Pages

TASKU KEMANAA?


Jujur ini memang  murni karena kecerobohanku. Kenalanku Bowo yang asal banten sudah berkali-kali mengingatkan agar aku membawa tas tempat tes. Tapi dengan alasan bahwa tasnya berat, akhirnya aku simpan saja tas itu di samping masjid, tempat yang menurutku cukup aman. Tapi benar yang diucapkan bowo, tak selang berapa lama setelah aku tes wawancara, tak itu sudah tak ada lagi di tempat semula.
            Waktu sudah menunjukkan 11.30, tak lama lagi kaum muslim laki-laki melaksanakan shalat jum’at. Aku bertanya-tanya pada orang yang ada disana, tapi tetap tak ada hasil. Ya sudahlah, barangkali setelah shalat jum’at tasku bisa ditemukan kembali. Semoga saja.
            Sejam berlalu, Rangkaian Shalat Jum’at pun telah selesai, tapi tak kunjung tasku ditemukan. Penjaga masjid yang sudah tau kejadian itu langsung menanyakan keberadaan tasku sebelumnya. Tak hany sampai disana, beberapa mahasiswa dan dosen yang ada disana pun ikut turut tangan. Wah, sebuah pemandangan langka bagiku hari itu. Begitu kompaknya mereka turut bantu menemukan tasku, padahal kalau ku pikir-pikir, tak pantas rasanya orang sepertiku diperhatikan seperti itu.
“Dek, tadi kamu nyimpen tasnya dimana?”, ucap Pak penjaga masjid.
“ Disini pak, deket tiang masjid ini”, ujarku sambil menunjuk ke arah tiang masjid.”
“Lah kok bisa hilang dek”, kalau seorang mahasiswa.
“Gak tau jga kak, tadi saya ikut tes wawancara, trus pas saya balik kesini tasnya udah gak ada.”
“Trus disana ada barang berharga gak dek?”
“Ada kak, disana ada……..”, sambil kusebutkan satu persatu.
“Oh, gitu”
“Syahid tolong Tanya lagi ke yang ada disekitar situ, coba bantuin nyari tasnya”, seorang dosen berkata pad aseorang mahasiswa asal karangpawitan Garut. “Nah, sekarang kamu sabar aja ya dek”, ucapnya lagi padaku.”
            Pencarian tasku berlangsung cukup lama. Tapi aku sangat menikmati pencarian ini, sebab aku merasa mendapat keluarga baru disini. Kepedulian kakak-kakak mahasiswa SEBI membuatku betah berlama-lama disini. Padahal aku siapa, padahal sebelumnya kami belum pernah kenalan, padahal mereka juga punya kesibukan, padahal padahal dan padahal. Tapi semua padahal itu mereka tolak dengan arti sebuah ukhuwah islam.
            Bicara tentang ukhuwah Islam, aku jad teringat malam lalu. Waktu itu aku baru saja sampai di Depok, lalu seorang mahasiswa yang naik sepeda langsung mengucap salam padaku dan a heru. Tadi shubuh pun sama, saat aku baru balik dari masjid, ada juga seorang mahasiswa yang berpapasan denganku mengucap salam dan langsung menjabat tanganku, padahal kami tak kenal. Didalam kos pun sama, aku dipersilahkan tidur di kasur springbed oleh kakak kos asal garut, sedangkan mereka sendiri hanya beralaskan kasur Palembang.
            Nyaman rasanya, tenang, tentram,  dan damai. Apakah dulu saat Rasulullah di Madinah seperti ini? Kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang sebelumnya belum pernah bertemu begitu akrab bagaikan sebuah keluarga. Saat Rasulullah datang, semua berlomba-lomba untuk menjamu kedatangan Rasulullah di rumahnya. Tak sampai disana, pedagang Muhajirin yang tak membawa harta sekoin pun, diberi modal cuma-cuma oleh kaum Anshar. Ah, tapi itu dulu, tapi anehnya hari itu hal seperti itu pun aku rasakan.
            Sambil terus mencari aku jadi ingat sibuknya mahasiswa SEBI pagi itu. Pagi itu hampir semua perkuliahan diliburkan. Sebab BEM SEBI sedang mengadakan TO (Training Organisasi) untuk mahasiswa baru SEBI, hari itu panitia akan mentraining adik-adik tingkatnya di villa puncak Bogor. Saat jam tujuh tadi pagi aku duduk sebentar di teras masjid sambil melihat kegiatan mereka, kuletakkan tasku dekat tas-tas peserta lain, yaitu dekat tiang masjid koridor kiri.
“Yang belum shalat dhuha silahkan shalat dulu, sambil menunggu kedatangan peserta lain”, seorang panitia berkata dengan bantuan sebuah microvon.
            Melihat banyak peserta TO yang ke masjid untuk shalat dhuha, aku pun jadi semangat untuk melakukan aktivitas yang sama. Dan sejak itulah aku meninggalkan tasku disana. Begitu asyiknya aku larut dalam lamunanku hingga akhirnya….
“Dek, kamu tadi nyimpen tas disini ya?”
“Iya pak”
“Sepertinya kebawa sama panitia TO dek.”
“Oh iya, pantesan tadi saya melihat tasmu sesuai ciri-ciri yang kamu ucapkan tadi.”
            Pencarian pun sejenak berhenti. Kak syahid langsung menelpon panitia, kak muhdar tak kalah bersemangatnya membantu ekspedisi pencari tasku.
