Dalam perjelanan kereta dari Yogyakarta menuju Jakarta, aku berbincang dengan seorang bapak muda yang kala itu juga harus ke Jakarta untuk hadir di undangan rekan kuliahnya dulu. Aku tidak ingat persis kapan kami bertemu, juga kami tak bertukaran kontak. Namun pembicaraan kala itu begitu mengalir, dia menyebutkan identitasnya, pun aku. Setelah saling berkenalan, obrolan kami menjadi begitu asyik.
Bapak itu berujar ia sekarang bekerja di Yogyakarta, di sebuah institusi keuangan. Setelah ku ulik-ulik, ku tanyakan, ternyata beliau bekerja Kementerian Keuangan Yogyakarta. Beliau juga alumni D3 STAN dahulunya. Sebab itulah ia saat ini bekerja di Kemenkeu. Sebagai orang ekonomi, aku begitu kagum dengan beliau terutama karena dia bekerja di salah satu institusi yang saya idamkan.
Ia bercerita setelah lulus D3 ia lanjutkan S1 di tempat lain. Setamat dari S1 ia menikah dengan istrinya yang tinggal di Surabaya. Ternyata bapak itu semenjak menikah sudah berpindah-pindah tugas di beberapa pulau, termasuk di Sulawesi. Ia berkata salah satu yang paling berat dari sebuah keluarga ialah terpisah jarak jauh, Long Distance Mariage. Maka saat ia di Sulawesi, ia daftarkan diri kuliah di Bogor. Itulah mengapa kali ini ia pergi ke Bogor karena menghadiri pernikahan rekan sekelasnya dulu, saat sama-sama studi master.
Bapak itu melanjutkan ceritanya. Ia begitu antusias saat menceritakan perkembangan tumbuh kembang anak-anaknya. Sejak menikah sampai kini, ia hanya bisa menyediakan waktu Sabtu-Minggu saja untuk keluarganya. Selebihnya Senin-Jumat kerja. Ada istilah para pekerja di Jawa, PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Hari Jumat adalah hari yang mereka tunggu, dan Ahad hari yang berat untuk berpisah. Dan penghubung para pejuang PJKA dengan keluarganya ialah kereta api.
Saat aku bertanya, sudah berapalah umur anak-anaknya sekarang. Aku kaget karena satu sudah SMP satu SD. Artinya sejak menikah hingga kini, berarti sudah sekitar 10 tahun lebih ia menjalani hari-harinya berpisah jarak dengan keluarga kecilnya. Aku tidak membayangkan, boleh jadi banyak ayah-ayah bahkan ibu PJKA yang menjalani hari demikian. Memendam rindu bertahun-tahun, menyelinapkan rasa kangennya, dan berpura-pura tegar di hadapan rekan-rekan kantornya.
Pelajaran yang kupetik, tidak selamanya kebahagiaan itu digantungkan pada penghasilan yang mapan. Ternyata jarak juga jadi faktor penting lainnya, terutama menularkan prinsip-prinsip ayah yang ingin ditularkan pada anak-anaknya. Namun demikian, tentu keadaan ekonomi yang stabil juga membantu para orang tua dalam merencakan masa depan anak-anaknya lebih baik. Selama hal itu ditujukan ke arah pribadi yang lebih beriman, tunduk pada Allah, Tuhan Semesta Alam.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment