Pages

ANAK PERANTAUAN

Ada yang bilang merantau itu bagus karena mengajarkan kemandirian. Itu benar, sebab di tanah rantau kita belajar untuk tidak mudah bergantung pada orang lain (banyak orang-red). Kita tidak bisa dengan mudah mengharapkan uluran tangan orang lain tanpa lebih dahulu berusaha. Jauh dari keluarga mengajarkan bahwa kita harus bisa banyak hal, meski tak sempurna.

Ada yang bilang merantau mengajarkan kita untuk tidak cengeng. Itu benar, sebab di perantauan tak banyak tempat mengadu yang benar-benar mengerti apa yang kita butuhkan. Sekalipun kita mengadu, mungkin kasih sayang yang diberikan oleh teman atau saudara baru kita di rantau tidak sesempurna perhatian yang diberikan saudara sendiri. Sebabnya kita harus tegar menjalaninya.

Ada pula yang bilang merantau mengajarkan kita arti berjuang. Totally benar, sebab di negeri rantau kita harus menemukan kenyamanan sendiri untuk menggapai impian yang kita canangkan. Tidak boleh ada hati yang setengah-setengah dalam berjuang, sebab sama saja mengabiskan waktu, pikira, tenaga dan finansial tentunya. Harus berjuang, karena kita tahu untuk siapa kita berjuang, yakni keluarga tercinta di rumah.

Banyak hal yang terlewat selama merantau

Waktu kebersamaan dengan keluarga yang memang sangat kurang. Sebab itu, bagiku, asal orang tua ataupun keluarga meminta pulang, itulah jadwal pulangku. Tak ingin sedikitpun terlewat lagi. Karena bakti itu bukan hanya memberikan harta benda pada keluarga, namun juga memberikan waktu.

Momen penting bersama keluarga, baik berupa berita kebahagiaan maupun berita kemalangan. Selama kurang lebih sepuluh tahun merantau, banyak peristiwa penting yang rasanya terlewatkan oleh jarak. Jarak yang harus dibeli dengan uang untuk menyingkat waktu. Seperti peristiwa pernikahan keluarga, kepergian anggota keluarga tercinta, kelahiran sesosok manusia baru di keluarga besar nenek kakek, dan lain sebagainya. Namun kata Ibuku, ya inilah hidup yang mesti dijalani. Jangan bersedih.

Dan masih ada beberapa hal lain yang terlewatkan ketika kita memilih merantau. Di mana, tentu bukan untuk disesali, tetapi disyukuri saja dan dijalani dengan kesabaran.


Namun banyak juga yang didapat dari merantau

Keluarga baru. Dengan segala jenis tingkah polah kebaikan, kejenakaan, kecuekan, ketulusan, dan kekhasannya, saudara dan keluarga baru di perantaun mampu menguatkan kita yang sama-sama berjuang. Itu menjadi hiburan tersendiri. Kita bisa mengenal banyak bangsa, banyak Bahasa, banyak karakter, banyak suku dan bangsa-bangsa. Sama seperti yang dipesankan dalam Al-Quran, “Wahai manusia, Sungguh Aku ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat : 13).

Empati. Aku merasakan betul empati itu datang saat semakin lama merantau. Sebab semakin mendewasa, semakin memahami bagaimana perjuangan orang tua mendorong anak-anaknya untuk sukses sedangkan ia menyembunyikan segala kesempitan yang dialaminya di kampung halaman agar anaknya tumbuh dengan baik. Juga empati melihat perjuangan sesama anak perantauan lain yang kondisinya mungkin tak seberuntung kita. Andai tidak merantau, bisa saja kita menganggap ya perjuangan orang lain untuk kita wajar-wajar saja, dan biasa-biasa saja. Padahal itu adalah anugerah terbesar yang mesti diapresiasi dengan tulus pula.

Berpikiran terbuka. Merantau mengajarkan kita bahwa pandangan dan pola pikir orang bisa jadi sangat beragam, kebeneran dan kewajaran pun bisa jadi sangat berbeda tiap masing-masih orang karena dipengaruhi oleh banyak hal, baik latar budaya, latar pendidikan, latar ormas, atau bahkan latar agama. Kita diajarkan untuk mencerna informasi sebelum menyimpulkan, belajar melihat berita secara utuh sebelum memvonis, dan belajar membatasi diri bahwa tidak semua hal perkara orang lain yang harus kita ikut campuri.

Toleransi. Hampir berkaitan sama dengan pikiran terbuka, toleransi juga menjadi hal yang dirasakan oleh anak rantau. Jika pikiran terbuka adalah tentang persepsi di kepala kita, maka toleransi adalah tindakan hidup kita. Jika kita betul menghargai perbedaan, maka tunjukkan tindakan yang merangkul. Toleransi bukan berarti kehilangan prinsip, tetap dengan memegang prinsip yang kita yakini tanpa terusik dengan prinsip yang dipegang orang lain.

Memang kalau diceritakan banyak yang dirasakan oleh anak perantauan ini. Belajar cuci, masak, beli perabotan sendiri, cari penghasilan sendiri, packing barang sendiri, belajar nabung, menjalin pertemanan, menjalin persaudaraan, mengembara, dan lain sebagainya. Jika merantau karena menuntut ilmu, berbahagialah karena Rasulullah bersabda, Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).

Jikapun merantau karena bekerja, juga berbahagialah, Rasulullah juga berfirman, “Apabila seorang keluar (dari rumah) bekerja untuk anaknya yang masih kecil maka itu fii sabilillah. Dan apabila ia bekerja untuk orang tuanya yang sudah lanjut usia maka itu fii sabilillah.Dan apabila keluar untuk dirinya agar terjaga kehormatannya (tidak meminta minta) maka itu fi sabilillah.”(HR. Ath-Thabrani).

Bismillah, semoga Allah senantiasa meridhoi langkah kita para anak perantauan di muka bumi ini. Aamiiiin.

No comments:

Post a Comment