Pages

MENAKLUKKAN MIMBAR INTERNASIONAL


"Honestly, it is my first time to presentate in English in front of more than fifty people. I'm so nervous, but.... It's OK.", ujarku membuka presentasi kali ini.

Audiens pun ikut tertawa ringan mendengar ucapanku tersebut. Mungkin mereka mengira aku hanya bercanda, namun sungguh itu pernyataan jujur. Sebuah delivery yang pas untuk membuka penjabaraku, sehingga saat aku kurang perform dalam presentasi mungkin mereka dapat memahami rasa grogiku.

Radikal Yuda Utama, sebagai writer partner-ku sedari kemarennya terus menyemangatiku. "Sudah lal, kita sudah sampai di titik ini. Tinggal lakukan yang terbaik saja", ujarnya.
----

Beberapa waktu sebelumnya, sungguh saya dan Yuda berencana ingin merancang buku. Namun satu dan lain hal akhirnya dialihkan untuk membuat paper bersama. Dalam hal itu kami bersepakat untuk membuat kajian tentang bagaimana work engagement para kader FoSSEI dikaji dari segi 'affective commitment' dan spirituality'. Alhamdulillah dalam waktu singkat, kami mendapatkan data dari 135 responden yang tersebar di sekitar 65 kampus di Indonesia. Sekali lagi, bagi kami ini adalah sarana belajar, sehingga dalam paper yang tertulis masih terdapat banyak yang harus diperbaiki.

Dalam hal ini, sungguh kami belum merencanakan akan di apply kemana paper itu. Sampai akhirnya kami berdua memutuskan apply di 4th GAMA International Conference on  Islamic Business Research (GAMA ICIBR), dan kabar baiknya Alhamdulillah 'accepted'. Hingga hal itulah yang mengatarkan kami presentasi ketika itu. Proud, so grateful.

------

Mei 2016, saat itu aku masih menjadi mahasiswa di STEI SEBI semester 6. Lalu aku berinisiatif untuk ikut 1st GAMA SURF, sebuah forum pelatihan riset untuk mahasiswa S1. Syaratnya sama, yakni mengajukan paper dan jika di accepted, kamu akan berangkat ke UGM.

Singkatnya, saat itu aku berangkat dan pelaksanaan GAMA SURF juga berbarengan dengan GAMA ICI untuk S2/S3. Menyaksikan langsung peserta yang presentasi berbahasa Inggris, saat itu aku berpikir agar aku pun ingin suatu saat menjadi presenter seperti peserta GAMA ICI tersebut.

Satu lagi, 1st GAMA ICI 2016 saat itu dilaksanakan di gedung auditorium Sekolah Pascasarjana UGM. Pun sama, lintasan pikiranku juga terbersit suatu saat ingin kuliah di gedung itu, yang kelak ternyata menjadi gedung kuliahku. Alhamdulillah.

-----

Presentasi pun usai, beberapa audiens dan penguji bertanya kepada kami tentang beberapa hal. Satu persatu pertanyaan terjawab sebisa mungkin.

Bagiku pribadi, bukan tampil memukau kala itu yang jadi patokanku. Namun bisa hadir, tampil, berdiri dan berbicara adalah sebuah pengalaman berharga bagiku. Sebuah lompatan keberanian dan penempaan mental yang tak bisa dibeli dengan apapun.

Pelajaran kedua, jangan pernah pesimis dan meremehkan 'lintasan pikiran'. Dulu hanya berpikir ingin seperti presenter paper di GAMA ICI 1, Allah ganti peran itu di GAMA ICI 4. Siapa sangka.

Ketiga, jangan pernah mengukur pengalaman dengan materi atau uang. Boleh jadi sekarang kita merasa rugi, namun manfaatnya datang di masa depan.

Terakhir, saya berterima kasih pada Allah SWT, rekan-rekan seperjuangan yang membuat alur cerita hidup ini jadi unik, penuh kejutan dan menyenangkan. Terima kasih untuk bro Radikal Yuda yang telah banyak memberi inside kehidupan, kepada rekan sekelas yang gokil abis di Ekis SPs UGM, untuk kedua orang tua tentunya, keluarga besar, para guru dan dosen yang banyak berperan dalam hidup, dan pihak-pihak lainnya yang tak dapat disampaikan satu per satu.

Yogyakarta, 3 September 2019
(Foto pada agenda 4th GAMA ICIBR UGM, 31 Agustus 2019)

No comments:

Post a Comment