Tak pernah sama sekali terpikirkan olehku untuk bergabung dalam
barisan dakwah ekonomi syariah. Berkenalan pun rasanya masih asing. Bagaimana
tidak, sebab sebelumnya aku hanyalah seorang santri yang mondok untuk menuntut
ilmu agama. Dan ketika pembagian jurusan aku malah memilih jurusan IPA. Dalam
benakku, aku ingin sekali bercita-cita bahwa lulusan pesantren juga bisa
menguasai ilmu eksakta. Dan dunia itulah yang aku geluti selama tiga tahun
selama mondok di pesantren, selain menambah pemahaman agama tentunya.
Aku merasakan,
enam bulan terakhir masa studi di pesantren adalah puncak dari segala
kegundahan. Semua santri sudah mulai sibuk dengan rencana kuliahnya
masing-masing. Pun kelasku, syahdu sekali rasanya melihat sahabatku mulai sibuk
membaca satu demi satu profil kampus idamannya. Mulai dari sekedar baca brosur,
menuliskannya dalam daftar impian, melihat passing grade, atau berkonsultasi
dengan guru bimbingan konseling tentang bakat, minat dan pilihannya. Indah
sekali masa-masa itu. Namun bagiku, inilah tekanan yang sesungguhnya.
Aku masih ragu dengan pilihanku, satu hal yang ku sadari, aku sama
sekali tidak menikmati pelajaran eksakta yang menjadi target awalku. Aku
terjebak dengan pilihan awalku. Sebab sampai masa akhir studiku pun, aku masih
saja belajar berinteraksi dengan pelajaran biologi, fisika, dan kimia. Disisi
lain aku malah menikmati pelajaran ilmu Al-Quran, ilmu hadits, sejakah
kebudayaan Islam, sejarah, kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain yang
menganalisa.
Satu hal yang sangat ku ingat adalah ciri dari pesantrenku yang
mewajibkan santrinya menulis karya tulis sebagai salah satu syarat kelulusan.
Hebatnya lagi, semua proses pengerjaan karya tulis betul-betul miniatur kuliah.
Kami dituntut untuk melaksanakan seminar usulan penelitian, sidang proposal
judul, mendapatkan guru pembimbing, tahap pengumpulan karya tulis, dan ditutup
dengan sidang pengujian karya tulis. Tentu judul yang dipilih adalah
berdasarkan minat masing-masing santri. Kami diberi kebebasan untuk menentukan
tema bahasan karya tulis kami, artinya tidak harus sesuai dengan latar belakang
jurusan di sekolah. Dan lagi-lagi judul
yang kupilih tidak sama sekali berhubungan dengan tema eksakta. Justru judulku
berkaitan tentang tema sejarah dan ketokohan. Pembahasan yang kuambil adalah
tentang “Peranan Mr. Sjahruddin Prawiranegara dalam Pemerintahan Darurat
Republik Indonesia”. Tema yang mengupas tentang perjuangan beliau
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun juga satu hal yang kuketahui,
ternyata Mr. Sjafruddin pun adalah seorang ekonom dan menjadi Gubernur Bank
Indonesia pertama. Menarik sekali.
Hari demi hari telah ku lewati. Masa-masa studiku di pesantren
makin usai saja. Dari ujian ke ujian aku lewati satu demi satu. Termasuk ujian
akhir sidang karya tulis. Alhamdulillah karyaku mendapat nilai A dihadapan guru
penguji. Selanjutnya mulailah berdatangan kakak alumni mensosialisasikan
kampusnya ke pesantrenku. Aku mulai menemukan titik terang kemana aku harus
melanjutkan studi. Masih ingat betul, bahwa hari itu datang rombongan STEI SEBI
melakukan sosialisasi terhadap santri kelas tiga aliyah. Sebuah kampus yang
memiliki idealisme membumikan ekonomi syariah. Aku adalah salah satu
diantaranya yang begitu syahdu memperhatikan satu per satu penjabaran detail
dari pihak dosen yang hadir. Juga salah satu yang menarik perhatianku adalah
tawaran beasiswa selama di kampus itu. Dalam pikiranku, memang ada keinginan
untuk meraih beasiswa selama kuliah. Paling tidak dapat membantu meringankan
beban orang tuaku nantinya.
Tes beasiswa pun dilaksanakan. Tes pertama yang harus dilaksanakan
adalah tes potensi akademik yang langsung dilaksanakan di pesantrenku. Seminggu
setelah tes, akhirnya hasilnya pun keluar. Alhamdulillah aku dinyatakan lulus.
Tes kedua adalah tes tertulis berupa
mata pelajaran inti dan ekonomi. Dan tesnya pun kembali diadakan di
pesantrenku, berhubung ada alumni yang hadir untuk mewakili tes disana. Dan aku
pun bersyukur, sebab aku kembali bisa melewati tahap tes ini. Dan tahap tes
ketiga adalah wawancara, aku harus berangkat langsung menuju kampus STEI SEBI
di Depok. Hal yang menarik adalah, masa tes ketiga ku ini berada diantara waktu
ujian lainnya. Bahkan sebelum masa Ujian Nasional berlangsung. Inilah keputusan
yang akhirnya ku ambil, bahwa aku berniat betul untuk mengejar studi di STEI
SEBI. Hingga akhirnya jadwal berangkatpun ku atur. Dengan mempersiapkan segala
persiapan berkas, laporan, mental dan lainnya, akhirnya aku bertolak dari Garut
ke Depok.

No comments:
Post a Comment