Pages

RANTAI PASOKAN HALAL (ANALISIS KAJIAN PEREDARAN DAGING BABI DI YOGYAKARTA)

Semester lalu dosen pengampu mata kuliah Sains Produk Halal memberi kami tugas menarik, mesti menjawab enam pertanyaan dan harus dipresentasikan tiga minggu mendatang. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, dan mulai membagi peran.

Pertanyaan tersebut ialah :
Tugas Kelompok
1. Babi di Jogja masuk dari daerah mana saja?
2. Jumlahnya berapa?
3. Dipotong di RPH mana saja?
4. Dagingnya dijual dimana saja?
5. Harga dagingnya berapa per kg, dan dipengaruhi oleh apa?
6. Omzet pengeluaran per kios berapa? Lalu kapan omzetnya meningkat?

Sepintas tidak ada yang aneh dari pertanyaan yang diberikan oleh beliau. Namun jika disimak saksama, enam pertanyaan tersebut memaksa kami setidaknya ke beberapa tempat : kandang babi, Rumah Potong Hewan (RPH), pasar, bahkan konsumennya.

Aku paham betul maksud tugas ini, dosen kami ingin memberikan pengalaman riil lapangan kepada kami, bahwa jika ingin paham manajemen peredaran produk halal, kami harus mengerti bagaimana peredaran daging non halal (haram) di sekitar kami, sebab itulah faktor pencemar makanan halal. Tugas itu cukup memberikan challenge kepada kami, menggali informasi seputar halal supply chain, dari perspektif peredaran produk haram yang harus dihindari para produsen makanan halal.

Tugas pun dimulai, kami membagi analisis ke dalam dua pengelompokan, yakni produsen daging babi (pemilik kandang), dan pasar. Maka kami berangkat menuju daerah Kadipiro di Bantul, disana memang terdapat kandang babi yang sudah ada dari puluhan tahun lalu. Pemiliknya adalah keturunan ketiga dari keluarganya.



Ketika kami sampai, kami disambut baik oleh pemiliknya. Beliau mengatakan bahwa sebelumnya memang banyak mahasiswa yang datang ke kandangnya, namun dari fakultas pertenakan. Namun kali ini yang datang adalah mahasiswa Ekonomi Islam, dengan sub kuliah tentang industri halal.

Setelah berbincang cukup lama, kami diberi kesempatan untuk masuk ke dalam kandang. Begitu pintu dibuka, aroma pesing menyelinap ke seantero indera penciuman kami. Sebab memang begitulah aroma hewan itu. Kami tetap tersenyum dan antusias mendengar pemaparan sang Ibu pemilik. Hewan-hewan disana ternyata juga diberi pakan khusus, seperti dedak, protein dan semacamnya.

Di kandang ada beberapa sekat, guna pemisahan babi yang kecil, remaja dan yang dewasa. Babi dewasa lah yang siap untuk diedarkan di pasaran.

Melanjut ke pertanyaan yang memang harus kami tujukan ke beliau, berdasarkan pemaparan sang Ibu, beliau rata-rata menjual 2 babi sehari di pasaran. Namun tetap saja ada kesan bahwa beliau kurang nyaman dengan pertanyaan kami, apakah yang disampaikan olehnya benar atau tidak kami juga tidak tahu persis.

Selain itu memang dinas peternakan rutin datang ke kandang beliau, agar setidaknya kebersihan tetap terjamin. Sebab dikhawatirkan bisa menimbulkan penyakit lainnya jika tak diawasi. Menariknya, memang tidak ada RPH khusus babi di DIY, jadi setiap babi yang dibeli dari kandang langsung dibawa ke pasar dan pada dini hari langsung dipotong. Pemerintah sempat ingin membuat RPH babi di DIY, namun karena kurangnya koordinasi akhirnya di tolak oleh warga sekitar Gamping.

Ibu tadi melanjutkan pemaparannya, terkadang harga turun karena serbuat daging babi dari Sumatera atau Jakarta ujarnya. Dan fakta lainnya adalah permintaan meningkat kala musim liburan seperti tahun baru bahkan lebaran. Informasi sang Ibu sangat berharga bagi kami.

Selanjutnya kami beralih ke pasar Kranggan dan Pasar Pathuk. Kami mendapat informasi bahwa rata-rata seminggu bisa menjual 2 babi. Bahkan ada yang perhari satu babi. Harga daging babi muda jauh lebih mahal dibanding babi dewasa. Satu kg babi muda dihargai Rp 85.000,- dan babi dewasa dalam kisaran Rp 75.000 - Rp 80.000,-. Harga tersebut cukup murah jika dibandingkan daging sapi dalam kisaran Rp 120.000 - Rp 140.000,-. Selain itu, harga per item juga cukup mahal. Bahkan dipasaran juga dijual lemak babi.

Para penjual mengatakan rata-rata pembeli memang berasal dari etnis tertentu yang beragama non-Islam. Sampai disitu kami cukup lega. Hanya saja kami sempat mendengar, bahwa pada bulan ramadhan permintaan daging terkadang meningkat. Namun kami tidak bisa mengakses kebenaran ataupun dipergunakan untuk apa daging itu jikapun fakta tersebut benar.

Dosen kami sempat mengatakan bahwa daging babi warnanya cenderung merah mudah, sedangkan daging sapi berwarna merah marun. Namun fakta dilapangan kami melihat daging babi pun ada yang berwarna merah muda. Satu-satunya pembeda jelas adalah baunya, memang daging babi baunya agak pesing.

Analisis selesai, dan kami pun istirahat sejenak menikmati indahnya Jogja. Namun pengalaman analisis ini akan jadi cerita akademik yang menarik untuk dibagikan di kemudian hari.


No comments:

Post a Comment