Jujur ini memang murni karena kecerobohanku. Kenalanku
Bowo yang asal banten sudah berkali-kali mengingatkan agar aku membawa tas
tempat tes. Tapi dengan alasan bahwa tasnya berat, akhirnya aku simpan saja tas
itu di samping masjid, tempat yang menurutku cukup aman. Tapi benar yang
diucapkan bowo, tak selang berapa lama setelah aku tes wawancara, tak itu sudah
tak ada lagi di tempat semula.
Waktu sudah menunjukkan 11.30, tak lama lagi kaum muslim laki-laki melaksanakan
shalat jum’at. Aku bertanya-tanya pada orang yang ada disana, tapi tetap tak
ada hasil. Ya sudahlah, barangkali setelah shalat jum’at tasku bisa ditemukan
kembali. Semoga saja.
Sejam berlalu, Rangkaian Shalat Jum’at pun telah selesai, tapi tak kunjung
tasku ditemukan. Penjaga masjid yang sudah tau kejadian itu langsung menanyakan
keberadaan tasku sebelumnya. Tak hany sampai disana, beberapa mahasiswa dan
dosen yang ada disana pun ikut turut tangan. Wah, sebuah pemandangan langka
bagiku hari itu. Begitu kompaknya mereka turut bantu menemukan tasku, padahal
kalau ku pikir-pikir, tak pantas rasanya orang sepertiku diperhatikan seperti
itu.
“Dek, tadi kamu nyimpen tasnya dimana?”, ucap Pak penjaga
masjid.
“ Disini pak, deket tiang masjid ini”, ujarku sambil menunjuk ke
arah tiang masjid.”
“Lah kok bisa hilang dek”, kalau seorang mahasiswa.
“Gak tau jga kak, tadi saya ikut tes wawancara, trus pas saya
balik kesini tasnya udah gak ada.”
“Trus disana ada barang berharga gak dek?”
“Ada kak, disana ada……..”, sambil kusebutkan satu persatu.
“Oh, gitu”
“Syahid tolong Tanya lagi ke yang ada disekitar situ, coba
bantuin nyari tasnya”, seorang dosen berkata pad aseorang mahasiswa asal
karangpawitan Garut. “Nah, sekarang kamu sabar aja ya dek”, ucapnya lagi
padaku.”
Pencarian tasku berlangsung cukup lama. Tapi aku sangat menikmati pencarian
ini, sebab aku merasa mendapat keluarga baru disini. Kepedulian kakak-kakak
mahasiswa SEBI membuatku betah berlama-lama disini. Padahal aku siapa, padahal
sebelumnya kami belum pernah kenalan, padahal mereka juga punya kesibukan,
padahal padahal dan padahal. Tapi semua padahal itu mereka tolak dengan arti
sebuah ukhuwah islam.
Bicara tentang ukhuwah Islam, aku jad teringat malam lalu. Waktu itu aku baru
saja sampai di Depok, lalu seorang mahasiswa yang naik sepeda langsung mengucap
salam padaku dan a heru. Tadi shubuh pun sama, saat aku baru balik dari masjid,
ada juga seorang mahasiswa yang berpapasan denganku mengucap salam dan langsung
menjabat tanganku, padahal kami tak kenal. Didalam kos pun sama, aku
dipersilahkan tidur di kasur springbed oleh kakak kos asal garut, sedangkan
mereka sendiri hanya beralaskan kasur Palembang.
Nyaman rasanya, tenang, tentram, dan damai. Apakah dulu saat Rasulullah
di Madinah seperti ini? Kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang sebelumnya belum
pernah bertemu begitu akrab bagaikan sebuah keluarga. Saat Rasulullah datang,
semua berlomba-lomba untuk menjamu kedatangan Rasulullah di rumahnya. Tak
sampai disana, pedagang Muhajirin yang tak membawa harta sekoin pun, diberi
modal cuma-cuma oleh kaum Anshar. Ah, tapi itu dulu, tapi anehnya hari itu hal
seperti itu pun aku rasakan.
Sambil terus mencari aku jadi ingat sibuknya mahasiswa SEBI pagi itu. Pagi itu
hampir semua perkuliahan diliburkan. Sebab BEM SEBI sedang mengadakan TO
(Training Organisasi) untuk mahasiswa baru SEBI, hari itu panitia akan
mentraining adik-adik tingkatnya di villa puncak Bogor. Saat jam tujuh tadi
pagi aku duduk sebentar di teras masjid sambil melihat kegiatan mereka,
kuletakkan tasku dekat tas-tas peserta lain, yaitu dekat tiang masjid koridor
kiri.
“Yang belum shalat dhuha silahkan shalat dulu, sambil menunggu
kedatangan peserta lain”, seorang panitia berkata dengan bantuan sebuah
microvon.
Melihat banyak peserta TO yang ke masjid untuk shalat dhuha, aku pun jadi
semangat untuk melakukan aktivitas yang sama. Dan sejak itulah aku meninggalkan
tasku disana. Begitu asyiknya aku larut dalam lamunanku hingga akhirnya….
“Dek, kamu tadi nyimpen tas disini ya?”
“Iya pak”
“Sepertinya kebawa sama panitia TO dek.”
“Oh iya, pantesan tadi saya melihat tasmu sesuai ciri-ciri yang
kamu ucapkan tadi.”
Pencarian pun sejenak berhenti. Kak syahid langsung menelpon panitia, kak
muhdar tak kalah bersemangatnya membantu ekspedisi pencari tasku.
“Ini lal, udah terhubung sama kak riyan. Coba sebutin lagi
ciri-ciri tasmu!”
“Baik kak.”
“Kak riyan, ini Zilal. Kak, disana ada tas Eiger warna hitam
dengan gantungan kunci UGM warna merah kuning gak kak?”
