Dua minggu berselang, akhirnya tas yang ku
tunggu kembali lagi ke tanganku. Meskipun awalnya khawatir, namun akhirnya
banyak hal yang bisa ku syukuri dari peristiwa hilangnya tasku itu. Yakni
tentang arti kekeluargaan. Ternyata hal tersebut yang menjadi penguat hatiku
untuk masuk STEI SEBI. Dan di hari yang sama, ternyata adalah pengumuman tes
kelulusan beasiswa ekonomi syariah. Tiba-tiba Kak Syahid meneleponku bahwa aku
lulus sebagai salah satu penerima beasiswa di STEI SEBI. Tak begitu saja percaya,
aku langsung memastikan kepastian lulusku dengan mengecek situs resmi kampus.
Benar saja, aku tidak menyangka karena namaku tertera sebagai salah penerima
beasiswa ekonomi syariah tersebut. Dan sejak itulah aku benar-benar mantap
bahwa memperjuangkan dakwah ekonomi syariah adalah jalan hidupku.
Selama
masa kuliah, akupun mulai berkenalan dengan banyak sahabat lainnya dari
berbagai daerah. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, kami disatukan dalam
satu kampus mungil ini. Ada yang telah lolos di Fakultas Kedokteran, tapi
memilih bergabung dengan kampus ini, ada yang ajakan alumni sekolahnya, ada
pula yang sebelumnya berikhtiar masuk di berbagai perguruan tinggi, yang ragu
dengan pilihan kuliah dan bahkan yang awalnya tak ada terbersit niat kuliah.
Tapi satu hal yang kuyakini adalah bahwa memang takdir Allah yang mengarahkan
kami untuk disatukan di kampus ini.
Karena
memang masih hal baru, tentu saja aku banyak beradaptasi dengan lingkungan dan
suasana disini. Enam bulan pertama adalah masa yang cukup sulit bagiku.
Bagaimana tidak, sebab berbagai istilah tentang ekonomi masih sangat asing
ditelingaku. Beranjak ke semester berikutnya, barulah aku mulai merasa nyaman
dengan lingkungan baruku ini. Inilah uniknya ekonomi syariah. Selain belajar
konsep keuntungan, kerugian laba dan rugi, kitajuga diajarkan dengan konsep
keberkahan. Sebuah konsep yang tidak diajarkan dalam teori ekonomi pada
umumnya. Jika berkaca pada kutipan dari Adam Smith, maka istilah yang tepat
untuk menggambarkan teori keberkahan ini adalah ‘invisible hand’. Yakni ada
tangan yang ikut campur dalam perubahan siklus ekonomi ini. Namun teori ekonomi
global tak secara detail menganggap itu sebagai campur tangan Tuhan. Bahkan
mereka terkesan mengesampingkan Tuhan. Sebab itulah kita selalu mendengar bahwa
Ekonomi adalah ‘Mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha
sekecil-kecilnya’. Itulah konsep kapitalisme. Konsep ini mengajarkan kita bahwa
boleh saja manusia itu menghalalkan segala cara, terutama dalam mengeksploitasi
hasil bumi. Merusak lingkungan pun boleh jika itu mendatangkan keuntungan,
itulah teori ekonomi yang diajarkan turun temurun. Dan inilah garis pembatas
antara ekonomi syariah dengan ekonomi kapitalisme. Islam mengenal bahwa kita
boleh mencari keuntungan, tapi dilarang merusak lingkungan.
Hal
yang sering dibahas pada semester-semester selanjutnya adalah bahasan tentang
fiqh muamalah. Kajian tentang haramnya riba adalah materi santapan kami
sehari-hari. Selama ini orang cuek akan bahasan tentang riba ini, bahkan
menganggapnya sepele. Padahal permasalahan riba adalah permasalahan serius.
Kami sering dihadapkan pada ayat dan hadist yang keras menentang adanya riba.
Mulai dari ayat yang menjelaskan perintah memerangi orang yang memakan riba,
bahkan dalam satu hadits dikatakan bahwa dosa riba lebih besar daripada
menzinai ibunya sendiri. Inilah yang menjadi tugas kami untuk menyampaikan
pesan-pesan ilahi tersebut.
Aku
juga makin sering bercengkerama dengan bahasan akad-akad dalam transaksi
ekonomi. Atau dalam hal lain, inilah yang sering ditanyakan orang khususnya
jika ada yang bertanya tentang perbankan syariah. Satu hal yang sering aku
jelaskan adalah, bahwa produk dalam perbankan syariah tersebut sudah disaring
melalui fatwa yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia
(DSN-MUI). Lembaga itulah yang ketat menyaring penetapan produk bank syariah
yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Sehingga anggapan bahwa perbankan
syariah tidak syariah rasanya sangat tidak berasalan. Itulah beberapa kajian
yang kami lakukan dalam masa perkuliahan. Satu hal yang aku sadari adalah
perjuangan membumikan ekonomi syariah memang berat untuk dilalui. Sebab masih
banyak orang yang belum paham dan mendukung sepenuhnya pembumian ekonomi
syariah ini. Dan itulah yang menjadi tugas dakwah kami.


No comments:
Post a Comment