Dalam dua dekade terakhir, ada yang unik dari perekonomian Indonesia. Hal
itu seiring berkembangannya ekonomi syariah yang relatif baru dalam
perekonomian bangsa ini. Ekonomi syariah mulai berkembang seiiring dengan
munculnya Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama pada tahun 1992.
Kebangkitan ekonomi Islam ini kian berlanjut sejak dikeluarkannya UU nomor 10
tahun 1998. Undang-undang ini yang membolehkan setiap bank konvensional membuka
divisi perbankan syariah. Dan hingga saat ini, sudah terdapat 12 Bank Umum
Syariah di Indonesia.
Disisi lain, kita lihat mulai banyak komunitas yang mendorong kemajuan sistem
ekonomi syariah ini. Terbukti dengan munculnya organisasi Masyarakat Ekonomi
Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), dan Forum Silaturrahmi Studi
Ekonomi Islam (FoSSEI). Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat pada kemajuan
ekonomi Islam. Kemajuan ini makin terdorong sejak diresmikannya Gerakan Ekonomi
Syariah (GRES) oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal
17 November 2013 lalu. Terbukti saat ini asset perbankan syariah Indonesia
telah mencapai Rp 234 Triliun. Itu setara dengan 4,79% seluruh asset perbankan
nasional.
Di dunia pendidikan, mulai banyak pula bermunculan berbagai sekolah dan
perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan ekonomi syariah ini. Salah
satunya adalah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI yang berlokasi di
Bojongsari, Depok. Pada prakteknya, kampus yang berdiri pada 29 Oktober 1998 ini
telah banyak melahirkan praktisi dan ahli di bidang ekonomi syariah. Kini
diusianya yang hampir menginjak 16 tahun, STEI SEBI terus konsisten mengkaji
dan mendalami ilmu ekonomi islam.
Dengan segala pengalamannya dalam mengembangkan ekonomi islam , STEI SEBI
memiliki beberapa keunggulan. Pertama,
berlokasi di tempat strategis. Dengan letak kampus yang berada di Depok,
memungkinkan para pengajar handal yang ada di Indonesia ikut andil dalam
membimbing mahasiswanya. Selain itu, mahasiswa bisa dengan mudah menjangkau
lokasi kampus, karena diapit oleh kota besar lainnya seperti Jakarta, Depok dan
Tangerang. Kedua, fokus mendalami
ekonomi islam. Saat ini di STEI SEBI terdapat dua jurusan, antara lain
Manajemen Perbankan Syariah dan Akuntansi Syariah. Disatu sisi, hal ini menjadi
kekurangan kampus yang masih menyediakan sedikit pilihan jurusan. Tapi disisi
lain, ini menjadi keunggulan kampus. Sebab mahasiswa bisa benar-benar fokus
mengkaji dan mendalami ekonomi islam.
Ketiga, dosen yang profesional.
Belum banyak kampus yang bisa mendatangkan dosen yang fokus mengajar ekonomi
islam. Bahkan dibeberapa tempat, kampus malah kewalahan mencari dosen yang bisa
mengajar ekonomi islam. Kondisi ini berbeda dengan STEI SEBI, sebab tenaga
pengajar yang ahli di bidang ekonomi islam sangat banyak. Itu tak terlepas dari
kebijakan kampus yang memberdayakan para alumni yang berprestasi untuk kembali
mengajar di STEI SEBI. Keempat,
terdapat program mentoring (pembinaan rohani) dan banyaknya organisasi
mahasiswa. Inilah yang menjadi ciri khas utama STEI SEBI. Dengan diwajibkannya
mentoring bagi seluruh mahasiswa, memungkinkan kampus mengontrol sikap dari peserta
didiknya. Ditambah lagi dengan banyak organisasi mahasiswa, membuat mahasiswa
bisa mengembangkan dirinya dengan baik.
Dengan beberapa keunggulan diatas, STEI SEBI saat ini menjadi salah satu
kampus yang sangat diminati, khususnya bagi calon mahasiswa yang ingin
mempelajari ekonomi islam. Namun tidak bisa dipungkiri, masih ada beberapa
kekurangan yang mesti diperbaiki. Untuk beberapa kalangan memang kampus yang
dulunya berlokasi di Ciputat ini cukup dikenal. Tetapi belum cukup tenar bila
dibandingkan perguruan tinggi lain. Selain itu, sosialisasi kampus tentang
ekonomi islam masih terpusat di sekitar Jawa Barat dan Jakarta. Selain itu,
lemahnya sinergi antara tiap organisasi mahasiswa dan pihak akademik kampus,
membuat upaya memajukan ekonomi islam ini terkesan jalan ditempat. Tidak ada flow up jangka panjang yang dirasakan.
