Semua jendela rumah telah ditutup,
tudung sudah tersingkap, makanan ringan pun sudah siap, tak lupa aku pintu pun
telah dikunci, artinya kami sekeluarga siap untuk berangkat. Hari itu kami
hendak pergi ke seputaran danau Maninjau. Meninjau keelokan alam yang tersuguh
disana. Meski danau Maninjau terletak di kabupaten Agam, tak begitu jauh dari
rumahku, namun sekalipun aku belum mengunjunginya. Ditambah pula dengan kondisi
jalan menuju danau vulkanik tersebut cukup curam, harus melewati belokan yang
terkenal dengan nama Kelok 44.
Tentu tak hanya itu saja yang
menjadi daya tarik kami. Sambil meninjau Danau Maninjau, nampaklah plang nama
yang menunjukkan arah museum Buya Hamka, sosok ulama dan sastrawan Indonesia yang
terkenal se-jazirah rumpun melayu. Sebagai pengagum Hamka, ini adalah momen
penting untuk menapak tilasi hidup masa kecil beliau, di negari yang
membesarkan ulama besar itu, kampung Tanah Sirah nagari Sungai Batang.
Mobil berbelok ke kiri untuk
menuju museum itu, sambil kami bercerita mengenang jasa-jasa Ketua MUI pertama
itu. Aku pribadi begitu menyukai cara buya Hamka bertutur dalam buku-bukunya,
seakan aku juga berada dimasa beliau. Kisah buya bisa kita jumpai dalam banyak
buku seumpama “Kenang-Kenangan Hidup dan Ghirah”. Atau pula ilustrasi
perjumpaan beliau mengenai adat-istiadat Indonesia yang digambarkan apik dalam
roman-roman terkenal seumpama “Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk, Dibawah
Naungan Kakbah, Merantau ke Deli, Tuan Direktur, dan Angkatan Baru”. Kesemua
apik dibahasakan dalam gaya tulisan Melayu Lama.
Tak salah kiranya kami terbuai
dalam cerita mengenai kisah beliau, hingga kami tak sadar, tak juga kami
melihat tanda-tanda adanya museum itu. Tanpa sadar, tatkala aku bertanya dimana
letak museum rumah Buya Hamka, kiranya kami telah lewat 4 km dari perjalanan.
Patutlah kami hanya mendapati rumah-rumah penduduk yang kecil lagi jarang di
jalan yang juga hanya bisa dilewati satu kendaraan saja. Sunyi betul, apalagi
disebelah kanan jalan hanyalah air tenang danau Maninjau yang menemani
perjalanan, juga dikiri hanya terdapat tebing tinggi. Itulah pertama kali aku menelusuri danau terkenal itu.
Mobil berbalik arah, untuk menuju
tujuan aku sampai bertanya hingga tiga kali agar museum itu tak terlewat pula.
Ternyata memang posisinya berada diatas tebing, hingga sekilas tak nampak oleh
pengendara. Disanalah aku melihat dimana buya disebarkan. Patutlah buya
mengalirkan karya yang indah, betapa tidak, setiap hari matanya disuguhkan oleh
air danau yang tenang. Amboy, romantis betul panoramanya.
Alhamdulillah, sore kami sampai
disana, disambut oleh cucu buya yang setia menunggu mengunjung. Aku melihat
beberapa dokumen buku buya yang sengaja dipajang disana. Kadang miris juga aku
melihat, mungkin rata-rata pengunjung museum hanya sepuluh orang seminggu, itu
mungkin rombongan pula. Salutnya, justru orang jauh yang peduli, yang dekat
tidak tahu, atau mungkin tidak tertarik. Ku baca, pengunjungnya justru datang
dari Malaysia, Amerika, Jakarta dan Depok, yang dekat tak tampat di daftar
nama. Namun demikian, hal itu tak mengurangi besarnya pengabdian buya untuk
bangsa ini.
Perjalanan berlanjut, dilanjut
makan sambal dan lauk buatan Ama, saat sengaja kami duduk tepi kedai disalah
satu sisi danau. Indah betul rasanya momen kali ini. Di negeri yang mana adat
tak lekang oleh panas, dan tak lapuk oleh hujan ini, kami menemukan sosok yang
patut dicontoh jalan hidupnya. Kelak, aku bermimpi bisa meneruskan perjuangan
beliau. Buya Hamka.


No comments:
Post a Comment