Pages

PENUH HIKMAH (PART 3/4)

Dua minggu berselang, akhirnya tas yang ku tunggu kembali lagi ke tanganku. Meskipun awalnya khawatir, namun akhirnya banyak hal yang bisa ku syukuri dari peristiwa hilangnya tasku itu. Yakni tentang arti kekeluargaan. Ternyata hal tersebut yang menjadi penguat hatiku untuk masuk STEI SEBI. Dan di hari yang sama, ternyata adalah pengumuman tes kelulusan beasiswa ekonomi syariah. Tiba-tiba Kak Syahid meneleponku bahwa aku lulus sebagai salah satu penerima beasiswa di STEI SEBI. Tak begitu saja percaya, aku langsung memastikan kepastian lulusku dengan mengecek situs resmi kampus. Benar saja, aku tidak menyangka karena namaku tertera sebagai salah penerima beasiswa ekonomi syariah tersebut. Dan sejak itulah aku benar-benar mantap bahwa memperjuangkan dakwah ekonomi syariah adalah jalan hidupku.
            Selama masa kuliah, akupun mulai berkenalan dengan banyak sahabat lainnya dari berbagai daerah. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, kami disatukan dalam satu kampus mungil ini. Ada yang telah lolos di Fakultas Kedokteran, tapi memilih bergabung dengan kampus ini, ada yang ajakan alumni sekolahnya, ada pula yang sebelumnya berikhtiar masuk di berbagai perguruan tinggi, yang ragu dengan pilihan kuliah dan bahkan yang awalnya tak ada terbersit niat kuliah. Tapi satu hal yang kuyakini adalah bahwa memang takdir Allah yang mengarahkan kami untuk disatukan di kampus ini.

            Karena memang masih hal baru, tentu saja aku banyak beradaptasi dengan lingkungan dan suasana disini. Enam bulan pertama adalah masa yang cukup sulit bagiku. Bagaimana tidak, sebab berbagai istilah tentang ekonomi masih sangat asing ditelingaku. Beranjak ke semester berikutnya, barulah aku mulai merasa nyaman dengan lingkungan baruku ini. Inilah uniknya ekonomi syariah. Selain belajar konsep keuntungan, kerugian laba dan rugi, kitajuga diajarkan dengan konsep keberkahan. Sebuah konsep yang tidak diajarkan dalam teori ekonomi pada umumnya. Jika berkaca pada kutipan dari Adam Smith, maka istilah yang tepat untuk menggambarkan teori keberkahan ini adalah ‘invisible hand’. Yakni ada tangan yang ikut campur dalam perubahan siklus ekonomi ini. Namun teori ekonomi global tak secara detail menganggap itu sebagai campur tangan Tuhan. Bahkan mereka terkesan mengesampingkan Tuhan. Sebab itulah kita selalu mendengar bahwa Ekonomi adalah ‘Mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya’. Itulah konsep kapitalisme. Konsep ini mengajarkan kita bahwa boleh saja manusia itu menghalalkan segala cara, terutama dalam mengeksploitasi hasil bumi. Merusak lingkungan pun boleh jika itu mendatangkan keuntungan, itulah teori ekonomi yang diajarkan turun temurun. Dan inilah garis pembatas antara ekonomi syariah dengan ekonomi kapitalisme. Islam mengenal bahwa kita boleh mencari keuntungan, tapi dilarang merusak lingkungan.
            Hal yang sering dibahas pada semester-semester selanjutnya adalah bahasan tentang fiqh muamalah. Kajian tentang haramnya riba adalah materi santapan kami sehari-hari. Selama ini orang cuek akan bahasan tentang riba ini, bahkan menganggapnya sepele. Padahal permasalahan riba adalah permasalahan serius. Kami sering dihadapkan pada ayat dan hadist yang keras menentang adanya riba. Mulai dari ayat yang menjelaskan perintah memerangi orang yang memakan riba, bahkan dalam satu hadits dikatakan bahwa dosa riba lebih besar daripada menzinai ibunya sendiri. Inilah yang menjadi tugas kami untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi tersebut.

            Aku juga makin sering bercengkerama dengan bahasan akad-akad dalam transaksi ekonomi. Atau dalam hal lain, inilah yang sering ditanyakan orang khususnya jika ada yang bertanya tentang perbankan syariah. Satu hal yang sering aku jelaskan adalah, bahwa produk dalam perbankan syariah tersebut sudah disaring melalui fatwa yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Lembaga itulah yang ketat menyaring penetapan produk bank syariah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Sehingga anggapan bahwa perbankan syariah tidak syariah rasanya sangat tidak berasalan. Itulah beberapa kajian yang kami lakukan dalam masa perkuliahan. Satu hal yang aku sadari adalah perjuangan membumikan ekonomi syariah memang berat untuk dilalui. Sebab masih banyak orang yang belum paham dan mendukung sepenuhnya pembumian ekonomi syariah ini. Dan itulah yang menjadi tugas dakwah kami.

No comments:

Post a Comment