Pages

PERAN PESANTREN DALAM MENCETAK GENERASI IDAMAN

  1. Definisi Pesantren
Pesantrenpondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sekolah Islam berasrama yang terdapat di Indonesia. Pendidikan di dalam pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Qur'an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa-bahasa Arab. Para pelajar pesantren (disebut sebagai santri) belajar di sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren. Institusi sejenis juga terdapat di negara-negara lainnya; misalnya di Malaysia dan Thailand Selatan yang disebut sekolah pondok, serta di India dan Pakistan yang disebut madrasah Islamia. (www.wikipedia.com)
Pesantren termasuk salah satu lembaga keagamaan yang secara khusus selain membimbing santrinya bisa menguasai ilmu keagaamaannya, juga membentuk watak yang karimah dari santri yang dididiknya tersebut. Setidaknya ada tujuh ciri khas pesantren:
  1. Pondok
  2. Masjid
  3. Pengajaran kitab-kitab klasik atau kitab kuning
  4. Santri
  5. Kyai
  6. Sistem pengajaran yang khas
  7. Sistem sorogan atau atau sistem weton, dan tujuan utama pendidikannya lebih bersifat spiritual dibandingkan material.
Pesantren telah berkembang sejak abad ke-16 di Indonesia. Peran pesantren dalam perjuangan bangsa Indonesia sangatlah besar artinya bagi perjuangan bangsa Indonesia. Hal tersebut sangat penting mengingat Belanda dan para penjajah lainnya ketika itu membatasi  masyarakat dalam menuntut ilmu. Hanya segelintir orang beruntunglah yang bisa menikmati pendidikan umum ala barat dan mereka itupun harus mengabdi pada pemerintahan penjajah. Tapi dengan adanya pesantren, masyarakat kalangan bawah tetap bisa menikmati pendidikan.

  1. Memajukan Pesantren
Sebagai suatu lembaga ilmu keagamaan tertua di Indonesia, pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh yang berkompeten diberbagai bidang, diantaranya:
  1. Dr. Hidayat Nurwahid (mantan Ketua MPR RI)
  2. KH. Hasyim Muzadi (Ketua PB Nahdlatul Ulama)
  3. Prof. Nurkholish Madjid mantan (Rektor Universitas Paramadina)
  4. Dr. Din Syamsuddin (Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)
  5. KH. Abdurrahman Wahid, salah seorang kyai yang terkenal, adalah mantan Presiden Republik Indonesia. (www.wikipedia.com)
Keberhasilan pesantren telah melahirkan jutaan alumnus yang berkualitas memang terbukti secara nyata. Kesan pesantren sebagai lembaga yang hanya bercokol di bidang keagamaan pun kini mulai sirna. Peran pesantren sudah merambah di berbagai bidang, tidak hanya membahas masalah fiqih, tasawuf, aqidah, faro’id dan ilmu agamanya lainnya, tapi kini juga memperdalam ilmu umum lainnya. Tapi semua ini butuh proses, masih banyak kendala-kendala yang dihadapi pesantren saat ini, oleh karena itu diperlukan solusi konkret untuk memajukan pesantren diberbagai bidang. Berikut ini beberapa solusi mengenai permasalahan pesantren yaitu:
1.      Bidang Sosial-Agama
Rasulullah Saw, “Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat.” Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari, Tarmidzi (putraeka.org)

