- Definisi
Pesantren
Pesantren, pondok pesantren, atau sering
disingkat pondok atau ponpes, adalah sekolah Islam berasrama yang
terdapat di Indonesia. Pendidikan
di dalam pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Qur'an dan Sunnah Rasul,
dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata
bahasa-bahasa Arab. Para pelajar pesantren (disebut sebagai santri) belajar
di sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren. Institusi
sejenis juga terdapat di negara-negara lainnya; misalnya di Malaysia dan
Thailand Selatan yang disebut sekolah pondok, serta di India dan
Pakistan yang disebut
madrasah Islamia. (www.wikipedia.com)
Pesantren
termasuk salah satu lembaga keagamaan yang secara khusus selain membimbing
santrinya bisa menguasai ilmu keagaamaannya, juga membentuk watak yang karimah
dari santri yang dididiknya tersebut. Setidaknya ada tujuh ciri khas pesantren:
- Pondok
- Masjid
- Pengajaran kitab-kitab klasik
atau kitab kuning
- Santri
- Kyai
- Sistem pengajaran yang khas
- Sistem sorogan atau atau sistem
weton, dan tujuan utama pendidikannya lebih bersifat spiritual
dibandingkan material.
Pesantren telah berkembang sejak
abad ke-16 di Indonesia. Peran pesantren dalam perjuangan bangsa Indonesia
sangatlah besar artinya bagi perjuangan bangsa Indonesia. Hal tersebut sangat
penting mengingat Belanda dan para penjajah lainnya ketika itu membatasi masyarakat dalam menuntut ilmu. Hanya
segelintir orang beruntunglah yang bisa menikmati pendidikan umum ala barat dan
mereka itupun harus mengabdi pada pemerintahan penjajah. Tapi dengan adanya
pesantren, masyarakat kalangan bawah tetap bisa menikmati pendidikan.
- Memajukan Pesantren
Sebagai suatu lembaga ilmu keagamaan
tertua di Indonesia, pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh yang berkompeten
diberbagai bidang, diantaranya:
- Dr. Hidayat Nurwahid (mantan Ketua
MPR RI)
- KH. Hasyim
Muzadi (Ketua PB Nahdlatul
Ulama)
- Prof. Nurkholish Madjid mantan (Rektor Universitas Paramadina)
- Dr. Din
Syamsuddin (Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)
- KH. Abdurrahman Wahid, salah seorang kyai
yang terkenal, adalah mantan Presiden Republik Indonesia. (www.wikipedia.com)
Keberhasilan pesantren
telah melahirkan jutaan alumnus yang berkualitas memang terbukti secara nyata.
Kesan pesantren sebagai lembaga yang hanya bercokol di bidang keagamaan pun
kini mulai sirna. Peran pesantren sudah merambah di berbagai bidang, tidak
hanya membahas masalah fiqih, tasawuf, aqidah, faro’id dan ilmu agamanya
lainnya, tapi kini juga memperdalam ilmu umum lainnya. Tapi semua ini butuh
proses, masih banyak kendala-kendala yang dihadapi pesantren saat ini, oleh
karena itu diperlukan solusi konkret untuk memajukan pesantren diberbagai
bidang. Berikut ini beberapa solusi mengenai permasalahan pesantren yaitu:
1.
Bidang Sosial-Agama
Rasulullah
Saw, “Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat.” Hadis
Riwayat Ahmad, Bukhari, Tarmidzi (putraeka.org)
Hadits populer tersebut
menyuruh agar senantiasa berbagi dengan sesama muslim. Ada dua makna yang dapat
ambil dari hadits tersebut, yaitu makna sosial dan makna agama. Dalam bidang
sosial kita dituntut untuk bergaul dengan siapa saja, walaupun orang itu beda
suku ataupun beda bangsa, tetap harus ada interaksi antar sesama manusia
sekalipun ada konflik yang terjadi setelahnya. Sedangkan yang kedua adalah
makna di bidang agama, maksudnya adalah siapapun manusia yang terlahir muslim
dia wajib menyampaikan kembali ilmu yang telah diperolehnya. Islam tak memandang
apakah orang itu hanyalah santri biasa ataupun ulama besar, tapi Islam mengajarkan
kita semangat dakwah dalam menegakkan agama Islam, inilah makna dibalik hadits
shahih bukhori tersebut.
