Pages

HIDUP ITU BERGANTUNG

Terlahir manusia ke dunia, ia sudah langsung bergantung pada manusia dan makhluk lainnya. Dikala menjadi janin, si calon bayi "menggantung" di rahim sang ibu guna mendapatkan saripati makanan. Mulai besar ia,  saluran makanan mengalir dari pusar ibu ke pusar calon bayi, bergantung barang beberapa bulan. 

Tatkala lahir ke atas muka bumi, datang sebagai manusia yang utuh, tali pusar diputus. Tanda subsidi makanan secara langsung sudah kontan. Allah beri ia berbagai macam rezeki, entah dari kado dari rekan orang tuanya, dari nenek kakeknya, sanak saudaranya, handai taulan, maunpun lain sebagainya. Sebagai wujud orang senang atas kelahiran anak itu. 


Lalu, kebergantungan belum lagi terputus, ia minum dari saripati darah sang Ibu, berupa ASI. Kurang lebih dua tahun ia menyapih pada Ibunya, banyak juga yang kurang. Berbagai makanan mulai masuk pada perutnya, disuapkan, hingga pandai makan sendiri. Belum lagi anak itu pandai berdiri, dituntun ia hingga pandai tegak berdiri, berjalan, berlari, bersepeda, berkendaraan, dan lain sebagainya.

Sungguhpun telah menjadi manusia dewasa, ketergantungan tak pernah juga lepas. Bergantung pada orang lain hingga ia dapat pekerjaan layak, bergantung pada ilmu orang lain, agar dapat pencerahan dalam hidupnya, bergantung pada keluarga dikala sakit mendera. Tak bisa manusia hidup seorang diri.

Dalam konteks yang lebih komprehensif, ekonomi misalnya : pedagan bergantung pada pembeli agar dapat laba, pembeli mencari penjual barang yang ia inginkan. Dalam politik, apalagi, politisi bergantung pada satu coblosan dari masing-masing pemilih. Pemilih butuh kesejahteraan jangan panjang dengan akses jalan yang baik dan lapangan pekerjaan yang luas. Dalam aspek kesehatan, orang sakit butuh berobat pada dokter, dokter butuh pasien agar lancar juga penghidupannya, dokter butuh stok obat, ahli perobatan ialah apoteker,  butuh pabrik, produsen, distributor, dan lain sebagainya. Kompleks. 

Namun saat manusia tempat bergantung, tak ada lagi tempat ia bisa mengadu, mengadu nasib sudah sesampai usaha, mengadukan pekerjaan sudah maksimal rasanya, mengadu kesehatan sudah upaya yang keras ia lakukan, mengadu sana mengadu sini tak dapat lagi. Maka tak ada lagi gelar rasanya yang paling tinggi selain menggelar lapik sembahyang (sajadah).  Mengadulah se aduh aduhnya pada Sang Pencipta, Rob Kita, Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhana wata'ala. Setinggi-tingginya tempat mengadu adalah Beliau, tempat bergantung adalah Beliau, dan mampu menampung setiap keluh kesah hamba-Nya. 

Luruskan jalan kami Ya Allah, agar kami sekeluarga bisa menuju jannah-Mu. 

No comments:

Post a Comment