Pages

MENERJANG KOKOHNYA HATI IBU

Sudah dua hari Rani memegang ijazah SMAnya. Dia dinyatakan sebagai siswa terbaik di SMAN 1 Harau, salah satu SMA terbaik di provinsi Sumatera Barat. Semua guru memuji prestasinya itu, begitu juga teman-temannya satu sekolahan. Mereka senang karena Rani akhirnya bisa mengalahkan prestasi Tania,  anak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lima Puluh Kota itu. Ya, walaupun Tania adalah anak yang cerdas tapi hampir semua teman seangkatannya benci kepadanya karena kesombongannya. Keindahan ilmu yang didapatnya tak seindah perangai yang dimilikinya. Maka tak heran ketika Rani berhasil menundukkan prestasi Tania semua orang bergembira. Walaupun hidup pas-pasan, keramahan, kecerdasan dan sopan satunya lah yang membuat Rani menjadi anak yang disenangi di SMAN 1 Harau.
“Berjuang diatas keterbatasan”, itu lah motto yang Rani pegang untuk menghantam tembok-tembok besar penghambat kemajuannya. Ia sangat yakin dengan kemampuannya, dan ia selalu percaya dengan pertolongan Allah pada hamba-hambanya. Maka seperti macan yang kelaparan, menyeruaklah gumpalan-gumpalan semangat dari dirinya untuk menghancurkan segala penghalang kesusahan hidup yang ditempuhnya. Semangat tinggi dan optimisme ini lah yang membuat Rani sangat disegani dikalangan teman-temannya di SMAN 1 Harau. Bahkan Rani menjelma menjadi siswa teladan berkat segala prestasi dan tabiat elok yang dipertontonkannya.
  Tapi hari ini semua berubah, goresan luka yang menimpa hati Rani telah membuat keramahannya menguap bagaikan kapur barus yang tergeletak di udara terbuka. Awalnya besar, lalu mengecil, mengecil dan hilang. Semua berawal dari pertengkarannya dengan sang Ibu.
“Sudahlah Ran, jangan memaksakan kehendak.”
“Tapi Mak, aku ingin merubah kondisi keluarga kita.”
“Rani, tolong lah mengerti. Kamu tau khan kondisi ekonomi keluarga kita bagaimana? Malah itu hanya akan memperburuk keadaan keluarga kita.”
”Indak Mak. Justeru dengan Ijazah S 1 aku akan lebih mudah mendapat pekerjaan. Dengan begitu aku bisa merubah keadaan keluarga kita.”
“Rani, dengan ijazah SMA milikmu itu kamu juga bisa mencari pekerjaan. Ya walaupun bukan bekerja di perkantoran, minimal kamu punya penghasilan.”
“Amak, aku mohon Ibu mengerti. Aku ingin kuliah.”
“Indak Ran, jangan keras kepala!”
“ Amak kok begitu? Apakah Amak tidak sayang lagi denganku?”
“Dasar keras kepala, Amak bilang tidak boleh ya tidak boleh! Jangan melawan ke orang tua!”
Hatinya yang tadi bening perlahan mulai memerah. Kecintaannya pada sang Ibu perlahan mulai retak. Setelah delapan belas tahun mencicipi terjangan hidup di permukaan kerak bumi ini, baru kali inilah Rani merasakan bentakan keras dari Ibunya. Nuraninya tak menerima, batinnya tak siap, dan berkat nafsu yang bergelora itu tiga puluh satu kilo meter perjalanan menuju Bukittinggi dengan mudah ia lewati. Kini nafsunya telah membawanya ke kawasan Jam Gadang, sebuah simbol kemegahan kota Bukittinggi.
Dasar nafsu, belum puas sampai di Bukittiinggi ternyata bibit-bibit kekecewaan itu perlahan-lahan membawa jemari kakinya serta anggota tubuh lainnya sampai di STEI Tazkia Bogor, sekolah idamannya ketika SMA dulu. Dia nekad ke Bogor berbekal uang lima ratus ribu hasil perjuangannnya menaklukkan prestasi Tania. Uang sebanyak itu diberikan sekolah kepadanya ketika dia berhasil menjadi lulusan terbaik dari SMAN 1 Harau. Dahulu senang, kini agak murung, sebab uang perbekalan itu tinggal dua ratus ribu. Ternyata, dua ratus ribu lah harga yang harus Rani bayar untuk biaya pendaftaran masuk sekolah idamannya itu.  Tapi dia tetap tegar, dan kini dengan mantap ia berdiri di depan kampus kebesaran STEI Tazkia. Sekolah Ekonomi itu dengan ramah menyambut kedatangannya.
Satu jam sebelum pendaftaran ditutup dia melihat seorang anak kecil yang butuh pertolongan. Walau penampilan anak itu kumuh, agak jorok, dan berpenampilan kumal, hati Rani tetap tersentuh. Ia tak ingin tak ingin saat dirinya sukses sedangkan orang disekitarnya melarat. Dia putuskan tuk menyumbangkan seluruh uangnya tuk Ari, si anak kumal yang telah menyentuh nuraninya itu. Ari dia bawa ke panti asuhan, dua ratus ribu miliknya sekarang menjadi bekal hidup Ari.
