PANGKALAN, KENANGAN DAN KAMPUNG KELAHIRAN
Tiba-tiba saja pikiranku jauh menerawang pada perjalananku dari Payakumbuh ke Pekanbaru. Satu hari menjelang aku melanjutkan perjalananku menuju Depok. Pagi-pagi sekali aku sudah harus bangun agar tak ketinggalan mini bus jenis elf yakni PO. Ayah. Mini bus tersebut sudah harus berangkat jam 6 pagi dari daerah Tanjung Pati, tak jauh dari rumahku. Seluruh perlengkapan sudah kusiapkan, baik koper maupun tas serta segala isinya. Pagi itu seusai sholat shubuh aku diantar oleh Apa dan Ama menuju bus Ayah. Setelah sarapan lontong, bus pun datang, aku berangkat menuju Pekanbaru.
Pagi itu penumpang yang terisi baru berjumlah 4 orang saja. Maklum, karena baru tempat pemberhentian pertama. Sengaja ku pilih duduk paling belakang dan sejajar dengan supir agar aku berada di dekat jendela, sehingga aku bebas membuka dan menutup jendela sekehendakku agar aku tak mabuk perjalanan, atau bahkan terlalu dingin oleh angin.
Tak terasa, sejam perjalan telah berlalu. Setelah melewati Kelok 9, jalan lintas Sumbar-Riau yang begitu memukau, aku pun sampai di tempat perhentian kedua, nagari Pangkalan. Kampung kelahiranku dan tempat dimana ibuku berasal. Nagari Pangkalan sendiri terletak di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota. Persis berada di jalan lintas Sumbar Riau dan berada diantara Kota Payakumbuh-Sumbar dan Kabupaten Kampar-Riau.
Jarak antara Payakumbuh dan Pangkalan kurang lebih 50 Km, keduanya dipisahkan oleh hutan asri dan kelok 9. Namun lima tahun terakhir hutan tersebut mulai rusak, baik karena alih fungsi hutan menjadi tambang maupun longsor setahun terakhir. Agaknya hal itulah yang membuat daerahku dilanda banjir dua tahun terakhir. Bahkan yang tahun ini merupakan yang terparah sepanjang 20 tahun terakhir.
Aku sudah sampai di Pangkalan. Supir berhenti sejenak, menaikkan penumpang lainnya.
Aku masih di dalam mini bus tersebut, dan lamunanku pecah tatkala mendengar supir bus berdialog dengan supir pengganti asli Pangkalan. Aku senyum sendiri, sebab aku mengenal betul logat dan dialeg bahasa minang khas orang Pangkalan.
"Baghu tibo lu Pak? Jak bilo daghi Kumbua le?"
Kalau dalam bahasa minang umumnya, "Baru tibo lu Pak? Sajak bilo dari Payokumbuah lai?"
Dalam dialek Pangkalan, huruf 'r' diganti dengan 'gh' atau dalam bahasa arabnya huruf 'gho' atau 'ghin'. Misalnya dalam bahasa Indonesia 'beras', maka dalam bahasa Minang umumnya disebut 'bareh' atau 'boreh', maka dalam dialek Pangkalan kata 'boreh' berganti dengan kata 'boghe'.
Memang harus diakui, kekayaan bahasa minang ini memang agak jarang dibahas. Tapi bagiku yang pernah tinggal di 3 kecamatan (sekaligus sekolah di 3 SD) yang berbeda di Kabupaten Lima Puluh Kota setidaknya sedikit tahu tentang perbedaan dialek ini. Aku pun tersenyum sendiri dengan keragaman bahasa daerah tersebut.
Bahasa Minang memang memiliki beragam dialek atau logat. Bahkan kata 'terus' dalam bahasa Indonesia, dapat diterjemahkan dalam bahasa Minang menjadi 'taruih', 'toruih', 'toruh', 'torui', 'towi', dan lainnya. Itu semua tegantung daerahnya masing-masing.
Sejam di Pangkalan, bus terisi penuh oleh sekitar 20 orang. Perjalanan berlanjut, melewati sungai Batang Maek dan Masjid Raya Pangkalan yang kulihat di sebelah kiri jalan. Dari kejauhan pun aku melihat rumah nenek yang tampak mulai lusuh sebab digenangi banjir dua tahun terakhir. Pun nenek telah meninggalkan kami dua tahun yang lalu, sehingga kondisi rumah tak begitu terawat seperti saat nenek masih ada. Terkait kisah nenek, InsyaAllah akan kuceritakan di bagian kisah lain setelah ini.
Bus melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru. Bus berjalan, aku beranjak, suara ocehan seisi bus menghilang, bersama hilangnya jejak bus meninggalkan Ranah Minang di perbatasan bumi Lancang Kuning.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment