Uda, begitu aku dipanggil di
rumah. Panggilan khas Minangkabau yang dipanggilkan untuk kakak laki-laki.
Meskipun begitu, tak semua orang dipanggil Uda, hanya tertentu saja, sebab
sebagian besar daerah di orang memanggil abang saja. Konon, kata Ama, aku
dipanggil Uda karena ada anak temannya yang bernama Berly memanggilku Uda.
Kabarnya kejadian itu saat aku masih berusia kira-kira 4 tahun.
Sebagai Uda, aku dituntut harus
jadi panutan adik-adik, utamanya kandungku. Penyabar harus ada, tegas juga,
namun lebih banyak harus bisa memaafkan. Kiranya kali ini aku merasa sedih
dengan perjalananku, dulunya aku dikenal betul bisa paham ilmu agama dengan
cepat , namun sekarang tidak begitu adanya. Alhamdulillah adik dibawahku benar
diterima di Mesir. Tentu ini kebanggaan
bagiku, bagi keluarga. Namun sebagai Uda, aku malu betul. Ingin rasanya aku
juga kembali merasakan nuansa itu, belajar ilmu agama. Kiranya bisa di timur
tengah pula. Hendaknya aku bisa beberapa ilmu, diantaranya berbahasa Arab, juga
ilmu fiqih, serta hendaknya aku punya hafalan Al-Quran yang kuat lagi dhabit
pula
Sekejap lalu aku begitu tergiur
ingin bisa belajar di Inggris atau negara barat lainnya tentang ekonomi. Namun
dikala aku balik ke kampung, kiranya bukanlah yang demikian yang diminta orang
sini. Berguna dikampung artinya bisa menjadi imam, bisa mendakwah, berceramah,
juga bisa memimpin doa. Itulah yang aku rasakan benar. Orang tak meminta kita
pintar-pintar betul, kalau kiranya kepintaran itu menjerumuskan diri dan orang.
Tak pula mesti kaya-kaya betul, jika seandainya hanya dinimkati sendiri. Orang
meminta kita berguna, mau diajak beriya, senang diajak berkata. Itulah yang diminta dalam pergaulan.
Uda, amanah anak tertua memang
memiliki tantangan tersendiri, harus banyak berlapang dadanya, namun juga
hendak pula banyak ilmunya sehingga dapat dicontoh. Kini aku berharap, jika
sekiranya Allah masih memberi aku kesempatan banyak untuk menuntut ilmu agama,
jalan itulah yang ingin aku tempuh. Semoga ada jalannya. Untuk kemanfaatan
bermasyarakat, berIslam, dan berbangsa.


No comments:
Post a Comment