Dalam membentuk lulusan
pesantren yang berkualitas dibidang sosial dan agama perlu adanya suatu rujukan
yang patut ia jadikan tokoh, misalnya Hasan Al-Banna. Menurut Robert Jackson,
“Dalam lima belas tahun Al-Banna kerap mengembara, ia telah mengunjungi 2000
desa, adakalanya satu desa di kunjungi lebih dari satu kali.” (Yusuf, 2002: 49)
Untuk mengembangkan ilmu
yang telah mereka dapat untuk disebarkan ke masyarakat. Untuk mewujudkan hal
tersebut, pesantren bisa mengoordinasikan kepada seluruh santri yang ada di
pondok pesantren untuk membuat organisasi kedaerahan di lingkungan pesantren
itu. Misalnya bagi santri yang berasal dari daerah Bandung mereka harus membuat
organisasi santri asal Bandung.
Tugas yang dibebankan
kepada mereka yaitu saat mereka pulang ke daerah asalnya, kumpulan santri
tersebut diwajibkan untuk membuat agenda acara seperti pesantren kilat dan
bakti sosial. Pesantren kilat itu diurus oleh santri sendiri dan ditujukan
kepada masyarakat. Setelah mereka balik ke pesantren asalnya, pihak lembaga
langsung meminta pertanggungjawaban hasil kerja mereka. Dengan begitu akan
tercetak lulusan pesantren yang siap dipakai dimasyarakat.
Selain itu perlu juga
dibentuk tim khusus yang dikelola oleh para santri yaitu tim penyusun buletin
pesantren. Isi dari buletin tersebut nantinya berisi dakwah sekaligus promosi
pesantren ke masyarakat luas. Dengan ini santri dapat menambah pengalamannya
dalam menyebarkan agama Islam melalui tulisan, pesantren pun mendapat
keuntungan karena bisa lebih dikenal di masyarakat.
2.
Bidang Ekonomi
Bidang ekonomi adalah
salah satu bidang yang menentukan kemajuan suatu pesantren. Tanpa ekonomi yang
kuat, sebuah pesantren belum tentu bisa tetap konsisten dalam mencetak generasi
penerus bangsa yang berkompeten dibidangnya. Untuk itu pesantren juga harus
turut andil dalam mencetak lulusan yang handal dalam mengelola ekonomi.
Rasulullah saw adalah
salah seorang yang sukses dalam bidang ekonomi di masa mudanya. Satu riwayat mengatakan bahwa
beliau menikahi Siti Khodijah dengan seratus unta pilihan sebagai maskawinnya.
Itu menunjukkan kemapanan ekonomi yang dimiliki Rasulullah ketika itu. Ada
beberapa altelnatif dalam meningkatkan kelihaian santri dalam bidang ekonomi
ini, yang pertama pesantren menyediakan kesempatan berjualan bagi para santri.
Setiap santri diberi giliran untuk keluar pesantren menjual barang dagangannya
(baik buatan sendiri ataupun bukan) kepada masyarakat. Pesantren memberi modal
kepada santri untuk membeli barang
dagangan itu.
Didalam lingkungan
pesantren, pihak pesantren juga menyediakan kantin yang diurus sendiri oleh
para santri. Dengan cara itu santri akan dilatih kemandiriannya dalam mencari
pendapatan. Yang kedua adalah santri diberi kesempatan untuk mengusulkan
anggaran perbelanjaan pesantren. Disini santri akan belajar kritis dalam
memecahkan masalah keuangan. Dan yang ketiga diberi lahan untuk bercocok tanam,
dan nantinya hasil panen dari tanaman itu akan dipakai untuk keperluan makan
dalam pesantren ataupun untuk dijual kembali kemasyarakat.
Intinya adalah pesantren
harus menumbuhkan semangat berdagang dalam jiwa santri karena Islam mengajarkan
untuk memajukan perekonomian umatnya. Seperti menurut buku Islam dan Teologi
Pembebasan menyebutkan bahwa Islam lahir diwilayah perdagangan Mekah. Pada
kenyataannya, Mekah waktu itu adalah pusat perdagangan dan perbelanjaan
internasional. (Engineer, 2006: 121)
3.
Bidang Kebudayaan
Munculnya pesantren di
Indonesia disinyalir sebagai salah satu lembaga keislaman yang telah mengakar
budaya sejak lama. Adanya pesantren itu berawal dari beberapa orang yang ingin
memperdalam ilmu agamanya ke ulama yang terkenal di wilayahnya. Lama kelamaan
jumlah orang yang menuntut ilmu agama itu semakin bertambah banyak dan
timbullah inisiatif untuk membuat pondok untuk para santri yang ingin mendalami
ilmu agama. Dari situlah awal mula adanya pondok pesantren.
