Pages

PERHATIAN AMA

2010-2019, merantau ke Jawa untuk sekolah. Mulai dari Garut, Depok, Pare dan sekarang Jogja. Tak terasa sudah sembilan tahun melakukan rutinitas ini, pamit sehabis ba'da lebaran ke sanak saudara. Bedanya, kini usia bertambah, tanggung jawab juga mulai berpindah.

Malam lalu, Ama bertanya, "Mau dibuatkan lauk  apa nak?". Pertanyaan yang sudah jarang ditanyakan kepadaku. Pertanyaan itu sering ditanyakan semasa masih sekolah di pesantren di Garut, dimasa kuliah sudah tidak ditanyakan lagi karena memang sudah biasa. Selain itu, karena sudah beranjak dewasa, jadi tak banyak lagi yang disiapkan Ama. "Ndak usah lah ma", jawabku. "Gapapa, ini kan sesekali, kalau memang mau, Ama siapkan untukmu", jawab Ama. "Kalau begitu dendeng aja ma", jawabku tegas.

Jadwal pesawatku siang hari (22/6), dan aku berangkat malam hari sebelumnya (21/6) dari rumah. Alasannya sederhana, agar paginya tidak tergesa-gesa. Selain itu agar paginya bisa singgah istirahat dulu di rumah nenek, dan bisa bertemu om. Tapi, sampai maghrib aku sama sekali belum packaging barang-barang, tidak biasanya. Sepertinya pikiran masih di kampung, tumben-tumbennya. Sambil packaging barang, aku dialog santai dengan Ama. Pakaian yang belum rapi disetrikanya, makanan yang belum siap disiapkannya, dan juga mengingatkan kalau-kalau ada barang yang ketinggalan. Sedari siang, Ama sigap menyiapkan.

Pikiranku menerawang ke masa-masa awal sekolah di Pulau Jawa dulu, memori sembilan tahun lalu. Persis sama, Ama menyiapkan barang-barang yang diperlukan dengan cekatan. Sebenarnya, beberapa tahun kebelakang, aku yang lebih banyak menyiapkan barang-barang. Masalah packaging bukan lagi masalah bagiku, karena sudah terbiasa. Namun kali ini Ama tanpa diminta lebih bersemangat dibandingkanku.

Disisi lain, pikiran masih di rumah, sengaja aku lama-lamakan supaya lama juga berangkat. Farhan kali ini mendapatkan tugas mengantarkanku ke bandara bersama kawan-kawanku. Ama tidak bisa mengantarkan ke bandara, karena ada keperluan lain di sekolah. Sebab itulah Ama menunjukkan perhatiannya dengan menyiapkan barang-barang di rumah.

Kini, anak-anak Ama sudah beranjak dewasa. Semua sudah sekolah jauh. Aku di Jogja, Farhan di Mesir, dan Salsa di Padangpanjang. Namun tidak sekalipun Ama menunjukkan sikap berat hatinya. Demi pendidikan, apapun beliau lakukan untuk kami. Begitu juga Apa, selagi anaknya mau sekolah, apapun beliau korbankan.

Mungkin Ama dan Apa tidak pernah menunjukkan sikap rindunya secara langsung saat satu persatu anaknya kembali ke rantau. Namun tatkala kami pulang, nampak betul bahwa mereka sudah lama menunggu kedatangan kami. Kini, aku kembali merantau, memasuki tahun ke 10. Semoga Allah ridha, dan dimudahkan urusan kami, dikabulkannya do'a Ama Apa. Dan semoga aku betul-betul siap jika nanti tugas membantu sekolah adik-adik atau bahkan sodara lainnya berpindah kepadaku. Aamiiiiin.

Yogyakarta, 23 Juni 2019
-
Pict : Pekanbaru,  22 Juni 2019

No comments:

Post a Comment