“Ini lal, udah terhubung sama kak riyan. Coba sebutin lagi ciri-ciri tasmu!”
“Baik kak.”
“Kak riyan, ini Zilal. Kak, disana ada tas Eiger warna hitam dengan gantungan kunci UGM warna merah kuning gak kak?”
“Oh tunggu sebentar. Hmm,, yap ada.”
“Alhamdulillah. Kak, bisa langsung bawa ke SEBI lagi kan kak?”
“Gak tau dek, nanti kalau ada panitia kesana saya kabarin lagi deh.”
“Oke siap kak.”
            Alhamdulillah dadaku yang tadi menyempit, kini lapang lagi. Jantung yang begitu berdegup kencang, kini normal. Kekhawatiran yang tadi memuncak, sekarang turun lagi. Aku, tasku, tasku kita bisa berjumpa lagi. Ternyata kau tak apa-apa kawan. Aku rindu warnamu, aku rindu seisimu, aku rindu tasku.
            Lama menunggu, tasku tak kunjung datang. Ternyata kesibukan, jarak dan lalu lintas yang relatif macet membuat tak satupun panitia yang sempat mengantarkan tasku. Hingga akhirnya kak Endang datang menghampiriku.
“Namamu siapa dek?”
“Zilal kak.”
“Gimana? Tasmu udah kembali?”
“Belum kak.”
“Oh, kalau gitu nanti kita ke puncak menjemput tasmu Tapi saya mau syuro dulu. Kemungkinan kita bisa berangkat maghrib. Gak apa-apa kan?”
“Oh gapapa kak, makasih banyak kak mau bantu.”
“Ya tenang aja. Anggap aja kami disini sebagai keluarga barumu.”
            Seperti sangkaan awalku tadi, semua kakak-kakak mahasiswa disini sangat baik sekali. Pemandangan yang cukup aneh bagiku, tapi ini nyata.
            Sambil menunggu maghrib aku ditanya lagi oleh seorang mahasiswa.
“Dek, darimana?”
“Dari Garut kak.”
“Oh urang Garut, aa ge sami. Sakola dimana dek?”
“Di Pesantren Rancabogo, anu caket simpang lima a. Terang?”
“Terang atuh. Da aa mah baheula sakolana di SPP SPMA Garut.”
“Oh caket pisan atuh a.”
“Muhun. Alhamdulillah akhirna aya deui urang Garut nu sakola didieu. Ngke upami lulus sakosan sareng aa nya. Aa teu aya rerencangan anu urang Garut di kosan.”
“Hmm, kitu a. Yap siip a.”
“Emangna adek bumina dimana?”
“Din padang a.”
“Wah, jauh atuh. Di garut sabahara taun?”
“Nembe tilu tau a.”
“Eh, naha tos tiasa basa Sunda lemes.”
“Eh, teu a. Ieu ge tea acan lancar.”
“Oh muhun atuh.”
            Tak selang berapa lama giliran Kak Fikri yang mendekatiku. Aku dapat bocoran dari Kak Syahid kalau Kak Fikri tuh orang Padang. Dan kali ini giliran aku yang bertanya.
“Dari ma da?”
“Eh, bisa lo bahaso minang tu? Uda dari Solok.”
“Iyo da. Wak emang lamo di Sumbar.”
“Oh gitu. Sakolah di Garut yo? Baa dek bisa sakolah disitu?”
“Iyo da, yo soalnyo ayah awak urang garut pulo”
            Dan kamipun ngobrol mulai dari masalah gempa, MAKN/MAN Koto Baru Padangpanjang, kawanku Azzaki Darwin yang ternyata pernah jadi adik kelas Kak/Uda Fikri, cerita Uda Fikri sampai bisa sekolah di SEBI, sharing tentang arti kehidupan, dan lain-lain. Tak terasa dan maghrib pun menjelang.
            Kak Endang datang, saatnya aku berangkat ke Puncak bersama Kak Endang. Setelah shaalat kamipun bergegas. Tapi sebelum berangkat kami dicegat dulu oleh mantan Ketua BEM SEBI.
“Mau kemana Ndang?”
“Mau nganterin adek ini ke tempat TO kak. Tasnya kebawa sama panitia.”
“Oh mending tidur disini dulu aja, jauh soalnya. Saya besok mau ngisi materi disana. Tapi dicegat sama panitia, katanya jalannya jelek dan gak ada lampu.”
“Tapi kak, saya besok ujian dan butuh tas itu sekarang.”
“Gini aja, sekarang udah larut malam. Kalau kamu ke Puncak dulu kamu baliknya bakal lama. Kasian juga, kemaleman. Emangnya mau berangkat darimana?” “Dari lebak bulus.”
“Bus terakhir yang mau ke Garut jam berapa?”
“Jam setengah sepuluh kak.”
“Iya sekarang udah jam tujuh lebih. Lebih baik kamu berangkat sekarang, nanti tasmu di paket dari sini.”
“Tapi saya mau benar-benar memastikan kalau tas saya itu benar-benar ada.”
“Yaudah, nanti saya hubungi panitia buat ngirim foto tas mu ke saya.”
“Baik lah kak.”
            Lima menit berselang, dan benar, itu tasku Benar-benar tasku. Hatiku pun makin tenang. Akhirnya kak Syahid yang jadi mengantarkanku, pergi ke Lebak Bulus. Walaupun harus seperti ini akhirnya, tapi aku tak sedikitpun menyesali hari itu. Rasa kekeluargaan yang tinggi membuatku terhibur, bahkan merasa punya keluarga baru, walaupun hanya sehari disana.
            Besok Ujian Pesantren hari pertama, sedikitpun aku belum sempat menghafal. Tak apa lah, yang jelas aku besok bisa ujian. Jam dua shubuh akhirnya aku bisa menginjakkan kaki lagi di asrama. Alhamdulillah.
“Pelajaran hidup hari itu, Indahnya kekeluargaan.”

1 comment: