Apa kabar bu? Sudah lama aku tak mendengar kabar tentang kampungmu itu- Halaban. Tentu makin asri saja. Makin indah untuk dikunjungi. Sejuk untuk dikunjungi. Seru untuk dijelajahi. Tapi maaf, belum sempat juga aku mengunjungi kampungmu itu.
Sibuk apa sekarang bu? Pasti ibu sibuk menata hati dan menyusun mimpi. Juga bercengkrama dengan sanak saudara yang dicinta dan mencintai ibu. Menyenangkan memang, berada pada lingkungan yang tak begitu jauh dari keluarga. Alhamdulillah. Semoga saja begitu.
Dimana sekarang bu? Entah ibu masih berkutat dengan masa studi atau mengistirahatkan diri sejenak dengan keluarga. Aku tak tahu betul. Tapi jalani keduanya saja bu. Toh keduanya baik lagi membaikkan.
Boleh aku cerita bu? Tiba-tiba aku rindu dengan suasana syahdu kampungmu itu. Walaupun kaki ini mungkin belum pernah menginjakkan di tanah Halaban, tapi aku punya kesan sendiri dengan tanah itu. Dulu aku begitu bersemangat membahas perjuangan anak bangsa di PDRI. Dan aku tahu dari buku-buku bahwa kampung ibu menjadi saksi sejarah pertahanan kedaulatan negara ini. Halaban menjadi salah satu kata yang menghiasi lembaran karya tulisku di masa studi menjadi santri dulu.
Makasih bu. Telah berbagi cerita denganku. Atau telah memberi kesempatan bercerita kepadamu. Selamat melanjutkan aktivitas bu psikolog. Salam hangat dari Depok.

No comments:
Post a Comment