Hadits populer tersebut menyuruh agar senantiasa berbagi dengan sesama muslim. Ada dua makna yang dapat ambil dari hadits tersebut, yaitu makna sosial dan makna agama. Dalam bidang sosial kita dituntut untuk bergaul dengan siapa saja, walaupun orang itu beda suku ataupun beda bangsa, tetap harus ada interaksi antar sesama manusia sekalipun ada konflik yang terjadi setelahnya. Sedangkan yang kedua adalah makna di bidang agama, maksudnya adalah siapapun manusia yang terlahir muslim dia wajib menyampaikan kembali ilmu yang telah diperolehnya. Islam tak memandang apakah orang itu hanyalah santri biasa ataupun ulama besar, tapi Islam mengajarkan kita semangat dakwah dalam menegakkan agama Islam, inilah makna dibalik hadits shahih bukhori tersebut.
Dalam membentuk lulusan pesantren yang berkualitas dibidang sosial dan agama perlu adanya suatu rujukan yang patut ia jadikan tokoh, misalnya Hasan Al-Banna. Menurut Robert Jackson, “Dalam lima belas tahun Al-Banna kerap mengembara, ia telah mengunjungi 2000 desa, adakalanya satu desa di kunjungi lebih dari satu kali.” (Yusuf, 2002: 49)
Untuk mengembangkan ilmu yang telah mereka dapat untuk disebarkan ke masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pesantren bisa mengoordinasikan kepada seluruh santri yang ada di pondok pesantren untuk membuat organisasi kedaerahan di lingkungan pesantren itu. Misalnya bagi santri yang berasal dari daerah Bandung mereka harus membuat organisasi santri asal Bandung.
Tugas yang dibebankan kepada mereka yaitu saat mereka pulang ke daerah asalnya, kumpulan santri tersebut diwajibkan untuk membuat agenda acara seperti pesantren kilat dan bakti sosial. Pesantren kilat itu diurus oleh santri sendiri dan ditujukan kepada masyarakat. Setelah mereka balik ke pesantren asalnya, pihak lembaga langsung meminta pertanggungjawaban hasil kerja mereka. Dengan begitu akan tercetak lulusan pesantren yang siap dipakai dimasyarakat.
Selain itu perlu juga dibentuk tim khusus yang dikelola oleh para santri yaitu tim penyusun buletin pesantren. Isi dari buletin tersebut nantinya berisi dakwah sekaligus promosi pesantren ke masyarakat luas. Dengan ini santri dapat menambah pengalamannya dalam menyebarkan agama Islam melalui tulisan, pesantren pun mendapat keuntungan karena bisa lebih dikenal di masyarakat.
2.      Bidang Ekonomi
Bidang ekonomi adalah salah satu bidang yang menentukan kemajuan suatu pesantren. Tanpa ekonomi yang kuat, sebuah pesantren belum tentu bisa tetap konsisten dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkompeten dibidangnya. Untuk itu pesantren juga harus turut andil dalam mencetak lulusan yang handal dalam mengelola ekonomi.
Rasulullah saw adalah salah seorang yang sukses dalam bidang ekonomi  di masa mudanya. Satu riwayat mengatakan bahwa beliau menikahi Siti Khodijah dengan seratus unta pilihan sebagai maskawinnya. Itu menunjukkan kemapanan ekonomi yang dimiliki Rasulullah ketika itu. Ada beberapa altelnatif dalam meningkatkan kelihaian santri dalam bidang ekonomi ini, yang pertama pesantren menyediakan kesempatan berjualan bagi para santri. Setiap santri diberi giliran untuk keluar pesantren menjual barang dagangannya (baik buatan sendiri ataupun bukan) kepada masyarakat. Pesantren memberi modal kepada santri untuk  membeli barang dagangan itu.
Didalam lingkungan pesantren, pihak pesantren juga menyediakan kantin yang diurus sendiri oleh para santri. Dengan cara itu santri akan dilatih kemandiriannya dalam mencari pendapatan. Yang kedua adalah santri diberi kesempatan untuk mengusulkan anggaran perbelanjaan pesantren. Disini santri akan belajar kritis dalam memecahkan masalah keuangan. Dan yang ketiga diberi lahan untuk bercocok tanam, dan nantinya hasil panen dari tanaman itu akan dipakai untuk keperluan makan dalam pesantren ataupun untuk dijual kembali kemasyarakat.
