mereka tolak dengan arti sebuah ukhuwah islam.
            Bicara tentang ukhuwah Islam, aku jad teringat malam lalu. Waktu itu aku baru saja sampai di Depok, lalu seorang mahasiswa yang naik sepeda langsung mengucap salam padaku dan a heru. Tadi shubuh pun sama, saat aku baru balik dari masjid, ada juga seorang mahasiswa yang berpapasan denganku mengucap salam dan langsung menjabat tanganku, padahal kami tak kenal. Didalam kos pun sama, aku dipersilahkan tidur di kasur springbed oleh kakak kos asal garut, sedangkan mereka sendiri hanya beralaskan kasur Palembang.
            Nyaman rasanya, tenang, tentram,  dan damai. Apakah dulu saat Rasulullah di Madinah seperti ini? Kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang sebelumnya belum pernah bertemu begitu akrab bagaikan sebuah keluarga. Saat Rasulullah datang, semua berlomba-lomba untuk menjamu kedatangan Rasulullah di rumahnya. Tak sampai disana, pedagang Muhajirin yang tak membawa harta sekoin pun, diberi modal cuma-cuma oleh kaum Anshar. Ah, tapi itu dulu, tapi anehnya hari itu hal seperti itu pun aku rasakan.
            Sambil terus mencari aku jadi ingat sibuknya mahasiswa SEBI pagi itu. Pagi itu hampir semua perkuliahan diliburkan. Sebab BEM SEBI sedang mengadakan TO (Training Organisasi) untuk mahasiswa baru SEBI, hari itu panitia akan mentraining adik-adik tingkatnya di villa puncak Bogor. Saat jam tujuh tadi pagi aku duduk sebentar di teras masjid sambil melihat kegiatan mereka, kuletakkan tasku dekat tas-tas peserta lain, yaitu dekat tiang masjid koridor kiri.
“Yang belum shalat dhuha silahkan shalat dulu, sambil menunggu kedatangan peserta lain”, seorang panitia berkata dengan bantuan sebuah microvon.
            Melihat banyak peserta TO yang ke masjid untuk shalat dhuha, aku pun jadi semangat untuk melakukan aktivitas yang sama. Dan sejak itulah aku meninggalkan tasku disana. Begitu asyiknya aku larut dalam lamunanku hingga akhirnya….
“Dek, kamu tadi nyimpen tas disini ya?”
“Iya pak”
“Sepertinya kebawa sama panitia TO dek.”
“Oh iya, pantesan tadi saya melihat tasmu sesuai ciri-ciri yang kamu ucapkan tadi.”
            Pencarian pun sejenak berhenti. Kak syahid langsung menelpon panitia, kak muhdar tak kalah bersemangatnya membantu ekspedisi pencari tasku.
“Ini lal, udah terhubung sama kak riyan. Coba sebutin lagi ciri-ciri tasmu!”
“Baik kak.”
“Kak riyan, ini Zilal. Kak, disana ada tas Eiger warna hitam dengan gantungan kunci UGM warna merah kuning gak kak?”
“Oh tunggu sebentar. Hmm,, yap ada.”
“Alhamdulillah. Kak, bisa langsung bawa ke SEBI lagi kan kak?”
“Gak tau dek, nanti kalau ada panitia kesana saya kabarin lagi deh.”
“Oke siap kak.”
            Alhamdulillah dadaku yang tadi menyempit, kini lapang lagi. Jantung yang begitu berdegup kencang, kini normal. Kekhawatiran yang tadi memuncak, sekarang turun lagi. Aku, tasku, tasku kita bisa berjumpa lagi. Ternyata kau tak apa-apa kawan. Aku rindu warnamu, aku rindu seisimu, aku rindu tasku.

