Serpihan debu padang pasir
menghampiri muka seorang pemuda yang terkenal dengan kezuhudannya. Tak
terbayangkan kalau pemuda asal Indonesia itu lima hari lagi akan diwisuda.
Suatu kebanggaan yang telah ditunggu-tunggu keluarganya dan keluarga calon
istrinya. Sesuai janji Jahid, dia kan
menikah kalau dia telah diwisuda dan menamatkan pendidikannnya di salah satu
Universitas di kota Madinah al-Munawwaroh. Dyah lah yang telah beruntung
mendapatkan hati Jahid, Imam muda masjid Nabawi yang terkenal itu.
Air mata Jahid bercucuran ketika
teringat kisah lima tahun yang lalu, saat itu Jahid terpaksa mengikuti perintah
sang Ibu yang sangat dihormatinya. Ayah Jahid meninggal ketika dia baru saja
lulus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 di
sudut kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Sebelum meninggal dunia sang ayah
berwasiat untuk menyekolahkan Jahid ke Madinah. Ayahnya ingin ada yang
meneruskan perjuangan dia dalam berdakwah. Jahid pun terpaksa mengikuti
perintah itu. Padahal pemuda yang ingin kuliah di Perancis itu sangat ingin sekali segera ke
Universitas Sorbonne, Paris. Dia telah mendapat beasiswa khusus berkat karya
tulis Ilmiahnya yang menjadi juara satu Nasional. Tapi angan-angan itu tinggal
sekedar angan-angan yang tak akan bisa ia raih. Dia kecewa dan hampir frustasi.
Allah berkata lain, setelah lima
tahun dia memaksakan dirinya kuliah di Madinah, dia malah makin betah di
Madinah. Entah kenapa, tapi itulah yang dia rasakan sekarang. Tapi bagaimanapun seminggu lagi dia harus
meninggalkan Madinah untuk mengamalkan ilmunya di ranah Minang kampung
halamannya sekaligus menikahi Dyah, anak
Ustadz Abdurrahman yang juga jebolan pesantren tahfidz Al-Qur’an di kota Padang
Panjang. Bibirnya mengembang, matanya berbinar, darahnya mengalir deras dan
hatinya berdebar. Untuk kesekian kalinya Jahid berterimakasih kepada sang Ayah dan sang Ibu yang menurutnya telah
berhasil mendidiknya menjadi anak yang shaleh.
Hari yang ditunggu –tunggu datang,
Jahid dengan mantap mengucap ijab qabul tanda Dyah telah halal untuknya
sekarang. Semua terharu dan Jahid pun menjadi orang yang paling bahagia sedunia
ketika itu.
*********
Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya,
ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah
(pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga
apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat
amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al
Ahzab:15)
Saudaraku, setelah kalian membaca
penggalan kisah singkat tadi maka ada satu pesan yang ingin saya sampaikan. Pesan
bahwa Ibu adalah HARTA yang paling berharga yang kita miliki didunia ini.
Banyak orang khususnya pemuda yang sering salah mengartikan kasih sayang
seorang ibu kepada anak.
Saat ibu melarang mengendarai motor
kencang-kencang, kita anggap ibu benci. Saat ibu menyuruh kita menyetrika, kita
anggap ibu tidak sayang pada kita. Saat ibu melarang kita keluar malam, kita
anggap ibu melanggar hak asasi remaja. Lantas bagaimana lagi cara ibu
menyayangi kita?
Kalaulah ibu membiarkan kita ngebut
dan kita kecelakaan, apakah itu yang disebut sayang? Kalaulah kita bisa mandiri
gara-gara terbiasa mengurus diri sendiri, apakah kita dirugikan? Kalaulah
terjadi sesuatu jetika kita keluar malam, apakah ibu masih kita salahkan?
Bukankah ketika sakit ibu selalu mendampingi kita? Bukankah ketika kita kecil
dialah yang menguruh kita. Maka jangan pernah salahkan keputusan ibumu, karena
tiada sedikitpun kita akan dirugikan oleh perintah ibu kita. (afwa)


No comments:
Post a Comment