Saya sama sekali belum memiliki banyak gambaran sebelumnya tentang Aceh hingga akhirnya pertama kali menginjakkan kaki Bandara Sultan Iskandar Muda pada 27 November 2023. Mungkin pada umumnya orang ketika mendengar Aceh akan ingat dengan Mie Aceh, pusat kerajaan Islam pertama kali di Indonesia dan penerapan syariat Islamnya. Ya, memang tidak salah, namun hal tersebut belum menggambarkan secara keseluruhan tentang negeri Aceh.
Setelah satu setengah bulan saya bermukim di Aceh, satu per satu fakta selaku orang yang menumpang hidup sebentar di negeri Serambi Mekah ini. Pertama, masyarakatnya sangat ramah dan memiliki jiwa melayani. Hampir setiap pagi saya dan kawan-kawan Program Persiapan Studi Lanjut (PPSL) lainnya makan di salah satu warung yang menyediakan sarapan bagi kami. Setiap itu pulang pedagangnya selalu menyapa kami. Orang Aceh ini baik, ramah dan dermawan. Kalau pergi ke tempat wisata, jarang memanfaatkan momen dengan me-mark up harga atau menarik tarif parkir yang berlebihan. Sesuatu yang pada umumnya agak sering terjadi di beberapa daerah lainnya.
Kedua, sanger adalah minuman populer di Aceh. Berdasarkan informasi dari Prof. Dr. Syahrizal Abbas (10/01/2024), sanger dulunya muncul dari kebiasaan mahasiswa yang ingin minum kopi namun tak punya bekal banyak dari kampungnya. Singkat cerita, ketika dulunya harga kopi penuh (gelas penuh) harganya Rp 2.000, mahasiswa tersebut memesan Rp 500 yang berarti memesan 1/4 gelas. Namun karena kurang air, ia tambahkan lagi air putih (gratis). Akhirnya jadi setengah gelas. Karena hambar, ia tambahkan lagi gula (gratis), karena kemanisan ditambahkan lagi air putih (gratis). Akhirnya harga yang Rp 500 tadi menjadi segelas kopi penuh. Hal tersebut diulang-ulang terus berkali-kali, hingga akhirnya pedagang kopi mengerti keadaan mahasiswa, begitupun sebaliknya. Jadi sanger itu bisa diartikan sebagai saling ngerti atau sama-sama ngerti. Seiring perkembangan waktu, gula tadi diganti menjadi susu kental manis, seperti sanger yang kita lihat hari ini, sanger itu adalah kopi dicampur susu kental manis. Kisaran harganya berkisar Rp 7.000 sampai Rp 10.000 per gelasnya.
Ketiga, Aceh memiliki kekayaan alam yang amat indah. Kontur alam Aceh memadukan indahnya pantai dan laut lepas, dan perbukitan yang mengelilinginya. Di antara pantai dan bukit, membentang sawah yang luas. Dengan demikian, suhu di Aceh tidaklah begitu panas karena perpaduan pantai yang notabene dataran rendah dan dikelilingi oleh perbukitan. Ketika ke Kota Sabang pun demikian. Kota Sabang yang wilayahnya meliputi Pulau Weh dan pulau-pulau lain disekitarnya memiliki alam yang amat indah. Daerah Kota Sabang jika ditelusuri akan kita lewati dengan lika-liku jalan menanjak, menurun dan berbelok-belok. Belum lagi lautnya yang biru asrinya pulau yang masih terawat, akan memanjakan mata kita. Bagi saya pribadi, Kota Sabang adalah kota yang sangat ramah anak dan sangat cocok untuk liburan keluarga.
Keempat, penerapan syariat Islam yang membudaya di Aceh. Sebagai pendatang, saya mengamati beberapa peristiwa menarik di Aceh. Misalnya, saat waktu-waktu shalat, warung-warung akan tutup paling tidak 10-15 menit sebelum dan sesudah azan. Pada waktu maghrib misalnya, toko-toko akan tutup, lampu akan dimatikan dan tidak menerima transaksi jual-beli. Bukti lain adalah, tidak ada lagi lembaga keuangan konvensional di Aceh, semuanya sudah berganti menjadi Bank Syariah. Meskipun di jalan-jalan masih ada logo bank konvensional, namun itu hanyalah logo yang tersisa dari beroperasinya bank konvensional sebelumnya. Jika memasuki wilayah Aceh, pilihannya adalah Bank Aceh itu sendiri yang sudah syariah sejak 2016, Bank BSI, Bank Muamalat, Bank BTN Syariah (hingga Januari 2024 ini masih belum bergabung dengan BSI), Bank BCA Syariah dan bank syariah serta Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) lainnya. Disisi lain, Aceh adalah tempat bagi penerapan adanya hukum pidana Islam seperti hukum cambuk. Selain itu, Meunasah (Mushalla) menjadi pusat kegiatan masyarakat Aceh, dan Tengku (Ulama) memiliki peran yang amat sentral bagi kehidupan keberagamaan di Aceh.
Masih banyak hal menarik yang dapat kita lihat dan amati di Aceh. Semuanya menunjukan keanekaragaman budaya dalam bingkai Indonesia. Teurimong Geunaseh.






No comments:
Post a Comment