Oleh: Zilal Afwa Ajidin*
Sebagai anggota G-20,
Indonesia saat ini mempunyai andil besar dalam perekonomian dunia. Posisi
Indonesia menjadi daya tarik tersendiri, dengan total 240 juta penduduk,
Indonesia menjadi negara dengan tingkat konsumen terbesar se-Asia Tenggara. Itu
artinya 40% pangsa pasar ASEAN ada di Indonesia. Apalagi dengan pertumbuhan
ekonomi yang konsisten diatas 6%, posisi Indonesia semakin magnet bagi negara
ASEAN lainnya.
Kita harus bisa
menangkap peluang ini. Agar kita mampu berdaya saing, pemerintah dan pelaku
usaha Indonesia harus berbenah. Salah
satu aspek yang harus dibenahi adalah sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah). Sebab sektor ini terbukti telah berhasil menjadi tulang punggung
perekonomian nasional. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada
tahun 2007 jumlah populasi UMKM mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99 persen
dari jumlah unit usaha. Dari jumlah sebanyak itu, UMKM berhasil menyerap tenaga
kerja sebesar 91,8 juta pekerja. Jumlah itu terus meningkat, dan terbukti pada
tahun 2009 jumlah populasi UMKM mencapai 52,7 unit atau meyerap 96,21 pekerja.
Kontribusi UMKM nasional terhadap PDB sebesar Rp 2.121,3 triliun atau 53,6%.
Ini melebihi kontribusi PDB negara ASEAN lainnya seperti, Malaysia, Myanmar,
Filipina, Brunei dan Laos yang kontribusi UMKMnya dibawah 45%.
Namun potensi sektor
UMKM ini bukan tanpa masalah, setidaknya ada beberapa kendala yang dihadapi
oleh pelaku usaha UMKM ini. Pertama, kurangnya modal dan akses yang
masih minim ke lembaga keuangan. Hal ini membuat usaha yang dijalankan UMKM ini
cenderung stagnan. Pelaku UMKM kesulitan memenuhi orderan skala besar. Kedua,
kurangnya skill managerial dari pelaku UMKM, karena rata-rata pelaku usahanya
berpendidikan rendah. Ketiga, terkendala dalam hal pemasaran, karena
rata-rata UMKM masih berfokus pada penjualan skala lokal. Keempat, packaging
yang tidak menarik, hal ini sering membuat produk UMKM Indonesia kalah bersaing
dengan produk skala besar negara lain.
Faktor-faktor diatas kemudian menyebabkan UMKM Indonesia kalah
bersaing dibandingkan negara lain. Dan dari empat faktor, penyebab terbesar
penyebab kurang berkembangnya UMKM adalah lemahnya aspek pembiayaan. Menurut
Wardoyo dan Hendro Prabowo, kesulitan modal adalah kendala utama UMKM dengan
prosentasi 40,48% dari indeks seluruh kendala
yang dihadapinya.
Dilematis memang, disatu sisi perbankan ingin menyalurkan kreditnya,
agar terjadi perputaran uang pada bank tersebut. Sehingga bank akan mendapat
keuntungan dari penyaluran kredit itu. Disisi lain ada UMKM yang siap menampung
dana dari perbankan itu, sebab ingin mengembangkan usahanya menjadi skala yang
lebih besar. Namun dana dari bank sering sekali tidak tersalurkan ke UMKM.
Ada dua faktor utama penyebab tidak tersalurkannya pembiayaan dari
bank ke UMKM. Pertama, lembaga keuangan kurang menaruh kepercayaan pada
pihak UMKM. Sebab rata-rata UMKM tidak mempunyai laporan keuangan yang jelas,
padahal itu menjadi syarat yang penting agar pihak bank yakin UMKM tersebut bisa mengembalikan modalnya
kepada pihak bank. Kedua, kurang tersosialisasikannya informasi mengenai
pembiayaan dari lembaga keuangan. UMKM masih kesulitan menjangkau akses dana ke
bank, sebab tidak tahu dan tidak mengerti persyaratan pengajuan pembiayaannya.
Sedangkan bank pun susah mencari nasabah UMKM, karena daya jangkau unit bank
relatif terbatas. Berdasarkan survey dari CPA Australia, kemudahan akses
pembiayaan bank Indonesia hanya mencapai 35% saja. Indonesia masih kalah jika
dibandingkan dengan Singapura dan Selandia Baru yang kemudahan akses
pembiayaannya masing-masing mencapai 41% dan 46%.
Memang ini bukan perkara mudah. Perlu kerja keras semua pihak untuk
membenahi ini semua. Bank dan lembaga keuangan harus semakin gencar menjadi
para debiturnya, agar perputaran dana semakin lancar. Pelaku UMKM harus jeli
dan intens mencari pembiayaan kepada lembaga keuangan dan bank, agar usahanya
semakin maju. Dan kita sebagai masyarakat Indonesia, harus mulai mencintai dan
membeli produk dalam negeri. Sebab ada denyut kehidupan dalam setiap produk
UMKM anak bangsa yang kita beli. Ayo, selamatkan ekonomi Indonesia!
*Penulis adalah
Mahasiswa Manajemen Perbankan Syariah STEI SEBI Depok
kunjungi juga : sebi.ac.id


No comments:
Post a Comment