Pages

TEROMPET SEKALI TIUPAN

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ
Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup (QS. Al-Haqqah : 13)

Tak sengaja, tiba-tiba aku terhenti saat membaca ayat ini. Maknanya begitu mendalam, tak bisa dianggap sembarangan. Sebab, kata-katanya mengingatkan manusia tentang dahsyatnya hari sesudah hidup didunia. Dia adalah jeda antara berakhirnya kehidupan dunia, dan berawalnya kehidupan akhirat. Itulah tiupan terompet sangkakala, tugas yang dibebankan kepada Malaikat isrofil. Tiupan sangkakala yang merubah segalanya.

Dalam tafsir Jalalain, makna dari 'maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup' adalah untuk tiupan yang kedua kalinya. Yakni sebagai tanda bermulanya peradilan diantara semua makhluk. Sedangkan menurut Quraish Shihab, ketika sangkakala ditiup sekali tiupan saja, maka diangkatlah bumi dan gunung. Kemudian bumi dan gunung dibenturkan sekali bentur. Sungguh mahadahsyat kehendak Allah.

Apa yang disampaikan oleh Quraish Shihab tersebut memang didasarkan pada ayat setelahnya. 'Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.' (QS. Al-Haqqah : 14). Bumi adalah lambang keamanan dan ketentraman, diatasnyalah manusia bisa mencari kehidupan dan ketenangan. Sedangkan gunung adalah tanda kekokohan dan kemantapan. Allah jadikan gunung sebagai pasak bagi bumi, paku bagi hamparan alam. 'Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak? (QS. An-Naba' : 6-7). 

Maka tatkala bumi dan langit dicabut dari akarnya, dibenturkan sekali bentur, tidakkah manusia akan takut kepadanya? Begitulah bukti keMahaBesaran Allah. Dan manusia pasti akan merasa kerdil dan kecil dengan diperlihatkannya pemandangan yang mahahebat ini.

Lalu, masihkah kita dapat tersenyum saat membaca ayat-ayat yang menjelaskan tentang gambaran akhir zaman ini? Semoga Allah senantiasa menambah keimanan kita, sebagai bekal untuk memperoleh surganya. Akhirnya penulis berharap agar kita semua diberi ketulusan dalam berdakwah, keikhlasan dalam menyampaikan syiar, hingga hati kita berharap pujian bukan kepada penduduk bumi, tapi cukuplah pujian dan ridho dari penduduk langit. Aamiiiiin, Allahumma Aamiiiiin.
Wallahu a'lam bish-shawaab.

No comments:

Post a Comment