Berawal dari budaya,
maka sebagian besar pesantren juga mengembangkan ilmu kebudayaan di
lingkungannya. Banyak pesantren di Indonesia yang beradaptasi dengan lingkungan
budaya masyarakat sekitar pesantren itu. Ketika pesantren berada di daerah
sunda, maka pesantren juga menyesuaikan dengan budaya sunda tersebut. Begitu
juga jika pesantren itu berada di daerah jawa, maka dia biasanya membawa
tradisi budaya jawa. Hal itu agar pesantren diterima dilingkungan masyarakat
sekitarnya, tapi catatan pentingnya adalah tetap harus sesuai koridor syari’at
Islam.
Sunan Kalijaga adalah
salah seorang ulama yang menggabungkan kebudayaan dakwah dan budaya dalam
menyebarluaskan agama Islam di daerah Jawa. Sunan Kalijaga terkenal pintar
dalam memainkan wayang dan gamelan. Keahliannya itu menjadi andalannya dalam
mengembangkan Islam. Masyarakat yang ingin melihat pertunjukan wayangnya harus
mengucap basmallah dan syahadat
terlebih dahulu. Dengan cara itu, berbondong-bondonglah masyarakat yang
masuk Islam ketika itu.
Peran pesantren dalam
menciptakan lulusan yang berkompeten dibidang kebudayaan adalah mewadahi
seluruh minat santri. Budaya yang dimaksud berupa budaya yang berkaitan dengan
misi dakwah keislaman. Implementasi dari kebudayaan tersebut yaitu seperti mengembangkan
kesenian. Setiap pesantren harus memberi jam tambahan kepada santrinya untuk
meningkatkan kemampuan seni dan kebudayaan daerah. Misalnya untuk daerah sunda,
maka perlu dikembangkan budaya alat musik angklung. Selain diajarkan cara
memainkan angklung itu, santri juga diajarkan tentang lagu-lagu yang
bernafaskan Islam. Ketika kedua hal itu dikembangkan maka akan membentuk watak
santri Islami yang mencintai budaya.
Contoh penerapan hal
tersebut telah dilakukan oleh santri Pesantren Persatuan Islam Cibatu, Garut. Di
pesantren itu terdapat pengembangan budaya alat musik calung khas Garut.
Pertunjukan calung mereka sering diundang oleh masyarakat seingga masyarakat
menadi kagum. Dengan cara itu mereka semakin diterima di masyarakat dan bahkan
jumlah santri yang sekolah ke pesantren itu semakin banyak sebab ingin juga
memainkan dan menguasai alat musik calung.
4.
Bidang Pendidikan
Pendidikan adalah salah
satu bidang yang sangat menentukan berkualitas atau tidaknya seorang lulusan
pesantren. Dengan pendidikan yang memadai seorang lulusan pesantren bisa
berpartisipasi banyak dalam kemajuan lingkungan tempat tinggalnya nanti. Pada
bidang pendidikan ini perlu dikembangkan seni berbicara dikalangan para santri.
Selain diajarkan materi fiqih, tasawuf, mantiq, aqidah dan ilmu agama lainnya,
hendaklah pesantren menyediakan ruang untuk mewadahi pendidikan dakwah santri.
Di Pesantren Persatuan
Islam Tarogong secara rutin diadakan ceramah santri setelah shalat ba’da
Ashar, ba’da Maghrib dan ba’da Isya. Dan setelah itu diadakan
evaluasi terhadap yang dilakukan santri yang berceramah. Secara singkat, santri
yang baru masuk sekitar setahun di pesantren sudah mempunyai bekal berdakwah
dilingkungan tempat tinggalnya.
