Terpikir juga olehku PROPEKA itu,cepat kilat, mengagetkan pikiranku. Bagai suara meriam yang yang memekakkantelinga, cepat dan berdentung keras di jantung. Dan seperti arus listrik yangmengetarkan jiwa manusia, kepayahan aku dibuatnya. Sedang tak lama lagiwaktuku, hanya dua tiga hari dari sekarang, dengan beban hafalan yang disiapkan.
Tapi tak mau pula aku terlarut dalam kebingungan itu, kucari juga apa yang mesti ku perbuat. Ya, aku harus cari lagi informasi tentang propeka. Facebook, ya disanalah pusat informasi semua itu. Kucarilah segera warnet terdekat, hilir mudik kulangkahkan laki. Kencang baksrigala yang mengejar mangsanya, oh tidak, atau saja bagai mangsa yang dikejarsrigala. Ah, sudahlah, aku mau cari berita tambahan itu secepatnya, karena takmungkin pula bekal PROPEKA hanya hafalan saja, pikirku.
Akhirnya kutemukan juga sebuah spandukbertuliskan NET, oh dibelakang tulisan NET itu ada Latansa kiranya. Jadilah nama tempat itu Latansa NET, nah tempat inilah yang kucari, sebuah warnet. Tak berselang lama, reflek saja aku pakai daya arus pendek otakku, cepat, kencang, mengagetkan. Dan benar saja, kumpulan kata itu kini menumpuk di depan pupil mataku. Baju putih panjang tangan, celana hitam, pantofel, dasi hitam, gesper(apa ituu? :O), susu cair, teko, gelas, STMJ (hah? benda apalagi ini?), tolakangin, dan puluhan benda aneh lainnya mesti kusiapkan. (Dalam kamus bahasa Indonesia mesti=harus, so, alat-alat diatas harus dibawa).
Latansa, Latansa, Latansaaaaa, setidaknya nama warnet yang satu ini memang ada manfaatnya. Hampir saja kutinggalkan warnet itu begitu saja, hoho, untung saja aku kembali melihat spanduk bertuliskan Latansa NET. Seakan tulisan itu berkata, “Latansa (janganlupa) lal, info PROPEKAnya dicatat.” Oh ya, hampir lupa. Sedetik berselang, tiba-tibaada suara dari arah depan telinga kiriku, “Eh dek, Latansa (jangan lupa) bayar.”Dan, aku pun malu.
Oke, kini informasi sudah di tangan.Tapi aku bingung, kemana mesti kucari semua alat itu. Dan ini bukan perkaramudah, aku orang baru di sini, Depok. Dan tak tau apa-apa. Ditengah bingung, temanku Bambang berkata padaku.
“Akh, alat PROPEKA sudah lengkap?”
“Wah, belum nih. Antum gimana? Sudah?”
“Ana juga belum.”
“Trus gimana nih? Kita beli dimana?”
“Ke Bogor aja akh?”
“Bogor? Lah, kita kan tinggal di Depok, ngapain jauh-jauh ke Bog…”
Tak sempat ku sanggah, dengan gagahnya Bambang menarik tanganku. Appaaa yang dipikirkan oleh anak itu aku tak tau. Biarlah, biarkan nasib yang membawa ku pada kumpulan barang itu. Tak bisa tidak, harus ada. Sebab disinilah perjuanganku di STEI SEBI dimulai, pikirku.
Lima belas menit telah berlalu, aku masih terlarut dalam lamunanku, lamunan yang tak mestinya terjadi, tapi tetap terjadi. Aku jadi ingat Enam tahun lalu aku saat Masa Orientasi Sekolah (MOS) bersama tiga ratus teman lainnya. Dibawah terik sang surya, ratusan jiwa jadi korban pawai. Seakan kita festival daerah dengan mengadopsi konsep tradisional modern, kami menjadi pusat perhatian se Kota Payakumbuh.
Betapa tidak, muncul tiba-tibadari sudut kota, kita beratus jiwa memamerkan pakaian Islami dengan dibalut tasdari karung goni, plus peci hitam yang dibuat khusus dari bahan pilihan seperti kertas karton dan lem. Dan kalaulah mereka tau apa isi tas goni kami, mereka pasti mengira kami asosiasi pedagang asongan, ada pisang, nasi, aqua gelas,sedikit alat tulis, pulpen dan aksesoris pelengkap lainnya. Haha, lengkap sudahkesengsaraan kami. Bahkan nyamuk di sampingku ikut tertawa, kujitak saja kepalanya. Kita aku yang tertawa. Mati kau.