Inilah yang harus dibenahi, jika STEI SEBI kedepannya.
Untuk membenahi beberapa kekurangan ini, ada beberapa langkah yang mesti
dilakukan. Pihak kampus harus membuat satu tim yang bisa disebut dengan “Tim
Juara Kampus”. Tim ini terdiri dari perwakilan tim media tiap-tiap organisasi
mahasiswa. Saat ini memang terdapat banyak organisasi di STEI SEBI, tiap
organisasi memiliki blog nya masing-masing. Sayangnya ini kurang terberdayakan.
Beberapa organisasi struktural di STEI SEBI antara lain, Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) yang fokus di bidang politik. Ada juga Islamic Economic Forum (IsEF), fokus mengkaji ekonomi islam secara
mendalam. Serta terdapat pula SEBI
Solidarity for Palestine (SSP) yang fokus di bidang sosial. Belum lagi beberapa
klub-klub mahasiswa seperti klub sastra dan jurnalistik. Itu belum termasuk
organisasi mahasiswa seperti forum angkatan, forum beasiswa, forum daerah dan
organisasi jurusan. Masing-masing dari organisasi itu mempunyai blog dan tim
medianya masing-masing. Disisi lain, STEI SEBI juga mempunyai website yang tidak terberdayakan. Jelas
ini menjadi kekurangan tersendiri, sebab banyaknya acara di kampus tidak bisa
terpublikasi dengan baik. Jika diasumsikan jika dalam seminggu, setiap
organisasi membuat dua tulisan per minggu, dan di STEI SEBI terdapat sepuluh
organisasi. Maka dalam seminggu terdapat dua puluh tulisan yang dibuat. Itu
lebih efektif dan bisa mendatangkan banyak pembaca. Jadi langkah pertama, harus
ada “Tim Juara Kampus” yang diambil dari tim media masing-masing organisasi
mahasiswa. Misalnya tim media BEM, IsEF, SSP, klub sastra, klub jurnalistik,
forum beasiswa, dan lain-lain. Lalu kampus harus membuat kolom khusus mahasiswa
di web sebi.ac.id. Sehingga rating kampus di dunia maya bisa
meningkat, dan STEI SEBI bisa makin dikenal.
Kedua, “Tim Juara Kampus” harus membuat majalah kampus. Wujud dari
eksistensi kampus bisa tercermin dari seberapa sering acara di kampus bisa
terdokumentasikan. Dan untuk menyatukan itu semua mesti ada tim yang fokus mewujudkan
itu. Dengan memanfaatkan setiap komponen organisasi mahasiswa, maka STEI SEBI
bisa membuat majalah kampus. Sebab di kampus-kampus besar di Indonesia, majalah
kampus menjadi salahsatu indikasi kemajuan pembinaan kampus itu. Minimal,
dengan adanya majalah ini, sinergi masih-masing organisasi mahasiswa dapat
terjalin dengan baik. Sehingga dampak kemajuan kampus dapat dirasakan semua
mahasiswa.
Ketiga, “Tim Juara Kampus” harus membuat program halaqoh ekonomi islam. Kegiatan
ini bisa dilakukan kepada mahasiswa yang berminat mendalami ekonomi islam.
Sasarannya bisa juga pada pelajar SMA yang juga fokus mengkaji ekonomi Islam. Dan
mentornya adalah, mahasiswa-mahasiswa terbaik di STEI SEBI yang memiliki
kecapakan lebih di bidang ekonomi Islam.
Terakhir, “Tim Juara Kampus” juga dipersiapkan untuk mengirim setiap
karyanya ke media cetak maupun online.
Agar kualitas tulisan yang dikirimkan tergolong baik, harus ada dosen yang
dipersiapkan khusus dalam membimbing mahasiswa ini. Hal ini bisa menambah kemampuan
akademik mahasiswa. Dampak lain adalah, kampus lebih dikenal masyarakat. Harapannya
semoga dengan semua langkah tadi, STEI SEBI bisa makin berkembang dan makin
berkenan di hati masyarakat. Jayalah STEI SEBI!
Penulis : Zilal Afwa Ajidin


No comments:
Post a Comment