Pages

TELADAN DARI APA

50 tahun, tentu saja bukan usia yang muda lagi untuk menuntut ilmu. Namun, itulah yang dicontohkan oleh Apa pada kami semua, anaknya. Di usia beliau yang sudah setengah abad tersebut, semangat Apa untuk belajar justru mengalahkan kami. Karena beliau begitu menjiwai setiap perkuliahan yang diikutinya. Beliau pernah bercerita bagaimana serunya kelas Prof. Ayzumardi Azra, telitinya Prof. Abudin Nata, dan pengalaman beliau sekelas dengan Para Dekan di UIN Sultan Syarif Kasim, Riau.

Masih lekang dalam ingatan, saat aku masih bersekolah di MTsN Payakumbuh, Apa mengajak kami ke Padang. Aku belum terlalu mengerti ketika itu, belakangan aku baru paham bahwa Apa sedang mendaftarkan diri di Program Doktoral IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN). Meski dalam perjalanan waktu ada beberapa kendala yang membuat Apa mengambil cuti beberapa kali, namun semangat beliau tidaklah padam.

Menurut kami anaknya, Apa adalah sosok yang visioner. Berpikir dan melakukan sesuatu di saat hal tersebut belum populer di zamannya. Saat S1 masih menjadi hal yang asing di kalangan para guru, namun pada masanya Apa rela mengendarai motor dari Kecamatan Kapur IX (Kab. 50 Kota) untuk menempuh berkuliah di STAIN Batusangkar. Jika diperkirakan, jarak yang Apa tempuh lebih dari 110 km atau 3 jam mengendarai sepeda motor. Alhamdulillah, tahun 2003 Apa lulus.

Selanjutnya, tahun 2004 Apa pindah tugas ke Kecamatan Harau, disanalah kini kami tinggal sampai sekarang. Tanpa berpikir panjang, Apa langsung melajutkan studi di STIH IBLAM yang saat itu membuka kelas jarak jauh di Payakumbuh. Belakangan aku baru tahu bahwa kampus yang berpusat di Depok ini juga menjadi almamater Ketua MK sekarang.  Alhamdulillah, tahun 2006 Apa kembali menamatkan S2.

Sebuah kebanggaan tentunya bagi Apa yang saat itu ditemani Ama wisuda di Jakarta Convetion Center. Meski lagi-lagi kami sebagai anak belum mengerti betul bahwa Apa begitu gigih dalam menempuh pendidikan. Kegigihan Apa dalam baru kami pahami sekarang, karena kini memahami betul betapa kerasnya usaha yang mesti dikeluarkan saat bersekolah. Apalagi Apa yang saat itu harus membagi beberapa peran, baik untuk bekerja, belajar dan mendidik anaknya.

Apa pernah bercerita, bahwa dulu ketua kelasnya di masa perkuliahan S3 adalah yang paling muda diantara yang lainnya. Dulu sang ketua kelas itu masih guru SMP, dan memang sangat rajin baik menulis mulai dari aktif di kelas bahkan juga menulis di media massa lokal dan nasional. Apa yang terjadi selanjutnya? Akhirnya setelah lulus beliau diambil menjadi dosen di tempatnya berkuliah.

Ramadhan lalu Apa juga berjumpa sahabat lamanya yang dulu sekelas di masa-masa kuliah, beliau ini dosen di UIN Suska Pekanbaru. Setelah lama berjuang, kawan Apa itu akhirnya menuntaskan studi Doktoralnya. Beliau nampak begitu lega karena akhirnya menyelesaikan studinya tersebut. Beliau bilang, ada satu hal yang tidak bisa dihargai dengan apapun yakni kepuasan batin.

Sekitar dua minggu lalu, kami menemani Apa ke Padang untuk melaksanakan Ujian Komprehensi Lisan. Sekali lagi, Apa tampak semangat lebih dari biasanya. Aku bisa membaca, ada mimpi yang hidup dalam proses studinya kali ini. Selesai ujian, Apa makin semangat lagi karena menikmati betul proses ujian yang dilewatinya tadi. Dalam perjalanan pulang, dengan tatapan berbinar Apa berpesan,  "Alhamdulillah Apa sudah sampai titik ini. Mohon do'anya agar segera rampung. Jikapun Apa lulus, tak lama Apa menikmati manisnya Doktoral, sebab usia jua. Sebab itu, jika kalian punya kesempatan itu, ambillah nak. Bismillah."

Aku bisa paham, bahwa pendidikan memang bukan satu-satunya penentu kesejahteraan/welfare seseorang. Namu, Apa selalu mengajarkan bahwa kita mempersiapkan diri kita dengan tools-tools kecakapan dan skill untuk berkontribusi dalam bermasyarakat. Selanjutnya, biar Allah yang menentukan kemana arah takdir dan tanah pengabdian kita.

Mobil kembali melaju, dan pesan Apa pun masih terngiang di kepala ku.

Yogyakarta, 1 Juli 2019

No comments:

Post a Comment