Pages

LELAKI TAK BERMASA DEPAN



Tersebutlah di zaman millennium baru, 2050, hidup seorang pemuda tanggung yang sedang mencari jati diri. Pemuda ini konon adalah kelahiran 2025, sehingga saat ini ia berada di usia emas untuk dikatakan dewasa awal. Pemuda ini sangat aktif berorganisasi, menghabiskan hari-harinya untuk berorasi, berimajinasi, membuat karya-karya tulis untuk masa khazanah keilmuan masa depannya. Tak pelak sejumlah organisasi bergengsi sempat ia pimpin, bahkan menjadi pimpinan sejagat maya di Galaksi Andromeda.

Namun ada kelemahan pemuda tadi, bahwa ia terlalu sibuk menguatkan jaringannya, pun pendidikannya, tetapi melupakan sisi lainnya. Pemuda itu selama ini lupa menguatkan sisi finansialnya. Kemandirian finansialnya masih terjajah, sebab apa yang dia inginkan masih disokong penuh oleh orang tuanya yang menjadi walikota planet Hevelius yang sebentar lagi akan pensiun. Ada aturan bahwa pensiunan walikota di Galaksi Andromeda tersebut tidak akan mendapatkan pesangon dan tunjangan lainnya, sehingga kehidupan keluarga pemuda tersebut harus betul-betul mengandalkan usaha mandiri.

Saat ini pemuda tersebut akan menyelesaikan studi akhirnya di Universitas Messier, salah satu universitas ternama di galaksi tersebut. Pemuda itu bimbang, bahwa pengalaman organisasinya selama ini belum menjamin kehidupan yang nyaman bagi masa depannya. Peraturan di Galaksi Andromeda sangatlah ketat, tidak boleh ada kongkalingkong dan nepotisme dalam penerimaan calon pekerja. Meskipun ayah pemuda itu saat ini menjabat walikota, tetapi tidak bisa seenaknya pemuda itu bekerja sebagai abdi galaksi tanpa melakukan tes seperti para pelamar lainnya.

Sungguhpun demikian bukan semata penghasilan yang membuat pemuda itu gusar, namun ialah keinginannya untuk serius dengan pemudi dari galaksi tetangga, yakni Galaksi Bima Sakti. Pemudi itu ternyata juga bersekolah di Universitas Messier, di Galaksi Andromeda, tempat yang sama dengan pemuda tadi. Galaksi Andromeda memang dikenal sebagai penghasil ilmuwan dan pemikir unggul di abad tersebut, sehingga tak heran bahwa galaksi tetangga di sekitarnya lebih memilih melanjutkan studi di Andromeda.

Singkat cerita, sang pemuda bertemu dengan pemudi tersebut di acara pengenalan lintas pelajar. Pemuda tersebut adalah perwakilan dari Fakultas Ekoplanetika yang diundang untuk memberi sambutan untuk fakultasnya, sedangkan sang pemudi dari Fakultas Psikogalaksia. Pemudi tersebut ditugaskan pihak fakultasnya untuk menjadi dirigen saat menyanyikan mars Universitas Messier. Sejak itulah mereka bertemu, dan saling menaruh perhatian.

Tak terasa baik pemuda maupun pemudi tersebut saat ini akan merampungkan studinya. Namun sang pemuda nampaknya tak ingin jauh dari pemudi tersebut. Sang pemuda memiliki keinginan ingin serius bahkan berencana menikah saja dengan sang pemudi tersebut. Begitupun sang pemudi, ia sudah diminta oleh orang tuanya kembali ke Galaksi Bima Sakti. Saat itu Galaksi Bima Sakti sedang dirundung banyak masalah, termasuk kebakaran dan peperangan. Pihak galaksi sedang membutuhkan relawan untuk mengatasi trauma pada anak yang menjadi korban perang di galaksi tersebut. Kehadiran pemudi tersebut tentu sangat diharapkan, apalagi berlatar belakang keilmuan psikogalaksia. 

Alasan lain adalah sang pemudi juga diminta orang tuanya menetap saja di Galaksi Bima Sakti, dan akan menjodohkannya dengan pemuda lain pilihan orang tuanya. Ayah dari pemudi tersebut juga merupakan orang berpengaruh di Galaksi Bima Sakti, ialah Menteri Forestaria yang menangani urusan hutan, tumbuhan dan makhluk hidup. Sang ayah dari pemudi tersebut saat ini mendapat tekanan dari pimpinan galaksi yang harus menyelesaikan persoalan terkait kehutanan tersebut. Sang ayah meminta pemudi balik, dan ingin menjodohkannya dengan anak walikota planet Bumi. Konon walikota planet Bumi ini adalah walikota terkaya di Galaksi Bima Sakti yang memiliki segala sumber pertambangan di planet tersebut.
Kembali pada pemuda tadi, meskipun ia adalah pelajar berprestasi Universitas Messier, namun ia belum memiliki jaminan pekerjaan. Ia jatuh hati pada pemudi tadi, namun ia tidak ada bekal untuk meminang pemudi tadi. Ayah pemudi pun berharap agar anaknya menetap saja di Galaksi Bima Sakti, sehingga jikapun pemuda tersebut betul-betul serius menyukai sang pemudi, maka ia harus merantau ke Galaksi Bima Sakti. Di titik inilah sang pemuda merasa apa yang ia pilih mungkin keliru. Ia suka betul dengan pemudi itu, tetapi tak punya bekal lebih untuk memulai lembaran baru kehidupan dengan sang pemudi.

Namun sang pemudi tersebut bertekad agar bisa tinggal di Galaksi Bima Sakti dengan segala keterbatasannya. Sebenarnya sang ayah dari pemudi tadi sangat baik dan bijak, hanya saja ia takut bahwa anaknya tidak mendapat kehidupan yang layak jika ia hidup bersama dengan pasangan hidup yang belum jelas apa pekerjaannya.  Mulailah sang pemuda berusaha, bekerja dan banting tulang untuk mencari ongkos dan biaya hidup untuk tinggal di Galaksi Bima Sakti. Sungguhpun sang pemudi tersebut berasal dari planet Bumi, namun sang pemuda yang ingin menikahinya ingin nanti ia tinggal di planet Saturnus saja, karena berada antara Galaksi Bima Sakti dan Galaksi Andromeda. Sehingga walaupun nanti tinggal di Galaksi Bima Sakti, namun jarak hendak pulang ke Galaksi Andromeda tidaklah jauh. Selain itu sang pemuda tidak ingin terlalu tergantung pada ayah sang pemudi di planet Bumi, Galaksi Bima Sakti.

Sang pemuda dan pemudi sama-sama menaruh perhatian pada pasangannya, namun waktu juga yang menjadi pembatas. Ayah sang pemudi ingin segera anaknya menikah dan balik, sedangkan bekal sang pemuda belumlah cukup. Akankah kedua anak muda itu akan bersatu dalam pelabuhan cinta yang suci? Hanya waktu yang akan menjawab. Dan kini pemuda tersebut masih berjuang dalam merampungkan tugas akhirnya, begitupun sang pemudi.

No comments:

Post a Comment