            Lama menunggu, tasku tak kunjung datang. Ternyata kesibukan, jarak dan lalu lintas yang relatif macet membuat tak satupun panitia yang sempat mengantarkan tasku. Hingga akhirnya kak Endang datang menghampiriku.
“Namamu siapa dek?”
“Zilal kak.”
“Gimana? Tasmu udah kembali?”
“Belum kak.”
“Oh, kalau gitu nanti kita ke puncak menjemput tasmu Tapi saya mau syuro dulu. Kemungkinan kita bisa berangkat maghrib. Gak apa-apa kan?”
“Oh gapapa kak, makasih banyak kak mau bantu.”
“Ya tenang aja. Anggap aja kami disini sebagai keluarga barumu.”
            Seperti sangkaan awalku tadi, semua kakak-kakak mahasiswa disini sangat baik sekali. Pemandangan yang cukup aneh bagiku, tapi ini nyata.
            Sambil menunggu maghrib aku ditanya lagi oleh seorang mahasiswa.
“Dek, darimana?”
“Dari Garut kak.”
“Oh urang Garut, saya pun sama. Sekolah dimana dek?”
“Di Pesantren Rancabogo, yang deket simpang lima kak. Kakak tahu juga?”
“Tahu banget dek. Kan kakak dulu sekolahnya di SPP SPMA Garut.”
“Wah, deket banget dong kalau begitu.”
“Iya kak. Alhamdulillah akhirnya ada lagi orang Garut yang kuliah disini. Nanti kalau lulus sekosan bareng kakak ya. Kakak ga punya yang asal Garut di kosan.”
“Hmm, gitu kak. Yap siip a.”
“Emangnya adek rumahnya dimana?”
“Di padang kak.”
“Wah, jauh dong. Di garut udah berapa tahun?”
“Baru tiga tahun kak. Kebetulan ayah saya orang Garut asli, Ibu saya orang Payakumbuh”
“Wah, mantap dong. Alhamdulillah kalau gitu dek.”
            Tak selang berapa lama giliran Kak Fikri yang mendekatiku. Aku dapat bocoran dari Kak Syahid kalau Kak Fikri itu orang Padang. Dalam penantian panjangku menunggu tas, aku bercerita banyak dengan kak Fikri, mulai dari pengalamannya masuk STEI SEBI, apa yang dia rasakan selama berkuliah ekonomi Islam, suka duka dalam belajar, suasana keilmuan di kampus mungil ini, dan banyak pelajaran hidup lainnya. Dan sekarang tak terasa dan maghrib pun menjelang.
            Kak Endang datang, saatnya aku berangkat ke Puncak bersama Kak Endang. Setelah shalat kamipun bergegas. Tapi sebelum berangkat kami dicegat dulu oleh mantan Ketua BEM SEBI.
“Mau kemana Ndang?”
“Mau nganterin adek ini ke tempat TO kak. Tasnya kebawa sama panitia.”
“Oh mending tidur disini dulu aja, jauh soalnya. Saya besok mau ngisi materi disana. Tapi dicegat sama panitia, katanya jalannya jelek dan gak ada lampu.”
“Tapi kak, saya besok ujian dan butuh tas itu sekarang.”
“Gini aja, sekarang udah larut malam. Kalau kamu ke Puncak dulu kamu baliknya bakal lama. Kasian juga, kemaleman. Emangnya mau berangkat darimana?” “Dari lebak bulus.”
“Bus terakhir yang mau ke Garut jam berapa?”
“Jam setengah sepuluh kak.”
“Iya sekarang udah jam tujuh lebih. Lebih baik kamu berangkat sekarang, nanti tasmu di paket dari sini.”
“Tapi saya mau benar-benar memastikan kalau tas saya itu benar-benar ada.”
“Yaudah, nanti saya hubungi panitia buat ngirim foto tas mu ke saya.”
“Baik lah kak.”
            Lima menit berselang, dan benar, itu tasku Benar-benar tasku. Hatiku pun makin tenang. Akhirnya kak Syahid yang jadi mengantarkanku, pergi ke Lebak Bulus. Walaupun harus seperti ini akhirnya, tapi aku tak sedikitpun menyesali hari itu. Rasa kekeluargaan yang tinggi membuatku terhibur, bahkan merasa punya keluarga baru, walaupun hanya sehari disana.
            Besok Ujian Pesantren hari pertama, sedikitpun aku belum sempat menghafal. Tak apa lah, yang jelas aku besok bisa ujian. Jam dua shubuh akhirnya aku bisa menginjakkan kaki lagi di asrama. Alhamdulillah.

“Pelajaran hidup hari itu, Indahnya kekeluargaan.”

No comments:

Post a Comment