Intinya adalah pesantren harus menumbuhkan semangat berdagang dalam jiwa santri karena Islam mengajarkan untuk memajukan perekonomian umatnya. Seperti menurut buku Islam dan Teologi Pembebasan menyebutkan bahwa Islam lahir diwilayah perdagangan Mekah. Pada kenyataannya, Mekah waktu itu adalah pusat perdagangan dan perbelanjaan internasional. (Engineer, 2006: 121)
3.      Bidang Kebudayaan
Munculnya pesantren di Indonesia disinyalir sebagai salah satu lembaga keislaman yang telah mengakar budaya sejak lama. Adanya pesantren itu berawal dari beberapa orang yang ingin memperdalam ilmu agamanya ke ulama yang terkenal di wilayahnya. Lama kelamaan jumlah orang yang menuntut ilmu agama itu semakin bertambah banyak dan timbullah inisiatif untuk membuat pondok untuk para santri yang ingin mendalami ilmu agama. Dari situlah awal mula adanya pondok pesantren.
Berawal dari budaya, maka sebagian besar pesantren juga mengembangkan ilmu kebudayaan di lingkungannya. Banyak pesantren di Indonesia yang beradaptasi dengan lingkungan budaya masyarakat sekitar pesantren itu. Ketika pesantren berada di daerah sunda, maka pesantren juga menyesuaikan dengan budaya sunda tersebut. Begitu juga jika pesantren itu berada di daerah jawa, maka dia biasanya membawa tradisi budaya jawa. Hal itu agar pesantren diterima dilingkungan masyarakat sekitarnya, tapi catatan pentingnya adalah tetap harus sesuai koridor syari’at Islam.
Sunan Kalijaga adalah salah seorang ulama yang menggabungkan kebudayaan dakwah dan budaya dalam menyebarluaskan agama Islam di daerah Jawa. Sunan Kalijaga terkenal pintar dalam memainkan wayang dan gamelan. Keahliannya itu menjadi andalannya dalam mengembangkan Islam. Masyarakat yang ingin melihat pertunjukan wayangnya harus mengucap basmallah dan syahadat  terlebih dahulu. Dengan cara itu, berbondong-bondonglah masyarakat yang masuk Islam ketika itu.
Peran pesantren dalam menciptakan lulusan yang berkompeten dibidang kebudayaan adalah mewadahi seluruh minat santri. Budaya yang dimaksud berupa budaya yang berkaitan dengan misi dakwah keislaman. Implementasi dari kebudayaan tersebut yaitu seperti mengembangkan kesenian. Setiap pesantren harus memberi jam tambahan kepada santrinya untuk meningkatkan kemampuan seni dan kebudayaan daerah. Misalnya untuk daerah sunda, maka perlu dikembangkan budaya alat musik angklung. Selain diajarkan cara memainkan angklung itu, santri juga diajarkan tentang lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Ketika kedua hal itu dikembangkan maka akan membentuk watak santri Islami yang mencintai budaya.
Contoh penerapan hal tersebut telah dilakukan oleh santri Pesantren Persatuan Islam Cibatu, Garut. Di pesantren itu terdapat pengembangan budaya alat musik calung khas Garut. Pertunjukan calung mereka sering diundang oleh masyarakat seingga masyarakat menadi kagum. Dengan cara itu mereka semakin diterima di masyarakat dan bahkan jumlah santri yang sekolah ke pesantren itu semakin banyak sebab ingin juga memainkan dan menguasai alat musik calung.
4.      Bidang Pendidikan
Pendidikan adalah salah satu bidang yang sangat menentukan berkualitas atau tidaknya seorang lulusan pesantren. Dengan pendidikan yang memadai seorang lulusan pesantren bisa berpartisipasi banyak dalam kemajuan lingkungan tempat tinggalnya nanti. Pada bidang pendidikan ini perlu dikembangkan seni berbicara dikalangan para santri. Selain diajarkan materi fiqih, tasawuf, mantiq, aqidah dan ilmu agama lainnya, hendaklah pesantren menyediakan ruang untuk mewadahi pendidikan dakwah santri.
Di Pesantren Persatuan Islam Tarogong secara rutin diadakan ceramah santri setelah shalat ba’da Ashar, ba’da Maghrib dan ba’da Isya. Dan setelah itu diadakan evaluasi terhadap yang dilakukan santri yang berceramah. Secara singkat, santri yang baru masuk sekitar setahun di pesantren sudah mempunyai bekal berdakwah dilingkungan tempat tinggalnya.
