Pages

GADIS AL-HAQQAH : 13

Hari ini kusadari - lagi. Setelah sekian lama aku berjuang tanpa nasihat yang biasanya sering mengalir tanpa lelahnya. Tentang segala tekad yang menjadikan aku dan kamu berada pada posisi saling berjuang menuntaskan mimpi. Tentang ikhtiar yang dilakukan agar cita-cita masing-masing tak saling terganggu. Tentang upaya yang aku dan kamu usahakan untuk menyelesaikan tugas-tugas sebagai mahasiswa tingkat akhir bisa berjalan dengan semestinya. Hingga pada akhirnya kita larut pada mimpi masing-masing.

Hari ini kusadari -lagi. Tidak mudah ternyata berjuang tanpa nasehat itu. Kucoba mengalihkan perhatianku pada kutipan nasihat orang-orang sukses yang ku pandang hebat. Juga pada dalil-dalil agama yang penuh nasihat. Juga pada keluarga, sahabat, orang terdekat yang bisa menambah semangatku dalam berjuang. Cukup ampuh memang, namun tetap saja ada nasihat yang tetap saja kutunggu.

Hari ini kusadari -lagi. Dengan segala upaya yang kuusahakan tadi, aku alihkan perhatianku sejenak pada sumber-sumber yang sama sekali tak berkaitan tentang bidang pendidikanku. Ku bandingkan ilmu yang ku pelajari saat ini dengan yang kau pelajari saat ini. Ku bahas ulasan dalil agama yang sama sekali tidak berkaitan tentang tugas akhirku. Ku ulas perkara takdir yang belum tentu membuat takdirku sesuai yang ada dalam pikiranku. Semua terulas dengan mudah, bahkan begitu mudahnya aku  menuliskannya, sampai-sampai tulisan yang harusku tuntaskan segera belum tergarap optimal.

Hari ini kusadari -lagi. Bahwa namamu adalah nama yang sakral yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Bahwa mataku sering terpaku malu ketika terhenti pada ayat itu. Bahwa aku berharap, maksudku takdzim pada ayat itu karena Rab-ku, bukan karena makhluk yang diciptakan Rab-ku. Dan aku berharap, bahwa sepenggal kata yang terdapat dalam ayat itu dijadikan insan yang baik lagi membaikkan.

Hari ini kusadari -lagi. Ternyata perjuangan yang kulakukan untuk menuntaskan amanah sebagai mahasiswa tingkat akhir itu tidaklah mudah. Aku masih terpaku dengan tantangan-tantangan itu. Terkadang aku malah kalah oleh permakluman diri. Permakluman yang justru menghambatku dalam menuntaskan tugas itu. Entah sebab UAS lah, takehome tugas lah, merasa lelah lah, susah sumber lah, dan lainnya. Sesuatu yang seharusnya tak jadi penghalang untuk merampungkan amanah tugas akhir ini.

Hari ini kusadari -lagi. Ingin sekali aku berdiskusi denganmu. Menceritakan segala kendala yang hadir tersaji dihadapanku. Mendengar petatah-petitih nasihat yang sering kau padukan dengan latar belakang pendidikanmu. Aku pun takdzim menyimak setiap kata-kata dan istilah baru yang sebelumnya tak pernah ku kenal. Namun, bagaimana mungkin aku harus menyampaikannya sekarang, sedangkan tugas utamaku belum juga usai. Sebab itu bisa menjadi pelanggaran akan tekad.

Hari ini kusadari -lagi. Aku hanyalah manusia yang sering mengeluh. Dan butuh orang yang setia mendengarkan setiap untaian keluhanku. Bahkan tak perlu berkomentar banyak. Mendengarkan saja sudah cukup bagiku. Hingga ditutup dengan untaian kata nasihat singkat padat dan mengena ke jiwa.

Hari ini kusadari -lagi. Bahwa selalu ada Allah yang menolong setiap tekad dan keinginan kita. Dia lah tempat mengeluh, yang tak pernah mengeluh balik. Dia juga yang menjadikan manusia penuh kekurangan, sehingga harus saling membantu untuk sempurna dan menyempurnakan. Dia lah yang menjadikan segala sesuatu berpasang-pasangan dan memiliki perbedaan. Sebab, dengan perbedaanlah hidup menjadi penuh arti.

Hari ini kusadari -lagi. Bahwa aku menantikan diskusi panjang dan nasihatmu itu.

No comments:

Post a Comment