Dalam mengembangkan
bidang pendidikan di pesantren, santri perlu diajarkan berbagai model
pembelajaran. Salah satu model
pembelajaran yang diterapkan adalah sistem halaqoh atau berkumpul
melingkar antara ustadz atau pembimbing (murobbi) dengan santrinya. Sistem ini
sering dipakai oleh ulama syahid Hasan Al-Banna. Dalam sistem halaqoh ini,
sangat dianjurkan untuk membaca al-qur’an secara bersama terlebih dahulu,
membaca al-qur’an dapat menenangkan hari sehingga jembatan penjerat antara
ustadz dan para santri dapat terputus. Setelah proses tersebut, sang murobbi
mulai menyampaikan ilmu-ilmu yang dimilikinya, dan sesekali memberikan
kesempatan kepada santri untuk bertanya. Diakhir pembelajaran diadakan
tanya-jawab diluar materi, biasanya membahas seputar problem santri dalam
belajar, dengan cara ini murobbi dapat mendekatkan diri dengan para santri yang
diajarnya dan juga membuat santri lebih nyaman dalam menuntut ilmu. Sistem ini
juga bisa diterapkan oleh santri senior kepada santri yang lebih junior. Jadi
diharapkan dengan sistem ini rasa
kekeluargaan antarsantri semakin terjalin erat, khususnya bagi pesantren yang
santrinya berasal dari berbagai daerah.
Dalam bidang pendidikan
ini yang paling penting santri ditekankan untuk menyampaikan ilmunya ke
masyarakat luas. Jim Rhon mengatakan, “Pengetahuan tanpa dipraktikkan bisa
berdampak pada kegagalan dan kekecewaan.” (Elfiky, 2010: 95)
5.
Bidang Sains-Teknologi
Dalam bidang
sains-teknologi banyak sekali kendala yang dihadapi oleh pesantren untuk
mengembangkan kualiitas para santri lulusannya. Kendalanya antara lain
persoalan dana yang dihadapi oleh pesantren itu sendiri dan yang kedua kemauan
santri untuk menguasai bidang sains dan teknologi itu, hal tersebut dipicu
karena kenbayakan santri lebih mengutamakan ilmu agama dan sedikit
mengenyampingkan ilmu umum.
Dalam mengatasi
permasalahan tentang dana, pesantren bisa mencari bantuan dengan donator yang
mendukung kemajuan pendidkan agama Islam. Sedangkan untuk masalah kurangnya
minat santri ini, perlu ditanggulangi dengan mengadakan sosialisasi tentang
manfaat ilmu sains-teknologi. Hal ini juga
telah dilaksanakan oleh Pesantren Persatuan Islam Tarogong pada Desember
2011 lalu. Sosialisasi itu diselenggarakan bekerjasama dengan Mahasiswa UNIKOM
Bandung. Selain itu semangat santri ini juga ditunjang dengan ikut
dikirimkannya beberapa santri ke berbagai lomba di bidang sains dan teknologi.
6.
Semua Bidang
Kualitas lulusan
pesantren diberbagai bidang tetap menjadi fokus utama yang harus ditingkatkan
oleh lembaga pesantren. Seperti visi dan misi lembaga pesantren Persatuan Islam
Tarogong yaitu, “Terwujudnya pesantren sebagai miniatur masyarakat yang islami
dan lembaga pendidikan unggulan dalam membina insan berakhlak karimah yang
tafaqquh fiddin dan menguasai IPTEK”. (Persis Tarogong, 2010: 2)
Setelah mengidentifikasi
berbagai permasalahan dan pemecahannya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
pesantren bisa mencetak generasi bangsa yang berkompeten dengan syarat harus
memberi ruang gerak sebesar-besarnya bagi santri untuk mengembangkan dirinya.
Dr. Robert Schuller mengatakan, “Anda tidak akan pernah sukses bila anda tidak
memulainya. Jangan jadikan setiap kesulitan sebagai dalih untuk tidak melakukan
tidakan.” (Elfiky, 2010:105)
Salah satu agar seorang
santri bisa mngembangkan dirinya di berbagai bidang adalah dengan cara membuat
satu tim buletin ataupun majalah pesantren. Di sana santri akan belajar
bagaimana caranya untuk menyatukan semua aspirasi mereka serta bisa juga
berdakwah melalui tulisan. Santri juga akan belajjar menguasai teknolgi dan
sains agar majalahnya diterima dimasyarakat. Hasil pembuatan majalah itu nanti
bisa dijual atau di distribusikan ke daerah lingkungan pesantrennya, dengan
cara itu mereka bisa belajar menguasai ilmu ekonomi.
Di bidang pendidikan
seorang santri juga akan berusaha mencari ilmu sebanyak-banyaknya agar isi
majalah mereka itu benar-benar berkualitas dan layak untuk dibaca. Dan
merekapun bisa memasukkan unsur kebudayaan pesantren mereka ke dalam majalah
itu. Dengan begitu ketika santri menamatkan pendidikannya di pesantren, mereka
telah siap menjadi panutan masyarakat bahkan menjadi pemimpin bangsa ini.


No comments:
Post a Comment