Pages

TERSESAT DI JALAN YANG LURUS (PART 1/4)

Tak pernah sama sekali terpikirkan olehku untuk bergabung dalam barisan dakwah ekonomi syariah. Berkenalan pun rasanya masih asing. Bagaimana tidak, sebab sebelumnya aku hanyalah seorang santri yang mondok untuk menuntut ilmu agama. Dan ketika pembagian jurusan aku malah memilih jurusan IPA. Dalam benakku, aku ingin sekali bercita-cita bahwa lulusan pesantren juga bisa menguasai ilmu eksakta. Dan dunia itulah yang aku geluti selama tiga tahun selama mondok di pesantren, selain menambah pemahaman agama tentunya.
            Aku merasakan, enam bulan terakhir masa studi di pesantren adalah puncak dari segala kegundahan. Semua santri sudah mulai sibuk dengan rencana kuliahnya masing-masing. Pun kelasku, syahdu sekali rasanya melihat sahabatku mulai sibuk membaca satu demi satu profil kampus idamannya. Mulai dari sekedar baca brosur, menuliskannya dalam daftar impian, melihat passing grade, atau berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling tentang bakat, minat dan pilihannya. Indah sekali masa-masa itu. Namun bagiku, inilah tekanan yang sesungguhnya.
Aku masih ragu dengan pilihanku, satu hal yang ku sadari, aku sama sekali tidak menikmati pelajaran eksakta yang menjadi target awalku. Aku terjebak dengan pilihan awalku. Sebab sampai masa akhir studiku pun, aku masih saja belajar berinteraksi dengan pelajaran biologi, fisika, dan kimia. Disisi lain aku malah menikmati pelajaran ilmu Al-Quran, ilmu hadits, sejakah kebudayaan Islam, sejarah, kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain yang menganalisa.
Satu hal yang sangat ku ingat adalah ciri dari pesantrenku yang mewajibkan santrinya menulis karya tulis sebagai salah satu syarat kelulusan. Hebatnya lagi, semua proses pengerjaan karya tulis betul-betul miniatur kuliah. Kami dituntut untuk melaksanakan seminar usulan penelitian, sidang proposal judul, mendapatkan guru pembimbing, tahap pengumpulan karya tulis, dan ditutup dengan sidang pengujian karya tulis. Tentu judul yang dipilih adalah berdasarkan minat masing-masing santri. Kami diberi kebebasan untuk menentukan tema bahasan karya tulis kami, artinya tidak harus sesuai dengan latar belakang jurusan di sekolah.  Dan lagi-lagi judul yang kupilih tidak sama sekali berhubungan dengan tema eksakta. Justru judulku berkaitan tentang tema sejarah dan ketokohan. Pembahasan yang kuambil adalah tentang “Peranan Mr. Sjahruddin Prawiranegara dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia”. Tema yang mengupas tentang perjuangan beliau mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun juga satu hal yang kuketahui, ternyata Mr. Sjafruddin pun adalah seorang ekonom dan menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama. Menarik sekali.
Hari demi hari telah ku lewati. Masa-masa studiku di pesantren makin usai saja. Dari ujian ke ujian aku lewati satu demi satu. Termasuk ujian akhir sidang karya tulis. Alhamdulillah karyaku mendapat nilai A dihadapan guru penguji. Selanjutnya mulailah berdatangan kakak alumni mensosialisasikan kampusnya ke pesantrenku. Aku mulai menemukan titik terang kemana aku harus melanjutkan studi. Masih ingat betul, bahwa hari itu datang rombongan STEI SEBI melakukan sosialisasi terhadap santri kelas tiga aliyah. Sebuah kampus yang memiliki idealisme membumikan ekonomi syariah. Aku adalah salah satu diantaranya yang begitu syahdu memperhatikan satu per satu penjabaran detail dari pihak dosen yang hadir. Juga salah satu yang menarik perhatianku adalah tawaran beasiswa selama di kampus itu. Dalam pikiranku, memang ada keinginan untuk meraih beasiswa selama kuliah. Paling tidak dapat membantu meringankan beban orang tuaku nantinya.

Tes beasiswa pun dilaksanakan. Tes pertama yang harus dilaksanakan adalah tes potensi akademik yang langsung dilaksanakan di pesantrenku. Seminggu setelah tes, akhirnya hasilnya pun keluar. Alhamdulillah aku dinyatakan lulus. Tes kedua adalah tes tertulis  berupa mata pelajaran inti dan ekonomi. Dan tesnya pun kembali diadakan di pesantrenku, berhubung ada alumni yang hadir untuk mewakili tes disana. Dan aku pun bersyukur, sebab aku kembali bisa melewati tahap tes ini. Dan tahap tes ketiga adalah wawancara, aku harus berangkat langsung menuju kampus STEI SEBI di Depok. Hal yang menarik adalah, masa tes ketiga ku ini berada diantara waktu ujian lainnya. Bahkan sebelum masa Ujian Nasional berlangsung. Inilah keputusan yang akhirnya ku ambil, bahwa aku berniat betul untuk mengejar studi di STEI SEBI. Hingga akhirnya jadwal berangkatpun ku atur. Dengan mempersiapkan segala persiapan berkas, laporan, mental dan lainnya, akhirnya aku bertolak dari Garut ke Depok.

No comments:

Post a Comment