“Oh tunggu sebentar. Hmm,, yap ada.”
“Alhamdulillah. Kak, bisa langsung bawa ke SEBI lagi kan kak?”
“Gak tau dek, nanti kalau ada panitia kesana saya kabarin lagi
deh.”
“Oke siap kak.”
Alhamdulillah dadaku yang tadi menyempit, kini lapang lagi. Jantung yang begitu
berdegup kencang, kini normal. Kekhawatiran yang tadi memuncak, sekarang turun
lagi. Aku, tasku, tasku kita bisa berjumpa lagi. Ternyata kau tak apa-apa
kawan. Aku rindu warnamu, aku rindu seisimu, aku rindu tasku.
Lama menunggu, tasku tak kunjung datang. Ternyata kesibukan, jarak dan lalu
lintas yang relatif macet membuat tak satupun panitia yang sempat mengantarkan
tasku. Hingga akhirnya kak Endang datang menghampiriku.
“Namamu siapa dek?”
“Zilal kak.”
“Gimana? Tasmu udah kembali?”
“Belum kak.”
“Oh, kalau gitu nanti kita ke puncak menjemput tasmu Tapi saya
mau syuro dulu. Kemungkinan kita bisa berangkat maghrib. Gak apa-apa kan?”
“Oh gapapa kak, makasih banyak kak mau bantu.”
“Ya tenang aja. Anggap aja kami disini sebagai keluarga barumu.”
Seperti sangkaan awalku tadi, semua kakak-kakak mahasiswa disini sangat baik
sekali. Pemandangan yang cukup aneh bagiku, tapi ini nyata.
Sambil menunggu maghrib aku ditanya lagi oleh seorang mahasiswa.
“Dek, darimana?”
“Dari Garut kak.”
“Oh urang Garut, aa ge sami. Sakola dimana dek?”
“Di Pesantren Rancabogo, anu caket simpang lima a. Terang?”
“Terang atuh. Da aa mah baheula sakolana di SPP SPMA Garut.”
“Oh caket pisan atuh a.”
“Muhun. Alhamdulillah akhirna aya deui urang Garut nu sakola
didieu. Ngke upami lulus sakosan sareng aa nya. Aa teu aya rerencangan anu
urang Garut di kosan.”
“Hmm, kitu a. Yap siip a.”
“Emangna adek bumina dimana?”
“Din padang a.”
“Wah, jauh atuh. Di garut sabahara taun?”
“Nembe tilu tau a.”
“Eh, naha tos tiasa basa Sunda lemes.”
“Eh, teu a. Ieu ge tea acan lancar.”
“Oh muhun atuh.”
Tak selang berapa lama giliran Kak Fikri yang mendekatiku. Aku dapat bocoran
dari Kak Syahid kalau Kak Fikri tuh orang Padang. Dan kali ini giliran aku yang
bertanya.
“Dari ma da?”
“Eh, bisa lo bahaso minang tu? Uda dari Solok.”
“Iyo da. Wak emang lamo di Sumbar.”
“Oh gitu. Sakolah di Garut yo? Baa dek bisa sakolah disitu?”
“Iyo da, yo soalnyo ayah awak urang garut pulo”
Dan kamipun ngobrol mulai dari masalah gempa, MAKN/MAN Koto Baru Padangpanjang,
kawanku Azzaki Darwin yang ternyata pernah jadi adik kelas Kak/Uda Fikri,
cerita Uda Fikri sampai bisa sekolah di SEBI, sharing tentang arti kehidupan,
dan lain-lain. Tak terasa dan maghrib pun menjelang.
Kak Endang datang, saatnya aku berangkat ke Puncak bersama Kak Endang. Setelah
shaalat kamipun bergegas. Tapi sebelum berangkat kami dicegat dulu oleh mantan
Ketua BEM SEBI.
“Mau kemana Ndang?”
“Mau nganterin adek ini ke tempat TO kak. Tasnya kebawa sama
panitia.”
“Oh mending tidur disini dulu aja, jauh soalnya. Saya besok mau
ngisi materi disana. Tapi dicegat sama panitia, katanya jalannya jelek dan gak
ada lampu.”
“Tapi kak, saya besok ujian dan butuh tas itu sekarang.”
“Gini aja, sekarang udah larut malam. Kalau kamu ke Puncak dulu
kamu baliknya bakal lama. Kasian juga, kemaleman. Emangnya mau berangkat
darimana?” “Dari lebak bulus.”
“Bus terakhir yang mau ke Garut jam berapa?”
“Jam setengah sepuluh kak.”
“Iya sekarang udah jam tujuh lebih. Lebih baik kamu berangkat
sekarang, nanti tasmu di paket dari sini.”
“Tapi saya mau benar-benar memastikan kalau tas saya itu
benar-benar ada.”
“Yaudah, nanti saya hubungi panitia buat ngirim foto tas mu ke
saya.”
“Baik lah kak.”
Lima menit berselang, dan benar, itu tasku Benar-benar tasku. Hatiku pun makin
tenang. Akhirnya kak Syahid yang jadi mengantarkanku, pergi ke Lebak Bulus.
Walaupun harus seperti ini akhirnya, tapi aku tak sedikitpun menyesali hari
itu. Rasa kekeluargaan yang tinggi membuatku terhibur, bahkan merasa punya
keluarga baru, walaupun hanya sehari disana.
Besok Ujian Pesantren hari pertama, sedikitpun aku belum sempat menghafal. Tak
apa lah, yang jelas aku besok bisa ujian. Jam dua shubuh akhirnya aku bisa
menginjakkan kaki lagi di asrama. Alhamdulillah.
“Pelajaran hidup hari itu, Indahnya kekeluargaan.”

may you can be the best writer!!!!!!!!!!
ReplyDelete