Pages

KAKEK BERTONGKAT SEBATANG KARA



Pada debat Calon Presiden lalu, kemiskinan seakan menjadi topik yang hangat dan nikmat untuk diperbincangkan. Sebab, ini memang salah satu realitas kehidupan yang ada di kalangan masyarakat bawah. Namaku Zilal, saat ini melanjutkan studi sebagai mahasiswa magister Ekonomi Islam di UGM. Sesuai bidang kuliahku, memang tema kemiskinan bukan lagi sebuah slogan dalam buku-buku kuliah saja. Namun problem yang harus diselesaikan.

Malam itu (18/4), sehari setelah  pemilu selesai, saya secara spontan berkeliling kota Yogyakarta di malam hari. Aku begitu penasaran dan tertarik dengan tema kemiskinan yang diangkat oleh para pemimpin kita. Aku hanya ingin melihat potret nyata kondisi masyarakat Indonesia, bukan hanya berdasarkan data statistik diatas kertas. Maka, malam itu aku melihat ada seorang kakek yang terbaring nyenyak dan tertidur di depan sebuah toko. Lokasi tepatnya ialah di Jalan Simanjuntak Yogyakarta, persis di sebuah toko sebelum lampu merah. Di samping sang kakek terdapat sebuah tongkat, mungkin benda itulah yang membantu beliau berjalan. 

Dalam saya memandangi kakek tersebut, kasihan, namun demikianlah adanya kondisinya. Setelah melihat sang kakek, aku beranjak mencari nasi dan air minum untuk sang kakek malang. Selanjutnya aku balik ke jalan semula tempat aku melihat sang kakek. Masih tidak beranjak, dan sang kakek masih tertidur lelap. 

“Mbah”, ujarku sambil menyentuh kakinya. Kakek itu kaget, disangkanya ada orang yang mengganggunya atau mungkin akan mengusirnya. Lalu, diberikanlah nasi kepada sang kakek. Tak banyak  dialog antaraku dan beliau. Sang kakek yang tadinya kaget dan bangun, lalu langsung mengambil nasi tersebut. Lalu membuka bungkusan nasi dan menyantapnya. Kulihat, lahap sekali sang kakek menyantap makanan tersebut. Alhamdulillah, bersyukur melihat beliau makan. Namun, cukup dalam aku merenung, terpikirlah bagaimana kondisi hidup sang kakek yang tidur sebatang kara itu.


Di tengah hirup pikuk pemilu dengan segala polarisasinya, kita terkesan mementingkan golongan kita masing-masing. Kita berbicara tentang kemiskinan, namun tidak benar-benar peduli dengan orang miskin. Lupa kalau disekitar kita terdapat orang yang telah tua, yang sudah tidak punya cita-cita, yang bahkan untuk makan besok saja belum tentu ada. Mereka tak lagi berfikir mau jadi apa mereka dalam 5 atau 10 tahun kedepan, sebab untuk menyambung hidup hingga esok hari saja sudah bersyukur.

Mereka bahkan mungkin tak bisa mencoblos, sebab memang tak punya alamat, tak punya KTP, dan tak punya Kartu Keluarga (KK) untuk didaftarkan sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam Pemilu kali ini. Bukan hanya tak punya KK, bisa jadi mereka memang sudah tak punya keluarga. Para calon anggota legislatif pun mungkin tak tertarik memberikan bantuan, sebab tak memiliki hak suara. Mereka tak banyak meminta, hanya hari esok yang lebih baik. Masihkah kita berdebat panjang tentang tema kemiskinan? Namun realitanya kita justru tak peduli dengan orang miskin. Masihkah kita mengedepankan ego masing-masing? Sedangkan mereka ada di sekitar kita.

Kini, kutatap sekali lagi sang kakek bertongkat tersebut, makin lama makin dalam lamunanku. Aku makin tak membayangkan jika orang seperti sang kakek adalah kerabat dekat kita. Tentu makin tidak tega. Lantas siapakah yang bertanggungjawab atas nasib orang seperti mereka? Tentu pemerintah saja tidak cukup, namun ini tanggungjawab kita semua. 

Alhamdulillah, kini berbagi lebih mudah, karena Dompet Dhuafa menyediakan banyak pilihan layanan yang memudahkanmu untuk berdonasi. Kamu dapat menyalurkan zakat, sedekah maupun infak dengan mengunjungi situs donasi.dompetdhuafa.org ini. Semoga kita bisa memberikan mereka sedikit senyum kebahagiaan, dan semoga masalah kemiskinan ini bukan hanya menjadi slogan, namun juga kerja nyata untuk mengatasinya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.

#JanganTakutBerbagi
#SayaBerbagiSayaBahagia

No comments:

Post a Comment