Dalam mengembangkan bidang pendidikan di pesantren, santri perlu diajarkan berbagai model pembelajaran.  Salah satu model pembelajaran yang diterapkan adalah sistem halaqoh atau berkumpul melingkar antara ustadz atau pembimbing (murobbi) dengan santrinya. Sistem ini sering dipakai oleh ulama syahid Hasan Al-Banna. Dalam sistem halaqoh ini, sangat dianjurkan untuk membaca al-qur’an secara bersama terlebih dahulu, membaca al-qur’an dapat menenangkan hari sehingga jembatan penjerat antara ustadz dan para santri dapat terputus. Setelah proses tersebut, sang murobbi mulai menyampaikan ilmu-ilmu yang dimilikinya, dan sesekali memberikan kesempatan kepada santri untuk bertanya. Diakhir pembelajaran diadakan tanya-jawab diluar materi, biasanya membahas seputar problem santri dalam belajar, dengan cara ini murobbi dapat mendekatkan diri dengan para santri yang diajarnya dan juga membuat santri lebih nyaman dalam menuntut ilmu. Sistem ini juga bisa diterapkan oleh santri senior kepada santri yang lebih junior. Jadi diharapkan dengan sistem ini  rasa kekeluargaan antarsantri semakin terjalin erat, khususnya bagi pesantren yang santrinya berasal dari berbagai daerah.
Dalam bidang pendidikan ini yang paling penting santri ditekankan untuk menyampaikan ilmunya ke masyarakat luas. Jim Rhon mengatakan, “Pengetahuan tanpa dipraktikkan bisa berdampak pada kegagalan dan kekecewaan.” (Elfiky, 2010: 95)
5.      Bidang Sains-Teknologi
Dalam bidang sains-teknologi banyak sekali kendala yang dihadapi oleh pesantren untuk mengembangkan kualiitas para santri lulusannya. Kendalanya antara lain persoalan dana yang dihadapi oleh pesantren itu sendiri dan yang kedua kemauan santri untuk menguasai bidang sains dan teknologi itu, hal tersebut dipicu karena kenbayakan santri lebih mengutamakan ilmu agama dan sedikit mengenyampingkan ilmu umum.
Dalam mengatasi permasalahan tentang dana, pesantren bisa mencari bantuan dengan donator yang mendukung kemajuan pendidkan agama Islam. Sedangkan untuk masalah kurangnya minat santri ini, perlu ditanggulangi dengan mengadakan sosialisasi tentang manfaat ilmu sains-teknologi. Hal ini juga  telah dilaksanakan oleh Pesantren Persatuan Islam Tarogong pada Desember 2011 lalu. Sosialisasi itu diselenggarakan bekerjasama dengan Mahasiswa UNIKOM Bandung. Selain itu semangat santri ini juga ditunjang dengan ikut dikirimkannya beberapa santri ke berbagai lomba di bidang sains dan teknologi.
6.      Semua Bidang
Kualitas lulusan pesantren diberbagai bidang tetap menjadi fokus utama yang harus ditingkatkan oleh lembaga pesantren. Seperti visi dan misi lembaga pesantren Persatuan Islam Tarogong yaitu, “Terwujudnya pesantren sebagai miniatur masyarakat yang islami dan lembaga pendidikan unggulan dalam membina insan berakhlak karimah yang tafaqquh fiddin dan menguasai IPTEK”. (Persis Tarogong, 2010: 2)
Setelah mengidentifikasi berbagai permasalahan dan pemecahannya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pesantren bisa mencetak generasi bangsa yang berkompeten dengan syarat harus memberi ruang gerak sebesar-besarnya bagi santri untuk mengembangkan dirinya. Dr. Robert Schuller mengatakan, “Anda tidak akan pernah sukses bila anda tidak memulainya. Jangan jadikan setiap kesulitan sebagai dalih untuk tidak melakukan tidakan.” (Elfiky, 2010:105)
Salah satu agar seorang santri bisa mngembangkan dirinya di berbagai bidang adalah dengan cara membuat satu tim buletin ataupun majalah pesantren. Di sana santri akan belajar bagaimana caranya untuk menyatukan semua aspirasi mereka serta bisa juga berdakwah melalui tulisan. Santri juga akan belajjar menguasai teknolgi dan sains agar majalahnya diterima dimasyarakat. Hasil pembuatan majalah itu nanti bisa dijual atau di distribusikan ke daerah lingkungan pesantrennya, dengan cara itu mereka bisa belajar menguasai ilmu ekonomi.

Di bidang pendidikan seorang santri juga akan berusaha mencari ilmu sebanyak-banyaknya agar isi majalah mereka itu benar-benar berkualitas dan layak untuk dibaca. Dan merekapun bisa memasukkan unsur kebudayaan pesantren mereka ke dalam majalah itu. Dengan begitu ketika santri menamatkan pendidikannya di pesantren, mereka telah siap menjadi panutan masyarakat bahkan menjadi pemimpin bangsa ini.

No comments:

Post a Comment