Rezeki itu
taut-bertaut, itulah yang aku alami dari proses rekrutmen petugas sensus Badan
Pusat Statistik (BPS) 2020 ini. Bagaimana tidak, sungguh aku awalnya bukanlah
pendaftar utama pada pembukaan lowongan sebagai petugas sensus penduduk 2020 ini. Aku
diberitahu oleh teman kosku Sandi dan juga tetangga kosku Rahim yang kebetulan
telah mendaftar sebagai petugas sensus BPS 2020. Aku diberitahu lowongan
tersebut karena ada orang yang mengundurkan diri jadi petugas sensus BPS
Sleman. Awalnya ia sudah daftar, namun ketika penyeleksian petugas dengan rapid
test, hasilnya ia reaktif. Bisa saja ia lanjut tetap jadi petugas sensus dengan
melakukan swab test. Jika hasilnya negatif, maka ia tetap menjadi petugas BPS.
Namun ternyata ia tidak mau melakukan swab dan sekaligus mengundurkan diri.
Nah, satu slot
tersisa tersebut kemudian kembali ditawarkan BPS Sleman bagi siapa yang
bersedia. Rahim kemudian diberi tahu oleh Koordinator Sensus Kecamatan (Koseka) di wilayah kerjanya, bahwa
ada satu lowongan lagi. Kemudian ia menawarkan pada Sandi. Karena Sandi sibuk,
maka Sandi menawariku, dan tanpa pikir panjang, langsung saja ku ambil. Sebab
itulah aku berpikir bahwa rezeki itu bertaut-taut. Sebulan sebelumnya aku baru
saja pindah kos ke daerah Karangwuni, Desa Caturtunggal dan kini satu kos
dengan Sandi, serta bertetangga dengan Rahim. Perkenalanku dengan Rahim pun
baru sekira satu bulan saja. Aku berpikir, andai saja aku tidak memutuskan
pindah kos, bisa saja tawaran ini tidak akan datang. Itulah hidup, mungkin itu
sudah jadi jalan rezeki bagiku melalui nikmat silaturahmi.
Kembali pada
tugas, akhirnya aku diminta mengisi beberapa persyaratan yang cukup banyak dan
berlembar-lembar. Persyaratan tersebut mulai dari identitas pribadi, keluarga,
domisili, nomor kontak dan surat pernyataan kesediaan. Beberapa hari kemudian
aku melakukan rapid test covid-19 di Labkesda Sleman, yakni pada 5 September
2020. Prosesnya sangat cepat,pagi test, sorenya langsung keluar hasilnya dan
Alhamdulillah hasilnya non-reaktif. Dengan demikian secara resmi aku telah bisa
menjadi petugas sensus BPS Sleman 2020. Sorenya aku langsung dihubungi oleh
Koseka-ku untuk datang ke kantor BPS Sleman untuk di briefing. Pukul 4 sore
lebih sedikit aku tiba di kantor BPS Sleman, dan langsung berjumpa dengan
beberapa calon petugas sensus lainnya serta Koseka kami yang bernama Bu
Aslikah. Ingat betul, petugas sensus yang di brifieng sore itu ada empat orang
termasuk aku.
Briefing
tersebut cukup detail, mulai dari menjelaskan apa saja tugas kami, di mana wilayah
kerjanya, bagaimana prosedurnya ketika turun ke lapangan, siapa saja yang harus
di data dan cara pengisian data pada formulir yang telah disediakan. Setelah
itu, di akhir kami diberi perangkat dan tools kerja dari BPS Sleman seperti
tas, masker, rompi, face shield, hand sanitizer, alat tulis, formulir, peta
wilayah kerja serta surat tugas. Wah
keren banget lah rasanya, hehe. Semua tools tersebut lengkap diberikan agar
ketika turun ke lapangan bisa diterima oleh masyarakat khususnya di masa
pandemi covid-19 ini.
