“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [ Al-An'am :59]Takdir yang diusahakan disebut sebagai takdir muallaq. Seseorang yang dungu akan menjadi pintar ketika belajar. Orang yang lemah, akan menjadi kuat ketika terus berlatih beladiri. Orang miskin akan menjadi kaya ketika dia tekun bekerja. Itu beberapa contohnya.
Sedangkan takdir mubram adalah takdir yang ditetapkan. Urusan sakit, sehat, musibah, hidup dan mati adalah beberapa contohnya. Tapi untuk perkara jodoh, apakah masuk dalam kategori takdir muallaq atau taqdir mubram? Kalaulah jodoh itu telah ditetapkan siapa orangnya, tapi bolehkah kita mengusahakannya?
Syaikh Ibnu Ath-Thailah menuliskan kata-kata yang indah tentang perkara takdir ini, "Bukan ketidakjelasan jalan yang dikhawatirkan dari dirimu. Yang dikhawatirkan adalah menangnya hawa nafsu atas dirimu."
Hei, apa aku datang disaat yang tidak tepat?

No comments:
Post a Comment