“Lal, lihat itu!”, lamunanku hilang, dikagetkan Bambang.
“Apa?”
“Kita udah di Bogor?”
“Lah, kok cepet banget?”
“Tuuh…”, sambil menunjuk ke sebuah gapura.
Haha, ternyata bogor yang dimaksud Bambang adalah Parung. Memang benar, posisi kampusku ada di Kecamatan BojongSari, Kota Depok berbatasan langsung dengan Parung Bogor. Aku baru sadar,bingung, gembira. Sadar karena posisi Bojongsari itu berbatasan dengan Bogor,seperti yang pernah ku lihat di peta tempo hari. Bingung karena bisa sampai Bogor dengan jalan kaki. Gembira sebab sebentar lalu aku akan menemukan target barang Propeka ku.
Sampai juga aku pada tujuanku. Pasar Parung, begitu namanya. Para pencari barang hilir-mudik kesana kemari, mencari barang pilihannya. Pun aku yang semenjak tadi diajak oleh Bambang untuk berputar keliling pasar. Berbagai tingkah laku pedagang pun ku tengok, ada yang tak acuh seakan tak mau lagi cari untung, ada yang teriak memekik memekakkan telinga, ada juga yang dengan gaya sok pahamnya menarik pelanggan. Haha, begitu juga pembeli, banyak pula yang malu-malu segan membeli barang pilihannya. Yah, begitulah hidup, banyak karakter dan pilihan sikap, pikirku.
Satu perlima jam berlalu, tak jua kutemukan barang itu, adapun ku temukan, harganya tak pas di kantongku. Hingga aku temukan sebuah toko seragam. Dasi, oh ya dasi hitam.
“Bang, harganya berapa?”
“Delapan ribu”, ucapnya ketus seperlunya.
“Lima ribu ya bang?”
“Gak dapet dek.”
“Enam ribu.”
“Gak bisa”, jawabnya pendek.
“Tujuh ribu.”
“Gak bisa dek.”
“Okedeh, delapan ribu”
“Ya”
Huh, membosankan, penawaran pertama yang gagal. Memang salah aku membeli pada pedagang yang tak niat dagang. Tapi biarlah, ku ikhlaskan saja untuk sedekah. Aku dan Bambang pun berlalu. Tak mau terulang dengan kejadian pertama, kita giliranku pura-pura cuek.
“Silahkan masuk dek”
“Bang, ada pantofel?”
“Oh ya silahkan sebelah sini banyak.”
“Oh gitu ya, coba saya lihat”
“Inidek dicoba dulu.”
“Iya bang”
“Wah pantes banget dek, mirip artis dah. Cocok banget buat dipakai kerja. Adek, mau kerja kan?”
“Biasa aja bang. Berapa bang?”
“120 dek”
“Ah, biasanya aja ga nyampe gitu. 70 bang.”
“Wah, gak dapet dek. Mana ada harga sepatu segitu.”
“Yaudah, gak jadi beli deh bang.”
“Seratus dek”
“Gak mau bang”
“Sembilan puluh”
“Tujuh puluh aja bang.”
“Yaudah, terakhir deh. Kasian sama abang, ntar kalau 70 abang ga dapet untung, 80 aja deh.”
“Hmm, deal.”
Dan pantofel pun kini berpindah kaki dari penjual ke kaki ku. Hmm, dua ilmu baru ku dapat. Pertama, jangan cari pedagang yang tak niat dagang, biasanya harga tak bisa turun. Kedua, jadi pembeli cuek yang baik, karena jika kau memperlihatkan wajah butuh ke sebuah barang, maka harga akan cenderung mahal.
Matahari mulai penat menyinari bumi,sepertinya ia ingin berganti shiff dengan rembulan. Pangeran awan pun merubah warna putih eloknya menjadi hitam pekat. Semut-semut kecil berkerumun berlarike mulut sarangnya, pun sekelompok kalong mulai bangun dari tidur siang panjangnya, ingin mencari makan dimalam hari. Dua jam aku berkeliling, akhirnya lengkaplah sudah segala keperluan propeka. Tinggal menunggu hari, dan segera resmilah kami berstatus mahasiswa. Mahasiswa, ooh mahasiswa.. :D
Bersambung….

No comments:
Post a Comment