Rani ingat, ia masih punya tabungan dua ratus lima puluh ribu di Bank Syari’ah Mandiri, maka ia cari Bank terdekat untuk dijadikan sebagai uang pendaftaran masuk STEI Tazkia Bogor, sedang lebihnya dia jadikan sebagai perbekalannya. Dia pun mendaftar, beberapa saat kemudian dia di tes. Untung lah Rani punya pengetahuan yang cukup, dan hafalan Al-Qur’an serta kemampuan berbahasa Arab yang ia peroleh yang ia dapat ketika ekskul keagamaan di SMA dulu membuatnya masuk ke kelas unggulan di Tazkia. Rani pun dapat beasiswa penuh di kuliahannya.
Empat tahun kemudian……
Suara burung yang berkicau mulai berani mendekatinya. Hatinya yang kini bening kembali bagaikan bunga bermekaran yang dapat memikat hati sang Raja Romawi sekalipun. Tapi dibalik kebahagiaan itu ada seonggok perih yang mengumpat di qalbunya. Dia harus membayar uang lima juta rupiah untuk biaya wisudanya. Dia bingung dan akhirnya merenung. Tapi hal itu tetap tak menyelesaikan masalahnya.
Akhirnya dengan muka masamnya dia duduk di pinggiran kampus STEI Tazkia Bogor. Pemandangan aneh menghampirinya, dia kembali melihat sosok Ari, bocah yang empat tahun lalu ditolongnya. Tapi yang membuat Rani kaget adalah penampilan Ari yang sangat rapi, dia juga ditemani seorang Bapak berdasi. Ari menghampirinya.
“Kakak, masih ingat aku gak?”
“Masih lah dek.”
“Kak perkenalkan ini ayahku.”
“Aa.. Ayahmu dek.”
“Iya kak.”
Rani tidak menyangka kalau pria berdasi itu ayahnya Ari. Ternyata Bapak itu telah lama mencari anak kandungnya. Dan tanpa sengaja dia dapat informasi kalau anaknya itu sedang di panti asuhan As-Syifa, maka ia pun segera mencari anaknya. Feeling kebapakannya lah yang membawanya bertemu kembali dengan anak yang dicintainya itu.
“Dik, sepertinya kamu sedang punya masalah. Ada apa dik?”
“Iya pak, lima hari lagi saya diwisuda. Tapi saya tidak punya uang pak.”
“Berapa uang untuk kelancaran wisudamu dik?”
“Lima juta rupiah pak, tapi sebenarnya saya juga ingin Ibu saya ke sini. Sudah empat tahun kami tidak bertemu.”
“Kalau begitu tunggu sepuluh menit saya, saya akan memberimu uang sepuluh juta rupiah.”
“Tidak pak, tak usah. Saya khan bukan siapa-siapanya Bapak. Saya takut merepotkan.”
“Tidak dik, justeru berkat kebaikanmu lah saya bisa kembali bertemu dengan putraku. Berkat ketulusanmu saya bisa bertemu dengan Ari dalam keadaan sehat.”
“Iya pak. Kalau sekiranya tidak merepotkan saya bersedia menerima pemberian dari Bapak.”
“Iya dik, tidak apa-apa.”
Uang pun telah ditangan, dan Rani mengabarkan berita gembira itu ke Ibunya. Lima juta rupiah telah di transfer ke Harau. Dua hari lagi sang ibu akan berangkat dari Harau menuju Bogor.
~~~~~~~
Seluruh mahasiswa yang dinyatakan lulus bergembira. Begitu halnya dengan Rani. Dengan IPK 3,95 dia dinyatakan Cum Laude dan dia dinyatakan sebagai lulusan terbaik di STEI Tazkia Bogor.
“Amak aku lulus.”
“Iya Ran, maafkan keegoisan Amak dulu ya Ran!”
“Iya tidak apa-apa. Yang jelas sekarang aku sudah lulus dan aku siap merubah kondisi keluarga kita.”
“Iya Ran, sekarang silahkan saja lakukan apa yang sekiranya baik bagimu. Amak percaya kamu Rani!”
Seakan berita bahagia beruntun menimpa hidup Rani, kini dia bangga bisa lulus kuliah. Tak berselang lama Ayahnya Ari menghampirinya.
“Kamu lulusan terbaik disini?”
“Iya pak.”
“Berkat prestasimu, kamu kami kontrak untuk menjadi pegawai tetap di Bank Syari’ah Mandiri (BSM).”
“Sungguh Pak?”
“Iya.”
“Alhamdulillah ya Allah. Amak, aku diterima jadi pegawai BSM, sekarang aku benar-benar bisa merubah kondisi keluarga kita.”

No comments:

Post a Comment