Esoknya aku
langsung survey ke lapangan, mengecek dimana lokasi wilayah tugasku. Aku
mendapat tugas di satu SLS (satuan wilayah kerja) saja yakni di jalan Swakarya RT
008 RW 004 Dusun Kocoran, Desa Caturtunggal. Ternyata tidak begitu jauh dari
kosku, hanya berjarak sekitar satu kilometer saja. Setelah survey tempat dan
dipastikan betul sesuai dengan peta yang sudah disediakan, aku pun memastikan
dimana rumah Ketua RT setempat. Sebab dalam prosedur, aku harus meminta izin
pada RT setempat dalam melakukan sensus pada warga setempat.
Senin, 7
September 2020 aku datang ke kantor desa Caturtunggal untuk meminta cap surat
izin dari desa untuk melakukan kegiatan sensus di daerah aku ditempatkan.
Ternyata pihak desa pun sudah mafhum bahwa sensus penduduk sedang dilaksanakan
serentak pada September 2020. Bahkan pihak desa bertanya, siapa Koseka-ku. Tak
begitu lama, surat izin dari desa langsung diberi cap dan aku langsung
berangkat menuju pihak RT tempatku bertugas.
Aku disambut
oleh Bu RT 008 RW 004 Kocoran, dan aku menjelaskan secara detail apa saja
fungsi dan wewenangku serta tenggat waktu kerjaku. Setiap petugas sensus BPS
memiliki waktu sekitar 2 minggu untuk melakukan pendataan selama bulan
September. Aku juga mengkonfirmasi data-data penduduk yang telah dibekali
kepadaku, apakah mereka betul penduduk disana, telah pindah, atau telah
meninggal. Semua harus dicatat detail. Verifikasi singkat itu lebih pada
screening data secara umum, setelah itu barulah aku dibantu Bu RT turun ke
lapangan mencek satu-satu penduduk yang
pada bulan September ada di wilayah tersebut. Merujuk penuturan oleh
Koseka kami, setiap penduduk yang berada di Sleman selama September dan tidak
pulang kampung maka wajib di data. Artinya bagi anak kos atau pekerja lepas
yang tidak pulang kampung, di data sebagai penduduk Sleman.
Saat turun ke
lapangan, tidak semudah yang dikira. Ada kalanya kita disambut dengan baik, ada
juga dicurigai karena dikhawatirkan bukan petugas resmi, ada yang mencecar
secara detail tentang data sensus ini karena kebetulan ia pensiunan Dukcapil,
ada juga Bapak dan Ibu kos yang membantu mencatatkan atau mengirimkan data anak
kos di huniannya, ada yang menerima dengan hati lapang disertai obrolan santai,
ada yang kebingungan mengisi data karena ia sudah sensus online, dan berbagai
macam reaksi lainnya. Namun secara umum, sambutan warga di SLS-ku cukup baik,
sehingga proses pendataan warga berjalan dengan lancar.
Tak terasa,
proses pendataan pun selesai. Menyenangkan, karena memiliki pengalaman baru
tentunya. Termasuk bolak-balik ke kantor BPS Sleman menjadi hiburan tersendiri
bagiku. Biasanya aku sengaja singgah membeli es kelapa muda di dekat kantor
tersebut. Menikmati suasana sore. Dan pada 21 September 2020 aku menyetorkan
data-data yang diperlukan. Tugas selesai. Kemudian aku menandatangani Surat
Perjanjian Kerja (SPK) petugas sensus BPS Sleman yang sejatinya mesti
ditandatangani di awal. Ini diperlukan agar pencairan honor bisa berjalan
lancar.
Sambil mengantar
Rahim pulang, aku kemudian menuju Bank BNI Syariah Kaliurang untuk memindahkan
uang cash tadi ke rekening tabungan. Bank hampir saja tutup, dan aku mendapat
nomor antrian teller ke 21, menunggu empat giliran lagi. Dua puluh menit
menunggu akhirnya selesai juga semua proses dan drama honor BPS hari itu. Enak
ya dapat honor, Alhamdulillah bersyukur. Namun ya setelah itu langsung deh
bayar “kewajiban” yang udah menunggu dituntaskan. Tak apa, semuanya disyukuri
saja. Alhamdulilah atas segala nikmat yang Engkau berikan kepada kami Ya Allah.
Sekian.




kak, interest sih ama kerjaannya. berart ga kak? itu kakak dapet harus menyelesaikan berapa KK tuh kak? ☺️🙏
ReplyDelete